Kompas.com - 14/12/2021, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Bakteri Escherichia coli (E. coli), yaitu bakteri yang umumnya hidup secara alami di dalam usus manusia maupun hewan.

Bakteri E. coli di dalam usus besar manusia membentuk interaksi yang bersifat simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan.

Manusia diuntungkan karena E. coli membantu manusia pada proses pembusukan sisa makanan yang telah dicerna tubuh sehingga terbentuklah feses.

Baca juga: Infeksi E. coli: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dan Cara Mencegah

Selain itu, bakteri E. coli juga menghasilkan vitamin K yang berperan penting dalam proses pembekuan darah.

Beberapa bakteri E. coli akan ikut keluar dari tubuh manusia bersama dengan keluarnya feses.

Namun, terdapat jenis E. coli tertentu menghasilkan racun yang dapat menyebabkan infeksi usus serius dan mengakibatkan diare, sakit perut, dan demam.

Infeksi bakteri E. coli yang berbahaya kerap disebabkan karena mengonsumsi makanan ataupun minuman yang terkontaminasi.

Selain menyerang saluran cerna, infeksi bakteri E. coli juga dapat menyerang saluran kemih, saluran napas, dan sistem saraf.

Pada kasus yang lebih parah, infeksi E. coli dapat menyebabkan diare berdarah, dehidrasi, bahkan gagal ginjal.

Akan tetapi, anak-anak dan lansia berisiko lebih tinggi mengalami gagal ginjal serius yang disebut hemolytic uremic syndrome.

Gejala

Mengutip Healthline, gejala infeksi E. coli umumnya dirasakan sejak 10 hari pertama setelah terpapar bakteri.

Beberapa gejala infeksi E. coli, antara lain:

  • Kram atau nyeri pada perut
  • Diare yang mendadak, berair, dan parah yang dapat disertai dengan darah
  • Perut kembung
  • Mual dan muntah yang dapat menyebabkan nafsu makan berkurang
  • Kelelahan
  • Demam.

Baca juga: Memahami Cara Kerja Antibiotik dalam Membasmi Infeksi Bakteri

Pada kasus yang lebih parah, infeksi E. coli dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:

  • Urine berdarah
  • Berkurangnya jumlah urine
  • Kulit pucat
  • Memar
  • Dehidrasi.

Penyebab

Merangkum Medical News Today dan Cleveland Clinic, beberapa jenis bakteri E. coli yang menghasilkan racun dan berbahaya bagi kesehatan manusia, antara lain:

  1. Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC), atau juga disebut enterohemorrhagic coli (EHEC) dan verocytotoxin-producing coli (VTEC)
  2. Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC)
  3. Enteroaggregative Escherichia coli (EAEC)
  4. Enteroinvasive Escherichia coli (EIEC)
  5. Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC)
  6. Diffusely adherent Escherichia coli (DAEC)

Sebagian kasus infeksi E. coli disebabkan oleh bakteri jenis STEC. Racun dari bakteri ini dapat merusak lapisan usus kecil dan menyebabkan diare.

Bakteri E. coli yang berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh manusia secara oral ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti:

  1. Daging yang tidak dimasak hingga matang sempurna, terutama daging giling
  2. Susu yang tidak dipasteurisasi (mentah)
  3. Jus atau sari buah yang tidak dipasteurisasi
  4. Keju lunak yang tidak dipasteurisasi
  5. Buah dan sayuran mentah, terutama yang menggunakan pupuk dari kotoran hewan
  6. Air yang terkontaminasi.

Baca juga: Infeksi Bakteri

Selain itu, bakteri E. coli juga dapat ditularkan melalui kontak dengan orang lain.

Menggunakan tangan yang kotor atau terkontaminasi untuk makan atau menyiapkan bahan makanan dapat menularkan bakteri.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat menyebabkan tangan kotor atau terkontaminasi, seperti:

  1. Sesudah buang air besar
  2. Mengganti popok bayi
  3. Memegang hewan di kebun binatang atau hewan ternak.

Faktor risiko

Menurut Mayo Clinic, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terinfeksi bakteri E. coli.

  1. Anak-anak dan lansia
  2. Sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti karena mengidap HIV/AIDS dan menjalani pengobatan kanker, atau melakukan transplantasi organ
  3. Mengonsumsi jenis makanan tertentu, seperti daging sapi yang tidak matang sempurna dan susu yang tidak melalui proses pasteurisasi
  4. Menurunnya kadar asam lambung karena asam lambung dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi E. coli, seperti akibat mengidap GERD.

Diagnosis

Dilansir dari Medical News Today, dokter akan mendiagnosis infeksi bakteri E. coli dengan beberapa cara berikut:

Baca juga: Terlihat Sama, Ini Beda Infeksi Virus dan Bakteri

  • Anamnesis mengenai gejala yang dirasakan
  • Pemeriksaan feses, dokter akan engambil sampel feses untuk diuji lebih lanjut di laboratorium guna mendeteksi adanya bakteri E. coli
  • Kultur urine, untuk mendeteksi adanya bakteri di dalam urine.

Perawatan

Mengutip WebMD, E. coli umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Dokter mungkin akan memberikan antibiotik jika penderita mengalami diare hebat.

Namun, antibiotik tidak boleh diberikan bagi penderita yang mengalami diare berdarah dan diduga terinfeksi bakteri E. coli jenis STEC.

Pemberian antibiotik akan meningkatkan produksi racun Shiga dan memperburuk gejala yang dialami.

Selama masa pemulihan, penting untuk beristirahat dan mendapatkan asupan cairan yang cukup untuk menggantikan cairan yang hilang akibat muntah atau diare.

Hindari konsumsi obat diare karena dapat memperlambat sistem pencernaan sehingga akan menghambat pengeluaran racun dari saluran cerna.

Jika merasa lebih baik, coba untuk tetap mengonsumsi makanan rendah serat, seperti biskuit, roti, atau telur.

Selain itu, hindari produk susu dan makanan tinggi lemak karena dapat menyebabkan gejala semakin parah.

Komplikasi

Dirangkum dari Healthline dan Cleveland Clinic, infeksi bakteri E. coli umumnya merupakan kasus ringan dan tidak menimbulkan komplikasi serius.

Baca juga: Penting untuk Kesehatan, Bagaimana Cara Menjaga Bakteri Baik di Tubuh?

Namun, lansia, orang dengan sistem imun yang lemah, wanita hamil, dan anak-anak, berisiko lebih tinggi mengalami infeksi yang parah.

Infeksi yang parah dapat menimbulkan gejala serius dan komplikasi yang mengancam jiwa, seperti sindrom uremik hemolitik atau hemolytic uremic syndrome.

Sindrom uremik hemolitik dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian.

Pencegahan

Melansir Medical News Today, berikut beberapa cara yang dapat mencegah infeksi bakteri E. coli:

  1. Masak daging hingga matang sempurna, terutama daging giling
  2. Minum susu yang dipasteurisasi
  3. Cuci sayur, terutama yang berdaun hijau, dan buah hingga bersih
  4. Pastikan peralatan masak dan peralatan makan dicuci bersih dengan sabun
  5. Simpan daging mentah secara terpisah dengan bahan segar lainnya
  6. Gunakan talenan atau alat yang digunakan untuk mengolah daging dengan bahan makanan lainnya
  7. Terapkan praktik cuci tangan dengan baik setelah menyentuh sesuatu yang rentan terhadap bakteri dengan sabun dan air mengalir.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.