Jadi Penyakit Menakutkan, Benarkah HIV/AIDS Tidak Bisa Diobati?

Kompas.com - 17/01/2020, 21:05 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS thinkstock/vchalIlustrasi HIV/AIDS

KOMPAS.com - Human Immunodeficiency Virus ( HIV) adalah virus yang menganggu sistem kekebalan tubuh. Infeksi virus ini bisa mengancam nyawa jika tak ditangani dengan tepat.

Penularan virus ini bisa terjadi melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian, menggunakan peralatan tato dan tindik yang tidak disterilkan, serta seks tanpa pengaman. 

Selain itu, ibu hamil pengidap HIV/ AIDS dapat menularkan virus aktif kepada bayinya (sebelum atau selama kelahiran) dan saat menyusui.

Sekilas sejarah HIV

HIV adalah variasi dari virus yang menginfeksi simpanse Afrika. Para ilmuwan menduga Simian Immunodeficiency Virus (SIV) menginfeksi manusia ketika orang tersebut mengkonsumsi daging simpanse yang terinfeksi.

Saat virus tersebut berada dalam tubuh manusia, virus bermutasi menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai HIV. Hal ini diperkirakan terjadi sejak tahun 1920-an.

HIV menyebar dari orang ke orang di seluruh Afrika selama beberapa dekade.

Setelah itu, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia. Para ilmuwan pertama kali menemukan HIV dalam sampel darah manusia pada tahun 1959.

Baca juga: HIV hingga Herpes, Apa Saja Penyakit Akibat Seks Anal?

Gejala HIV

Melansir Hello Sehat, mereka yang terinfeksi HIV biasanya mengalami hal-hal berikut:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Kehilangan berat badan secara perlahan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha

Beda HIV dengan AIDS

Banyak orang menduga HIV dan AIDS adalah satu kesatuan. Faktanya, dua hal tersebut adalah kondisi yang berbeda.

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus.

Sementara itu, AIDS adalah kondisi yang terdiri dari kumpulan gejala terkait pelemahan sistem imun ketika infeksi HIV sudah berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik.

Jadi, penderita AIDS adalah mereka yang tertular virus HIV. Namun, mereka yang terinfeksi HIV belum tentu menderita AIDS.

Benarkah HIV/AIDS tidak bisa diobati?

HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan karena belum ada obatnya. Namun, gejala penyakit bisa dikendalikan dan peningkatan sistem imun yang dilakukan lewat terapi antiretoviral ( ARV).

Obat ARV tidak dapat menyembuhkan, tetapi bisa membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Selain itu, ARV juga membantu mengurangi risiko penularan HIV.

Melansir laman SehatQ, ARV merupakan obat antiretroviral yang wajib diminum pasien seumur hidupnya.

Tujuan pemberian obat ARV adalah untuk mencegah dan mengurangi jumlah Human Immunodeficiency Virus dalam tubuh dan menghambat virus dalam memperbanyak diri.

Baca juga: Lawan Stigma, Pengidap HIV Bukan untuk Dijauhi

Sama seperti obat-obatan pada umumnya, obat ARV juga memiliki efek samping berupa:

  • Penurunan nafsu makan
  • Diare
  • Kelelahan
  • Peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida
  • Mual dan muntah-muntah
  • Perubahan suasana hati, gangguan kecemasan, kondisi depresi
  • Ruam di kulit
  • Sulit tidur

ARV juga bisa menyebabkan bebragai masalah kesehatan kronis seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, osteoporosis dan penyakit organ jati.

Meski memiliki banyak efek samping, ARV merupakan satu-satunya cara untuk membantu pasien tetap dapat beraktivitas dan memiliki hidup yang berkualitas.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Sumber Healthline,,
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X