Kompas.com - 12/01/2022, 15:00 WIB
Ilustrasi Afasia Shutterstock/rumruayIlustrasi Afasia

KOMPAS.com - Afasia adalah suatu kondisi yang merampas kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, seperti berbicara, menulis, dan memahami bahasa baik secara verbal ataupun non-verbal.

Afasia biasanya terjadi tiba-tiba setelah stroke atau mengalami cedera kepala.

Namun, kondisi ini juga bisa datang secara bertahap dari tumor otak yang tumbuh lambat atau penyakit yang menyebabkan kerusakan permanen dan progresif (degeneratif).

Baca juga: Mengenal 3 Jenis Afasia yang Banyak Dialami Penderita Stroke

Tingkat keparahan afasia dapat bergantung pada sejumlah kondisi, termasuk penyebab dan tingkat kerusakan otak.

Gejala

Afasia dapat menyebabkan sejumlah masalah yang berbeda.

Pembicaraan

Penderita mungkin akan mengalami hal di bawah ini.

  • Kesulitan memikirkan kata-kata yang ingin diucapkan
  • Kesalahan dalam mengucapkan sesuatu, tapi bisa jadi masih saling berhubungan (contoh: mengucapkan ‘pena’ ketimbang spidol’). Namun, bisa jadi juga mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal, seperti ingin mengatakan ‘bola’ tapi malah mengucapkan ‘radio’
  • Terbalik dalam mengucapkan sesuatu, misalnya ‘kasih terima’ ketimbang ‘terima kasih’.
  • Menggunakan kata yang dibuat sendiri
  • Mengalami kesulitan dalam mengucapkan kalimat
  • Menggabungkan kata yang dibuat sendiri dengan kata lain dan membentuk sebuah kalimat yang bisa jadi terdegnar tidak masuk akal.

Pemahaman

Beberapa kesulitan yang mungkin dialami penderita afasia, yaitu.

  • Kesulitan mengerti apa yang dikatakan orang lain, khususnya saat berbicara cepat atau seperti berkumur (tidak jelas). Juga, kesulitan memahami kalimat yang panjang dan kompleks
  • Kesulitan memahami apa yang dikatakan orang lain di lingkungan yang berisik atau di sekeliling orang banyak
  • Kesulitan memahami lelucon.

Baca juga: Jenis-jenis Penyakit Degeneratif yang Perlu Diwaspadai

Membaca dan menulis

Penderita afasia mungkin akan mengalami kesulitan berikut.

  • Membaca formulir, buku, atau layar komputer
  • Mengeja dan merangkai kata menjadi satu kalimat
  • Menggunakan angka atau mengerjakan matematika, seperti menentukan waktu, menghitung uang, atau sesederhana melakukan pertambahan dan pengurangan.

Penyebab

Afasia disebabkan oleh kerusakan pada bagian otak yang berperan dalam memahami dan memproduksi bahasa.

Penyebab umum dapat meliputi:

  • stroke: penyebab paling umum dari afasia
  • cedera kepala parah
  • tumor otak
  • kondisi neurologis progresif: menyebabkan otak dan sistem saraf menjadi rusak seiring waktu, seperti demensia.

Afasia juga dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia, tapi umumnya terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun.

Hal ini disebabkan karena stroke dan kondisi neurologis progresif cenderung memengaruhi orang dewasa usia lanjut.

Diagnosis

Dokter dapat mendiagnosis seseorang dengan afasia setelah melakukan beberapa tes tertentu, seperti latihan sederhana untuk menyebutkan berbagai benda di dalam ruangan, mengulang kata dan kalimat, serta membaca dan menulis.

Baca juga: Mengenal Gejala dan Dampak Negatif Stroke Pada Anak

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan seseorang untuk:

  • memahami pidato dasar dan tata bahasa
  • mengungkapkan kata, frasa, dan kalimat untuk berkomunikasi secara sosial, misalnya mengadakan percakapan atau memahami lelucon
  • membaca dan menulis huruf, kata, dan kalimat

Tes pencitraan seperti CT Scan atau MRI juga dapat menjadi opsi untuk menilai kerusakan otak.

Perawatan

Jika kerusakan yang terjadi pada otak masih tergolong ringan, seseorang dapat memulihkan keterampilan berbahasa tanpa pengobatan.

Namun, dalam kebanyakan kasus penderita harus menjalani terapi wicara dan bahasa untuk mengembalikan keterampilan bahasa dan melengkapi pengalaman komunikasi mereka.

Rehabilitasi bicara dan bahasa

Pemulihan keterampilan bahasa biasanya merupakan proses yang relatif lambat.

Meskipun kebanyakan orang membuat kemajuan yang signifikan, hanya sedikit orang yang mendapatkan kembali tingkat komunikasi secara penuh seperti sebelum cedera.

Terapi wicara dan bahasa bagi penderita afasia bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi.

Contohnya, seperti memulihkan sebanyak mungkin bahasa, mengajarkan cara mengembalikan keterampilan bahasa yang hilang, dan menemukan metode komunikasi lain.

Baca juga: Gejala Awal Stroke pada Pria yang Harus Diwaspadai

Terapi:

  • dimulai sejak awal: melansir Mayo Clinic, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terapi paling efektif jika dimulai segera setelah mengalami cedera otak
  • bekerja dalam kelompok: dalam lingkungan kelompok, orang dengan afasia dapat mencoba keterampilan komunikasi mereka dengan lebih aman. Peserta dapat melatih percakapan, berbicara secara bergantian, serta mengklarifikasi kesalahpahaman dan memperbaiki percakapan yang benar-benar rusak
  • melatih penggunaan komputer: terapi berbantuan komputer dapat membantu untuk mempelajari kembali kata kerja dan bunyi kata (fonem).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penebalan Dinding Rahim

Penebalan Dinding Rahim

Penyakit
6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

Health
5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

Health
Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.