Kompas.com - 10/01/2022, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Sirosis adalah tahap akhir jaringan parut (fibrosis) hati yang disebabkan oleh berbagai bentuk penyakit dan kondisi hati, seperti hepatitis dan alkoholisme kronis.

Setiap kali hati terluka, baik karena penyakit, konsumsi alkohol berlebihan, atau penyebab lain, hati mencoba memperbaiki luka tersebut sendiri.

Dalam prosesnya, jaringan parut akhirnya terbentuk.

Baca juga: 5 Penyebab Sirosis Hati yang Perlu Diwaspadai

Seiring perkembangan sirosis, semakin banyak jaringan parut yang terbentuk, sehingga membuat hati sulit untuk berfungsi (sirosis dekompensasi).

Penyebab

Berbagai macam penyakit dan kondisi dapat merusak hati dan menyebabkan sirosis. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Penyalahgunaan alkohol kronis
  • Hepatitis virus kronis (hepatitis B, C dan D)
  • Penumpukan lemak di hati
  • Penumpukan zat besi dalam tubuh (hemokromatosis)
  • Fibrosis kistik
  • Tembaga terakumulasi di hati (penyakit Wilson)
  • Saluran empedu yang tidak terbentuk dengan baik (atresia bilier)
  • Defisiensi antitripsin alfa-1
  • Gangguan metabolisme gula yang diturunkan (galaktosemia atau penyakit penyimpanan glikogen)
  • Gangguan pencernaan genetik (sindrom Alagille)
  • Penyakit hati yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh(hepatitis autoimun)
  • Penghancuran saluran empedu (sirosis bilier primer)
  • Pengerasan dan jaringan parut pada saluran empedu (primary sclerosing cholangitis)
  • Infeksi, seperti sifilis atau brucellosis
  • Obat-obatan, seperti metotreksat atau isoniazid.

Gejala

Sirosis sering tidak memiliki tanda atau gejala sampai kerusakan hati meluas. Gejalanya dapat meliputi:

Baca juga: Sirosis Hati: Penyebab, Gejala, Cara Mencegah dan Mengobatinya

  • Kelelahan
  • Mudah berdarah atau memar
  • Kehilangan selera makan
  • Mual
  • Pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki (edema)
  • Penurunan berat badan
  • Kulit yang gatal
  • Perubahan warna kuning pada kulit dan mata (jaundice)
  • Akumulasi cairan di perut (asites)
  • Kemerahan di telapak tangan
  • Pada wanita, berhentinya siklus menstruasi yang tidak terkait dengan menopause
  • Pada pria, kehilangan gairah seks, pembesaran payudara (ginekomastia), atau atrofi testis
  • Kebingungan, kantuk, dan bicara cadel (ensefalopati hepatik).

Diagnosis

Tes berikut dapat digunakan untuk diagnosis dengan mengukur fungsi hati:

  • Hitung darah lengkap
  • Waktu protrombin
  • Tes fungsi hati
  • Kadar albumin darah.

Tes lain untuk memeriksa kerusakan hati meliputi:

  • Computed tomography (CT) perut
  • Pencitraan resonansi magnetik (MRI) perut
  • Endoskopi untuk memeriksa pembuluh darah abnormal di kerongkongan atau perut
  • USG perut.

Baca juga: Gejala Awal Sirosis Hati yang Perlu Diwaspadai

Perawatan

Obat berikut dapat menjadi pilihan pengobatan sirosis:

  • Pil air (diuretik) untuk menghilangkan penumpukan cairan
  • Vitamin K atau produk darah untuk mencegah pendarahan berlebih
  • Obat untuk masalah  mental
  • Antibiotik untuk infeksi.

Perawatan lainnya dapat meliputi:

  • Perawatan endoskopi untuk vena yang membesar di kerongkongan (varises)
  • Pengeluaran cairan dari perut (parasentesis)
  • Penempatan transjugular intrahepatik portosystemic shunt (TIPS) untuk memperbaiki aliran darah di hati.

Ketika sirosis berkembang menjadi penyakit hati stadium akhir, transplantasi hati bisa diperlukan.

Segera hubungi dokter jika mengalami gejala sirosisHubungi unit gawat darurat segera jika mengalami:

  • Sakit perut atau dada
  • Pembengkakan perut atau asites yang baru atau tiba-tiba memburuk
  • Demam tinggi
  • Diare
  • Kebingungan atau perubahan kewaspadaan
  • Pendarahan dubur, muntah darah, atau darah dalam urin
  • Sesak napas
  • Muntah lebih dari sekali sehari
  • Kulit atau mata menguning (jaundice) yang baru atau memburuk dengan cepat.

Baca juga: 14 Gejala Sirosis Hati yang Perlu Diwaspadai

Komplikasi

Komplikasi sirosis dapat meliputi:

  • Gangguan pendarahan
  • Penumpukan cairan di perut (asites) dan infeksi cairan (peritonitis bakterial)
  • Pembesaran vena di kerongkongan, lambung, atau usus yang mudah berdarah (varises esofagus)
  • Peningkatan tekanan pada pembuluh darah hati (hipertensi portal)
  • Gagal ginjal (sindrom hepatorenal)
  • Kanker hati (karsinoma hepatoseluler)
  • Kebingungan mental, perubahan tingkat kesadaran, atau koma (ensefalopati hepatik).

Pencegahan

Kurangi risiko sirosis dengan mengambil langkah-langkah berikut untuk merawat hati:

  • Kurangi atau tidak sama sekali minum alkohol
  • Makan makanan yang sehat
  • Pertahankan berat badan yang sehat
  • Kurangi risiko hepatitis.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.