Kompas.com - 24/03/2022, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Spasmus nutans merupakan sindrom yang terjadi pada anak usia dini. 

Sindrom ini terdiri dari tiga serangkai gejala, yakni anggukan kepala, osilasi okular dan posisi kepala anomali.

Spasmus nutans cenderung masuk dalam kategori sindrom yang jinak.

Baca juga: 7 Macam Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Penyebab

Sebagian besar kasus spasmus nutans terjadi antara usia 4 bulan dan 1 tahun. Sindrom ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan atau tahun.

Penyebabnya tidak diketahui, meskipun ahli menduga sindrom ini terkait dengan kondisi medis lainnya, misalnya kekurangan zat besi atau vitamin D.

Dalam kasus yang sangat jarang, gejala yang mirip dengan spasmus nutans mungkin disebabkan oleh jenis tumor otak tertentu atau kondisi serius lainnya.

Gejala

Gejala spasmus nutans meliputi:

  • Gerakan mata kecil, cepat, dari sisi ke sisi yang disebut nistagmus (kedua mata terlibat, tetapi setiap mata dapat bergerak secara berbeda)
  • Mengangguk kepala
  • Memiringkan kepala.

Diagnosis

Penyedia layanan kesehatan akan melakukan pemeriksaan fisik anak. Orang tua akan ditanya tentang gejala anak mereka.

Tes yang dapat dilakukan antara lain:

  • CT scan kepala
  • Pemindaian MRI kepala
  • Elektroretinografi, tes yang mengukur respons listrik retina (bagian belakang mata).

Baca juga: 4 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Perawatan

Spasmus nutans yang tidak terkait dengan masalah medis lain, seperti tumor otak, tidak memerlukan pengobatan.

Jika gejalanya disebabkan oleh kondisi lain, dokter akan merekomendasikan perawatan yang tepat sesuai penyakit yang terkait.

Hubungi dokter anak jika anak memiliki gerakan mata yang cepat atau anggukan kepala yang aneh.

Dokter akan perlu melakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala tersebut.

Komplikasi

Spasmus nutans jarang menimbulkan komplikasi.

Namun jika spasmus nutans disebabkan oleh kondisi serius seperti tumor otak, anak harus segera diobati sebelum semakin parah dan komplikasi tumor terjadi.

Pencegahan

Belum ada cara untuk mencegah sindrom langka ini karena penyebab pastinya belum diketahui.

Baca juga: 3 Kategori Stimulasi untuk Bantu Tumbuh Kembang Anak

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.