Kompas.com - 03/01/2022, 10:18 WIB
Ilustrasi Wajah BLACKDAYIlustrasi Wajah

KOMPAS.com - Sindrom Horner adalah kombinasi tanda dan gejala yang disebabkan oleh gangguan jalur saraf dari otak ke wajah dan mata di satu sisi tubuh.

Biasanya, sindrom Horner menyebabkan penurunan ukuran pupil, kelopak mata terkulai, dan penurunan keringat di sisi wajah yang terkena.

Sindrom Horner adalah akibat dari masalah medis lain, seperti stroke, tumor atau cedera tulang belakang.

Baca juga: Nyeri Saraf (Neuralgia)

Dalam beberapa kasus, tidak ada penyebab mendasar yang dapat ditemukan.

Penyebab

Sindrom Horner dapat disebabkan oleh gangguan pada serangkaian serabut saraf yang dimulai di bagian otak (hipotalamus) dan menjalar ke wajah dan mata.

Serabut saraf ini terlibat dengan keringat, pupil, dan otot kelopak mata atas dan bawah.

Kerusakan serabut saraf dapat terjadi karena:

  • Cedera pada arteri karotis, salah satu arteri utama ke otak
  • Cedera pada saraf di pangkal leher atau pleksus brakialis
  • Migrain atau sakit kepala cluster
  • Stroke, tumor, atau kerusakan lain pada bagian otak yang disebut batang otak
  • Tumor di bagian atas paru-paru, di antara paru-paru, dan leher
  • Suntikan atau pembedahan dilakukan untuk mengganggu serabut saraf dan menghilangkan rasa sakit (simpatektomi)
  • Cedera tulang belakang.

Dalam kasus yang jarang terjadi, sindrom Horner hadir saat lahir.

Kondisi ini dapat terjadi dengan kurangnya warna (pigmentasi) pada iris (bagian mata yang berwarna).

Gejala

Gejala sindrom Horner antara lain:

  • Berkurangnya keringat di sisi wajah yang terkena
  • Kelopak mata terkulai (ptosis)
  • Tenggelamnya bola mata
  • Ukuran pupil mata yang berbeda (anisocoria).

Baca juga: Neuralgia Trigeminal

Gejala lain dapat terjadi tergantung pada lokasi serabut saraf yang terkena, seperti:

  • Vertigo dengan mual dan muntah
  • Penglihatan ganda
  • Kurangnya kontrol dan koordinasi otot
  • Nyeri lengan dan mati rasa
  • Leher satu sisi dan sakit telinga
  • Suara serak
  • Gangguan pendengaran
  • Kesulitan kandung kemih dan usus
  • Reaksi berlebihan dari sistem saraf tak sadar (otonom) terhadap rangsangan (hiperrefleksia).

Diagnosis

Penyedia layanan kesehatan akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejalanya.

Pemeriksaan mata akan menunjukkan:

  • Perubahan cara pupil membuka atau menutup
  • Kelopak mata terkulai
  • Mata merah.

Tergantung pada penyebab yang dicurigai, tes berikut dapat dilakukan:

  • Tes darah
  • Tes pembuluh darah kepala (angiogram)
  • Rontgen dada atau CT scan dada
  • MRI atau CT scan otak
  • Keran tulang belakang (pungsi lumbal).

Baca juga: Bagaimana Diabetes Memicu Kerusakan Saraf?

Perawatan

Perawatan tergantung pada penyebab yang mendasari kondisi tersebut. Tidak ada pengobatan untuk sindrom Horner itu sendiri.

Ptosis sangat ringan dan dalam kasus yang jarang terjadi memengaruhi penglihatan pada sindrom Horner.

Ptosis dapat diperbaiki dengan operasi kosmetik atau diobati dengan obat tetes mata.

Bicarakan dengan dokter untuk perawatan yang tepat.

Sejumlah faktor, beberapa lebih serius daripada yang lain, dapat menyebabkan sindrom Horner.

Penting untuk mendapatkan diagnosis yang cepat dan akurat.

Dapatkan perawatan darurat jika tanda atau gejala yang terkait dengan sindrom Horner muncul tiba-tiba, muncul setelah cedera traumatis, atau disertai dengan tanda atau gejala lain, seperti:

  • Gangguan penglihatan
  • Pusing
  • Kelemahan otot atau kurangnya kontrol otot
  • Sakit kepala atau sakit leher yang parah dan tiba-tiba.

Komplikasi

Ada beberapa gejala serius sindrom Horner yang harus diwaspadai. Gejala serius ini meliputi:

  • Pusing
  • Masalah melihat
  • Sakit leher atau sakit kepala yang tiba-tiba dan parah
  • Otot yang lemah atau ketidakmampuan untuk mengontrol gerakan otot.

Baca juga: Jangan Disepelekan, Saraf Kejepit Bisa Sebabkan Cedera Permanen

Kondisi lain dapat memiliki gejala yang mirip dengan sindrom Horner. Kondisi tersebut adalah sindrom Adie dan sindrom Wallenberg.

Pencegahan

Hingga kini sindrom Horner belum bisa dicegah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.