Kompas.com - Diperbarui 09/03/2022, 19:34 WIB
dr. Achmad Sunarya Soerianata, Sp.JP (K), FIHA
Divalidasi oleh:
dr. Achmad Sunarya Soerianata, Sp.JP (K), FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan. www.mayapadahospital.com

KOMPAS.com - Serangan jantung terjadi saat aliran darah menuju jantung tersumbat.

Penyumbatan dapat disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, atau zat lain yang membentuk plak di arteri yang mengarah pada jantung (arteri koroner).

Plak dapat pecah dan membentuk gumpalan yang menghalangi aliran darah. Aliran darah yang terputus dapat merusak atau menghancurkan bagian dari otot jantung.

Baca juga: Bagaimana Serangan Jantung yang Bisa Sebabkan Kematian?

Serangan jantung merupakan keadaan darurat medis yang harus segera ditangani.

Gejala

Beberapa tanda yang dirasakan seseorang sebelum serangan jantung, umumnya:

  • sakit dada, terasa ditekan atau diremas oleh benda berat
  • nyeri tubuh bagian atas
  • berkeringat
  • mual
  • kelelahan
  • kesulitan bernapas
  • merasa lemah atau pusing, atau keduanya.

Penting untuk diketahui bahwa tidak semua orang mengalami nyeri dada parah, khususnya pada wanita.

Gejala serangan jantung saat tidur, seperti nyeri dada dan muncul keringat dingin penting dikenali untuk dapat dikonsultasikan segera dengan dokter.

Rasa sakit yang tergolong ringan seringkali disalahartikan sebagai gangguan pencernaan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui jika seseorang mengalami serangan jantung adalah dengan mengetahui kombinasi dari gejala yang timbul.

Penyebab

Terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan serangan jantung.

Penyebab paling umum adalah penumpukan plak di arteri (aterosklerosis) yang mencegah masuknya darah ke otot jantung, disebut juga sebagai penyakit jantung koroner (PJK).

Baca juga: Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Tidur, Kenali 4 Gejalanya

Selain itu, serangan jantung juga bisa disebabkan oleh penggumpalan atau robeknya pembuluh darah.

Faktor yang meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, meliputi:

  • Umur. Orang berusia di atas 65 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung
  • Jenis kelamin. Pria lebih rentan terkena serangan jantung ketimbang wanita
  • Riwayat kesehatan keluarga. Jika terdapat riwayat keluarga dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, obesitas, atau diabetes, maka akan lebih rentan
  • Ras. Orang keturunan Afrika memiliki risiko lebih tinggi.

Diagnosis

Untuk mengkonfirmasi jika seseorang memiliki serangan jantung, dokter akan melakukan beberapa tes di bawah ini:

  • Elektrokardiogram (EKG). Alat yang merekam impuls listrik pada jantung. Bacaan dari EKG dapat memberi tahu letak bagian jantung yang terkena gangguan.
  • Tes darah. Beberapa tes darah yang dilakukan setiap empat hingga delapan jam dapat membantu diagnosis serangan jantung. Keberadaan enzim jantung pada darah dapat mengindikasikan adanya kerusakan otot jantung.
  • Ekokardiografi. Rontgen ini dapat memberitahukan letak bagian jantung yang tidak memompa dengan seharusnya.
  • Kateterisasi jantung. Disebut juga cath jantung. Digunakan jika selama jam-jam pertama serangan jantung obat tidak membantu iskemia atau gejala lain yang timbul. Cath jantung dapat memberikan gambaran arteri yang tersumbat dan membantu dokter menentukan perawatan.
  • Tes stres. Pasien akan diminta tes treadmill atau pemindaian radionuklida untuk memeriksa jika area jantung lain masih berisiko terkena serangan jantung lain.

Baca juga: Penyebab Serangan Jantung Mendadak di Usia Muda

Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat diakibatkan oleh serangan jantung, meliputi:

  • gangguan pada ritme normal jantung (aritmia)
  • gagal jantung
  • kebocoran katup jantung

Perawatan

Ketika mendapati seseorang terkena serangan jantung, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membawa ke pusat layanan medis.

Dalam penanganan darurat, pasien akan mendapatkan obat untuk mencegah pembekuan darah lebih lanjut di jantung.

Terapi obat juga bertujuan untuk:

  • mengurangi tekanan pada jantung
  • memecah atau mencegah pembekuan darah
  • menghentikan trombosit yang mengumpulkan dan menempel pada plak
  • menstabilkan plak
  • mencegah lebih banyak iskemia.

Obat harus didapatkan sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan jantung lebih lanjut.

Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, pasien juga dapat mengunyah dan menelan tablet aspirin (idealnya 300 mg) selama tidak memiliki alergi terhadap aspirin.

Aspirin dapat membantu mengencerkan darah dan meningkatkan aliran darah ke jantung.

Baca juga: 4 Gejala Awal Serangan Jantung yang Harus Diwaspadai

Selain terapi obat, operasi juga dapat membantu memperbaiki saluran jantung yang tersumbat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.