Kompas.com - 23/12/2021, 18:00 WIB

KOMPAS.com - Neuralgia trigeminal adalah kondisi nyeri kronis yang memengaruhi saraf trigeminal—pembawa sensasi dari wajah ke otak.

Orang dengan trigeminal neuralgia akan mengalami rasa sakit luar biasa saat menerima rangsangan ringan sekalipun, seperti menyikat gigi atau merias wajah.

Rasa sengatan tak terduga itu biasanya terjadi dalam waktu singkat, mulai dari hitungan detik hingga dua menit.

Baca juga: 4 Cara Setop Kebiasaan Sentuh Wajah agar Tak Gampang Tertular Penyakit

Melansir NHS, kebanyakan kasus neuralgia trigeminal hanya memepengaruhi satu sisi wajah dengan rasa sakit yang terasa di bagian bawah wajah.

Kadang-kadang rasa sakit dapat memengaruhi kedua sisi wajah, meskipun biasanya tidak secara bersamaan.

Jenis

Neuralgia trigeminal dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Tipe 1: penderitanya mungkin akan mengalami episode menyakitkan yang tajam, intens, dan sporadis. Rasa sakit dan/atau sensasi terbakar dapat muncul di seluruh wajah yang dapat berlangsung dari beberapa detik hingga dua menit. Meskipun terdapat jeda di mana sakit mereda di antara episode, rasa sakitnya dapat berlanjut hingga dua jam.
  • Tipe 2: tipe ini akan kurang menyakitkan dan intens, tetapi lebih luas. Rasa sakit akan terus menerus, khususnya sensasi ditusuk dan/atau terbakar. Gejala juga akan lebih sulit dikendalikan.

Gejala

Neuralgia trigeminal lebih sering terjadi pada wanita ketimbang pria dan menyerang orang tua (biasanya berusia 50 tahun atau lebih tua).

Selain itu, lebih banyak terjadi di wajah bagian kanan daripada kiri dan tidak bersifat genetik.

Gejala neuralgia trigeminal dapat termasuk di bawah ini.

  • Episode nyeri tajam, intens, menusuk di pipi atau rahang yang mungkin terasa seperti sengatan listrik. Episode juga dapat dipicu oleh apapun yang menyentuh wajah atau gigi, seperti makan, minum, merias wajah, bercukur, berbicara, dan bahkan angin sepoi-sepoi atau air yang mengenai wajah.
  • Periode kelegaan di antara episode
  • Kecemasan karena memikirkan rasa sakit yang kembali.

Baca juga: Bagaimana Diabetes Memicu Kerusakan Saraf?

Penyebab

Penyebab utama neuralgia trigeminal adalah pembuluh darah yang menekan akar saraf trigeminal.

Kondisi ini menyebabkan saraf mengirimkan rasa sakit yang dialami sebagai rasa sakit yang menusuk.

Penyebab lain dapat termasuk di bawah ini.

  • Sklerosis ganda akibat demielinisasi saraf. Neuralgia trigeminal biasanya muncul pada stadium lanjut sklerosis ganda.
  • Tumor yang menekan saraf trigeminal, kasus lebih jarang ditemukan
  • Kerusakan fisik pada saraf bisa diakibatkan cedera, prosedur gigi atau pembedahan, atau infeksi
  • Riwayat keluarga, pembentukan pembuluh darah diwariskan.

Namun, terkadang penyebabnya tetap tidak diketahui.

Diagnosis

Dokter akan mendiagnosis neuralgia trigeminal berdasarkan deskripsi rasa sakit, seperti:

  • jenis: nyeri yang berhubungan dengan neuralgia trigeminal terjadi secara tiba-tiba, seperti syok dan singkat
  • lokasi: bagian wajah yang terkena rasa sakit akan membantu dokter mengetahui jika saraf trigeminal terlibat
  • pemicu: nyeri terkait neuralgia trigeminal biasanya disebabkan oleh rangsangan ringan pada pipi, seperti makan, berbicara, bercukur, dan sebagainya.

Baca juga: Mati Rasa

Selain itu, tes yang akan dilakukan dokter mungkin meliputi:

  • pemeriksaan neurologis
  • MRI.

Perawatan

Terdapat tiga cara utama untuk menangani neuralgia trigeminal, yaitu:

  • obat-obatan
  • operasi
  • terapi.

Obat-obatan

  • obat antikonvulsan
  • antidepresan trisiklik
  • relaksan otot
  • obat-obatan lain untuk memblokir saraf sensorik

Operasi

Pembedahan bertujuan untuk:

  • menghentikan vena atau arteri dari menekan saraf trigeminal
  • merusak saraf trigeminal sehingga sinyal rasa sakit yang tidak terkontrol berhenti
  • Merusak saraf dapat menyebabkan mati rasa wajah sementara atau permanen.

Meskipun dapat memberikan kelegaan, gejala dapat kembali timbul setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.

Baca juga: Hati-Hati, Merokok Bisa Memperburuk Rasa Sakit

Terapi

Pendekatan yang dapat dilakukan selain dengan terapi obat, termasuk:

  • yoga
  • visualisasi kreatif
  • meditasi
  • aromaterapi
  • olahraga berdampak rendah.

Terapi tambahan yang mungkin membantu meliputi:

  • akupunktur
  • kiropraktik
  • konseling atau terapi suportif
  • biofeedback
  • terapi vitamin
  • terapi nutrisi.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.