Kompas.com - 28/05/2022, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Penyakit jantung dapat terjadi, beberapa di antaranya karena faktor risiko yang jarang diketahui.

Penyakit jantung adalah ragam kondisi yang berhubungan dengan organ jantung.

Penyakit ini masuk dalam kelompok penyakit kardiovaskular bersama dengan stroke dan penyakit pembuluh darah.

Umumnya, penyakit jantung diketahui disebabkan oleh:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Tidak aktif secara fisik
  • Merokok
  • Depresi
  • Pola makan buruk
  • Riwayat keluarga

Di luar penyebab itu, ada sejumlah hal yang jarang diketahui dapat menjadi faktor risiko penyakit jantung.

Berikut faktor risiko penyakit jantung yang sering tidak disadari:

Baca juga: 5 Tanda Serangan Jantung Akan Muncul, Tak Hanya Nyeri Dada

1. Kebisingan

Mengutip WebMD, kebisingan lalu lintas dapat meningkatkan tekanan darah Anda dan kemungkinan gagal jantung.

Mulai dari sekitar 50 desibel, untuk setiap peningkatan 10 desibel, peluang Anda terkena penyakit jantung dan stroke semakin meningkat.

Mengutip British Heart Foundation, sebuah studi yang diterbitkan dalam European Heart Journal pada Juni 2015, melihat efek tingkat kebisingan jalan pada penyakit kardiovaskular di seluruh London.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghasilkan pedoman tentang paparan kebisingan yang aman yang membahas efek tingkat kebisingan yang tinggi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Peningkatan risiko penyakit jantung ini mungkin disebabkan oleh peningkatan tekanan darah dan kadar hormon stres, bersamaan dengan gangguan tidur.

2. Migrain

Mengutip WebMD, Anda lebih mungkin mengalami stroke, nyeri dada, dan serangan jantung ketika Anda mengalami migrain, terutama dengan aura.

Aura itu adalah serangkaian gangguan sensorik.

Jika penyakit jantung turun-temurun dalam keluarga atau Anda pernah mengalami masalah jantung atau stroke, Anda mungkin perlu menghindari minum obat yang disebut triptans untuk migrain.

Sebab, obat tersebut mempersempit pembuluh darah Anda.

Disarankan untuk berkonsultasi ke dokter tentang cara terbaik mengontrol dan mengobati sakit kepala Anda.

Baca juga: Ciri-ciri Jantung Sehat yang Perlu Diperhatikan

3. Pesimisme

Mengutip British Heart Foundation, beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara optimisme dan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.

Sehingga, pesimisme terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Sebagian penyebab orang pesimis berisiko penyakit jantung tampaknya terkait dengan:

  • Merokok
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Depresi.

Sebuah studi dari University College London, yang diterbitkan dalam jurnal Psychosomatic Medicine pada April 2015 melihat efek optimisme pada pemulihan setelah serangan jantung.

Ditemukan bahwa mereka dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi lebih mungkin untuk:

  • Berhenti merokok
  • Meningkatkan kualitas pola makan dengan konsumsi buah dan sayuran.

Itu semua perubahan gaya hidup yang kita tahu dapat mencegah penyakit jantung.

Ketika pesimisme dikaitkan dengan gejala depresi, ada peningkatan signifikan pada kejadian jantung serius lebih lanjut dibandingkan dengan mereka yang bersikap optimis.

Kejadian jantung serius lebih lanjut, seperti serangan jantung fatal, operasi jantung, atau serangan jantung berulang.

Baca juga: 7 Herbal yang Berkhasiat untuk Menjaga Kesehatan Jantung

4. Bertubuh pendek

Mengutip WebMD, orang yang lebih pendek cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Sebab, orang yang lebih pendek cenderung memiliki kadar kolesterol dan trigliserida yang lebih tinggi.

Untuk setiap 2,5 inci kurang dari tinggi rata-rata, kemungkinan penyakit jantung naik sekitar 8 persen.

Mengutip British Heart Foundation, faktor risiko ini bagi orang dewasa mungkin tidak dapat diubah, tetapi dapat diintervensi dengan gaya hidup sehat, misalnya:

  • Tidak merokok
  • Makan makanan bergizi seimbang
  • Olahraga teratur.

5. Kesepian

Mengutip WebMD, orang yang kesepian atau tidak bahagia dengan hubungan bersama orang lain meningkatkan risiko seseornag terkena penyakit jantung dan stroke, seperti perokok pasif.

Merasa sendirian telah dikaitkan dengan tekanan darah tinggi dan efek lain dari stres.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Jantung

6. Mengkonsumsi obat ADHD

Mengutip WebMD, seiring waktu obat ADHD yang dikonsumsi secara rutin dapat memicu penyakit jantung.

ADHD (Attention-deficit hyperactivity disorder) merupakan istilah medis untuk gangguan mental yang ditandai dengan perilaku impulsif dan hiperaktif.

Meskipun obat stimulan (seperti dextroamphetamine dan methylphenidate) dapat membantu Anda fokus, itu juga dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.

Disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk memutuskan apakah manfaat obat ADHD Anda lebih besar dari pada risiko yang mungkin terjadi pada jantung Anda.

7. Terlalu lama bekerja

Mengutip WebMD, terlalu lama bekerja juga dapat menjadi faktor risiko penyakit jantung.

Lebih banyak orang yang bekerja setidaknya 55 jam per minggu memiliki penyakit jantung dari pada mereka yang bekerja 35-40 jam.

Mengutip British Heart Foundation, hal itu mungkin sebagian disebabkan oleh faktor perilaku orang yang bekerja lebih lama, seperti:

Lebih sedikit waktu untuk aktivitas fisik Lebih cenderung memilih makanan yang praktis dari pada menyiapkan makanan sehat karena keterbatasan waktu.

Risiko penyakit jantung terlihat semakin meningkat ketika orang tersebut memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti:

  • Merokok
  • Minum alkohol

Apalagi, orang tersebut juga sudah memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

Sangat penting bagi Anda untuk menjaga diri agar terhindar dari penyakit jantung dan stroke, sehingga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Penyumbatan Pembuluh Darah Jantung

8. Memiliki penyakit gusi

Mengutip WebMD, memiliki penyakit gusi meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit jantung.

Alasannya karena bakter mulut dari penyakit gusi (termasuk periodontal), dapat masuk ke dalam darah.

Setelah itu, memicu peradangan pada lapisan arteri yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di dalamnya dan terjadilah aterosklerosis.

Penelitian menunjukkan bahwa mengobati penyakit gusi dapat menurunkan tingkat penanda peradangan dalam darah, yang disebut protein C-reaktif.

Mengutip British Heart Foundation, hubungan antara penyakit gusi, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pertama kali dikemukakan pada 1960-an.

Sebuah tinjauan studi yang diterbitkan dalam Journal of Dental Research pada 2010 menunjukkan bahwa penyakit gusi memiliki peran dalam menyebabkan penyakit kardiovaskular.

penelitian lain menunjukkan tanda-tanda peradangan tertentu yang berhubungan dengan penyakit jantung berkurang dan fungsi pembuluh darah menjadi lebih baik setelah pengobatan penyakit gusi.

Baca juga: 15 Penyebab Penyumbatan Pembuluh Darah Jantung

9. Masa kecil bermasalah

Mengutip WebMD, seseorang yang memiliki pengalaman buruk (trauma) di masa kecil dapat meningkatkan lebih besar risiko penyakit jantung saat dewasa.

Pengalaman buruk itu termasuk:

  • Kekerasan
  • Intimidasi
  • Pelecehan.

Hubungannya pada penyakit jantung adalah karena orang dengan kondisi mental itu terkait dengan tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes tipe 2.

Stres yang berkelanjutan di masa kecil dapat mengubah cara kerja tubuh Anda.

Anda mungkin juga berurusan dengan cara yang tidak sehat dengan efek perasaan tidak aman saat tumbuh dewasa.

Baca juga: 15 Tanda-tanda Jantung Tidak Sehat

10. Marah

Mengutip WebMD, Anda hampir lima kali lebih mungkin mengalami serangan jantung setelah Anda marah.

Dalam 2 jam setelah ledakan kemarahan, kemungkinan stroke atau detak jantung meningkat juga.

Anda tidak selalu dapat menghindari atau mengendalikan apa yang membuat Anda marah, jadi lebih baik menemukan cara untuk mengatasi kemarahan Anda pada saat itu.

Jika Anda sering merasa marah dan sulit mengendalikannya, disarankan untuk mengikuti kelas atau terapi manajemen emosi.

Selain untuk mengatur emosi Anda, juga demi menurunkan risiko penyakit jantung jangka panjang.

Mengutip British Heart Foundation, tinjauan sistematis dari penelitian pada 2014 menemukan bahwa perasaan marah meningkatkan risiko serangan jantung dalam dua jam berikutnya sebesar 4,74 kali dan risiko stroke meningkat 3,72 waktu.

Tinjauan ini mencakup 4.546 kasus serangan jantung ditambah jumlah stroke yang lebih kecil, sindrom koroner akut dan irama jantung yang tidak teratur.

Penting untuk tidak khawatir dengan hasil ini. Peningkatan hanya akan menyebabkan 1-4 lebih banyak kejadian jantung per 10.000 orang per tahun.

Baca juga: 4 Faktor Risiko Penyakit Jantung yang Harus Anda Waspadai

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.