Kompas.com - 04/12/2021, 13:00 WIB
Ilustrasi klaustrofobia Ilustrasi klaustrofobia

KOMPAS.com - Klaustrofobia adalah ketakutan terhadap ruang sempit dan terbatas.

Biasanya, orang dengan klaustrofobia akan menghindari ruang-ruangan sempit dan terbatas, seperti lift, terowongan, kereta, dan toilet umum.

Beberapa orang dengan konidsi ini dapat mengalami rasa cemas. Beberapa yang lain mungkin akan merasa cemas yang tergolong parah hingga mendapat serangan panik.

Baca juga: 3 Cara Menghilangkan Phobia Jarum Suntik

Gejala

Klaustrofobia dapat menyerang tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Gejala yang timbul dapat berupa gugup ringan hingga serangan panik.

Jika dokter telah mendiagnosis kondisi ini sebagai fobia, hal ini dapat memengaruhi kehidupan secara keseluruhan.

Beberapa gejala yang mungkin menyertai kondisi ini saat berada di ruang sempit, di antaranya:

  • sesak napas
  • detak jantung cepat
  • berkeringat
  • gemetar atau tremor
  • mual
  • pusing
  • mulut kering
  • kulit kemerahan dan panas
  • dada sesak atau sakit
  • hiperventilasi
  • kebingungan atau disorientasi (linglung)
  • mati rasa
  • sakit kepala
  • sensasi tersedak
  • merasa tidak enak badan.

Beberapa penderita klaustrofobia juga mungkin akan mendapatkan sensasi seolah akan mati atau dunia kiamat (sense of doom).

Baca juga: Kenali Apa itu Fobia, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasinya

Perasaan ini dapat menjadi sangat menakutkan, bahkan saat kondisinya sebenarnya tidak dalam bahaya.

Orang dengan fobia juga dapat menyadari bahwa rasa takut yang timbul irasional, tapi sulit untuk mengendalikannya.

Gejala dapat berlangsung selama 5-30 menit.

Penyebab

Penyebab klaustrofobia belum diketahui. Faktor lingkungan diduga menjadi peran paling besar dari timbulnya kondisi ini.

Jika orang tua atau kerabat ada yang memiliki kondisi ini, seorang anak juga dapat muncul rasa takutnya dan mengalami rasa cemas yang sama.

Selain itu, fobia ini juga dapat disebabkan oleh peristiwa traumatis, seperti:

  • terjebak di ruang sempit atau ramai untuk waktu yang lama
  • mengalami turbulensi saat penerbangan
  • dihukum dengan dikunci di ruang kecil seperti kamar mandi
  • terjebak di kendaraan umum yang padat
  • ditinggalkan di ruang sempit seperti lemari, secara tidak sengaja.

Diagnosis

Diagnosis terhadap klaustrofobia dapat muncul selama konsultasi terkait masalah lain yang berhubungan dengan kecemasan.

Psikolog atau psikiater akan:

Baca juga: Fobia

  • bertanya terkait gejala yang muncul dan peimicunya
  • seberapa parah gejala
  • menyingkirkan kemungkinan jenis gangguan kecemasan lainnya

Dokter juga akan menggunakan suatu tolak ukur berupa kriteria khusus yang harus dipenuhi sebelum mendiagnosis seseorang dengan klaustrofobia (atau fobia lainnya).

Perawatan

Jika tidak ditangani, klaustrofobia akan menjadi semakin menakutkan bagi penderitanya (karena dihindari).

Hal ini dapat mengganggu keseharian dan menghambat aktivitas. Bahkan, beberapa orang dengan kecemasan cukup parah bisa jadi takut untuk meninggalkan rumah.

Beberapa jenis terapi yang dapat membantu adalah sebagai berikut.

  • Terapi paparan: secara bertahap terapi ini akan menempatkan penderita ke dalam situasi yang membuat takut untuk membantu mengatasinya. Misalnya, dari melihat foto ruang sempit hingga akhirnya dapat berada di ruang sempit.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT): salah satu jenis terapi bicara yang melibatkan pembicaraan tentang pikiran negatif pemicu rasa takut dan mempelajari cara mengatasinya. Terapi paparan dapat dikombinasikan dengan CBT.
  • Realitas maya (VR): penggunaan simulasi komputer seolah penderitanya berada di lift atau mesin MRI. Mendapatkan pengalaman melalui realitas maya dapat membantu mengurangi rasa takut dalam suasana yang terasa aman.
  • Relaksasi dan visualisasi: mempelajari cara untuk menenangkan diri sendiri saat berada di situasi yang membuat takut.
  • Perawatan medis: jika terapi tidak cukup, dokter mungkin akan membantu meresepkan obat kecemasan atau antidepresan untuk membantu mengatasi kondisi yang menyebabkan ketakutan.

Baca juga: Takut Saat Mendengar Suara Ambulans? Hati-hati Fonofobia

Selain itu, penting bagi orang dengan klaustrofobia mempunyai dukungan baik dari keluarga atau orang terdekat selama mendapat penanganan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.