Trombosit rendah (trombositopenia) dapat menyebabkan luka berdarah lebih banyak dari yang diperkirakan.
Efek samping kemoterapi ini bisa membuat penderita kanker lebih mudah memar atau melihat bintik-bintik merah kecil pendarahan di bawah kulit (petekie).
Neuropati perifer akibat kemoterapi dapat membuat bagian tubuh (biasanya tangan dan kaki) penderita kanker terasa nyeri, mati rasa, atau geli (seperti tertusuk jarum).
Mereka mungkin merasa kesulitan untuk mengoordinasikan otot-otot mereka.
Efek samping kemoterapi bisa membuat otak berpikir tidak sejelas biasanya.
Beberapa orang yang menjalani kemoterapi mengalami masalah dengan ingatan, terutama ingatan jangka pendek.
Kemoterapi dapat menurunkan kadar estrogen dan testosteron.
Hal ini dapat memengaruhi dorongan seks dan kemampuan penderita kanker untuk memiliki anak. Hal ini dapat menyebabkan menopause dini.
Bahkan, beberapa obat kemoterapi yang diterima oleh pasien (wanita maupun pria) dapat membahayakan janin, jika penderita hamil atau menghamili seseorang selama perawatan ini.
Demikianlah sejumlah efek samping kemoterapi yang bisa dialami oleh penderita kanker.
Baca juga: 4 Nutrisi untuk Penderita Kanker Selama Kemoterapi
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.