Kompas.com - 18/01/2022, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Insufisiensi mitral adalah bentuk paling umum dari penyakit katup jantung. Kondisi ini terjadi saat katup mitral tidak menutup dengan benar dan memungkinkan darah mengalir mundur ke jantung.

Akibatnya, jantung tidak dapat memompa secara efisien sehingga menyebabkan sesak napas dan kelelahan.

Insufisiensi mitral ringan tidak berisiko tinggi, tapi dalam kasus yang lebih parah, kondisi ini dapat menyebabkan hipertensi pulmonal, fibrilasi atrium, atau gagal jantung.

Baca juga: Insufisiensi Aorta

Gejala

Beberapa orang dengan gangguan ini mungkin tidak mengalami gejala selama bertahun-tahun.

Tanda dan gejala yang muncul bergantung pada tingkat keparahan dan seberapa cepat kondisinya berkembang.

Beberapa gejalanya dapat berupa:

  • bunyi jantung abnormal (murmur jantung), terdengar melalui stetoskop
  • sesak napas (dispnea), terutama saat aktif atau berbaring
  • kelelahan
  • palpitasi jantung, sensasi detak jantung yang cepat dan berdebar kencang
  • kaki atau pergelangan kaki bengkak.

Regurgitasi katup mitral seringkali ringan dan berlangsung lambat.

Penyebab

Alasan paling umum penyebab insufisiensi katup mitral adalah karena bawaan lahir atau akibat serangan jantung sehingga jaringan di sekitar melemah.

Kemungkinan penyebab lainnya, yaitu:

  • penumpukan kalsium
  • demam rematik yang berkembang sebagai akibat dari radang tenggorokan.

Baca juga: Stenosis Mitral

Jenis infeksi bakteri demam rematik bernama endokarditis infektif, menyerang lapisan bilik dan katup jantung.

Komplikasi

Regurgitasi yang parah dapat menyebabkan pembekuan darah, gumpalan seperti gel yang dapat menimbulkan masalah serius jika sampai ke paru-paru atau otak.

Kondisi ini juga dapat menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru, membebani sisi kanan jantung.

Orang dengan regurgitasi juga mengalami darah yang lebih sedikit mengalir dalam tubuh sehingga jantung harus bekerja lebih keras.

Otot jantung yang harus memompa dengan lebih keras dapat membesar dan meningkatkan risiko gagal jantung.

Selain itu, juga dapat menyebabkan detak jantung yang tidak teratur hingga stroke.

Diagnosis

Beberapa tes yang umum digunakan untuk mendiagnosis insufisiensi katup mitral, yaitu:

  • ekokardiogram: digunakan untuk mendiagnosis regurgitasi katup mitral. Tes ini menggunakan gelombang suara yang diarahkan ke jantung untuk menghasilkan gambar video dari jantung yang sedang bergerak. Tes ini dapat menilai struktur jantung, katup mitral, dan aliran darah melalui jantung
  • elektrokardiogram (EKG): penempelan kabel (elektroda) pada kulit untuk mengukur impuls listrik dari jantung. EKG dapat mendeteksi ruang jantung yang membesar dan irama detak yang tidak normal
  • rontgen dada: memungkinkan dokter untuk menentukan jika atrium atau ventrikel kiri membesar (kemungkinan komplikasi regurgitasi katup mitral) dan untuk mengetahui kondisi paru-paru
  • MRI jantung: penggunaan medan magnet dan gelombang radio untuk membentuk gambar jantung secara detail. Digunakan untuk menentukan tingkat keparahan kondisi dan menilai ukuran dan fungsi ruang jantung kiri bawah (ventrikel kiri)
  • CT jantung: CT angiogram dapat dilakukan pada dada, perut, dna panggul untuk menentukan jika seseorang dapat melakukan perbaikan katup mitral robotik
  • tes treadmill atau tes stres: mengukur toleransi tubuh terhadap aktivitas fisik
  • kateterisasi jantung: tidak sering digunakan untuk mendiagnosis regurgitasi katup mitral. Menggunakan tabung tipis (kateter) melalui pembuluh darah di lengan atau selangkangan ke arteri di jantung dan menyuntikkan pewarna melalui kateter untuk membuat arteri terlihat pada sinar-X.

Baca juga: Penyakit Jantung Bawaan

Perawatan

Seseorang dengan insufisiensi mitral ringan mungkin tidak perlu memerlukan perawatan sama sekali. Namun, dibutuhkan observasi dan pemeriksaan rutin.

Obat-obatan tidak dapat benar-benar memperbaiki masalah katup, tapi dapat menargetkan hal-hal lain yang memperburuk regurgitasi.

Obat yang disebut diuretik (pil air) dapat mengurangi penumpukan cairan.

Pengencer darah juga dapat membantu mencegah pembekuan darah.

Selain itu, orang dengan tekanan darah tinggi mungkin perlu minum obat karena dapat memperburuk regurgitasi.

Dalam kasus yang lebih parah, seseorang mungkin memerlukan operasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.