Kompas.com - 23/03/2021, 20:01 WIB
ilustrasi sendi Shutterstock/peterschreiber.mediailustrasi sendi

KOMPAS.com - Terdapat beberapa cara mengobati radang sendi sesuai jenisnya, salah satunya menggunakan obat-obatan.

Artritis atau radang sendi adalah kelainan sendi yang menyebabkan area tempat bertemunya dua tulang ini mengalami peradangan.

Saat meradang, bagian tubuh ini terasa sangat nyeri sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Radang Sendi: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati

Dilansir dari MedicineNet, terdapat lebih dari 100 jenis radang sendi yang berhasil diidentifikasi para ahli.

Jenis yang umum diderita antara lain osteoartritis karena kerusakan tulang rawan, rematik atau rheumatoid arthritis terkait penyakit autoimun, dan gout.

Melansir WebMD, penyebab radang sendi tergantung jenis penyakitnya. Beberapa hal yang dapat menyebabkan masalah kesehatan ini antara lain:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • Cedera
  • Kelainan metabolisme seperti kadar asam urat tinggi
  • Faktor keturunan
  • Infeksi virus dan bakteri
  • Gangguan sistem daya tahan tubuh

Saat terkena peradangan, biasanya tubuh akan melepaskan bahan kimia ke aliran darah atau jaringan tubuh.

Bahan kimia ini meningkatkan aliran darah ke area yang cedera atau terinfeksi. Imbasnya, area sendi yang meradang jadi kemerahan atau terasa hangat.

Beberapa bahan kimia yang menyebabkan cairan bocor ke jaringan sendi juga dapat memicu pembengkakan. Proses ini memengaruhi saraf dan menimbulkan rasa sakit.

Baca juga: Mengenal Macam-macam Sendi, Fungsi, dan Contohnya

Cara mengobati untuk radang sendi disesuaikan dengan jenis penyakit, usia, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan tingkat keparahan penyakit.

Umumnya, pemberian obat radang sendi bertujuan untuk meredakan nyeri, mempertahankan gerakan sendi, dan menjaga kekuatan otot.

Berikut beberapa jenis obat radang sendi yang biasanya diresepkan oleh dokter beserta fungsinya:

1. Obat penghilang rasa sakit

Melansir Mayo Clinic, obat penghilang rasa sakit berfungsi untuk membantu mengurangi nyeri pada radang sendi, tapi tidak mengatasi peradangan.

Contoh obat penghilang rasa sakit yang dijual tanpa resep dokter yakni acetaminophen (Tylenol, dll).

Apabila nyeri terasa parah dan obat penghilang rasa sakit biasa tidak mempan mengurangi rasa sakit, dokter biasanya meresepkan obat jenis opioid seperti tramadol (Ultram, ConZip), oxycodone (OxyContin, Roxicodone), atau hidrokodon (Hysingla, Zohydro ER).

Hal yang perlu diperhatikan, obat jenis opioid perlu pengawasan dokter. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat ini apabila digunakan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan ketergantungan.

Baca juga: 8 Penyebab Osteoporosis dan Faktor Risikonya

2. Nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID)

Obat antiperadangan nonsteroid atau nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID) berfungsi untuk mengurangi rasa sakit sekaligus peradangan.

Contoh NSAID yang dijual tanpa resep dokter antara lain ibuprofen (Advil, Motrin IB, dll.) dan naproxen (Aleve). Beberapa jenis NSAID tersedia hanya dengan resep dokter. Jenisnya bisa berupa krim, gel, obat oles, dan obat yang diminum.

Orang dengan masalah kesehatan tertentu perlu berkonsultasi ke dokter apabila ingin mengonsumsi NSAID.

Pasalnya, sebagian obat ini memiliki efek samping mengiritasi lambung dan dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.

Baca juga: Osteoporosis: Gejala, Penyebab, Cara Mencegah

3. Counterirritant

Obat radang sendi lainnya yakni jenis counterirritant berupa krim atau salep yang dioleskan pada bagian yang sakit.

Obat counterirritant biasanya mengandung bahan aktif mentol atau capsaicin yang terasa hangat di kulit.

Obat ini bekerja dengan mengganggu transmisi sinyal nyeri dari sendi, sehingga rasa sakit jadi teralihkan dengan rasa hangat di kulit.

4. Disease-modifying antirheumatic drug (DMARD)

Obat antirematik pemodifikasi penyakit atau disease-modifying antirheumatic drug (DMARD) berfungsi untuk mengobati radang sendi jenis rheumatoid arthritis yang disebabkan gangguan kekebalan tubuh.

Obat ini bekerja dengan menghentikan sistem daya tahan tubuh sementara agar tidak menyerang persendian penderitanya.

Contoh obat DMARD antara lain methotrexate (Trexall, Rasuvo, others) dan hydroxychloroquine (Plaquenil).

5. Obat pengubah respons biologis

Obat pengubah respons biologis fungsinya untuk mengobati radang sendi bersama dengan obat DMARD.

Ada beberapa jenis obat pengubah respons biologis, salah satu yang kerap diresepkan adalah inhibitor nekrosis tumor.

Contoh obat ini di antaranya etanercept (Enbrel, Erelzi, Eticovo) dan infliximab (Remicade, Inflectra, dll.).

Obat radang sendi sejenis ada juga yang menargetkan zat lain pemicu peradangan, seperti interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), enzim Janus kinase, dan jenis sel darah putih tertentu yang dikenal sebagai sel B dan sel T.

Baca juga: 8 Macam Kelainan pada Tulang Manusia yang Perlu Diwaspadai

6. Kortikosteroid

Obat kortikosteroid berfungsi untuk mengurangi peradangan dan menekan sistem daya tahan tubuh. Obat kortikosteroid ada yang diminum atau disuntikkan langsung ke bagian sendi yang sakit.

Contoh obat radang sendi kortikosteroid di antaranya prednison (Prednisone Intensol, Rayos) dan kortison (Cortef).

Konsultasikan dengan dokter untuk jenis obat radang sendi yang paling tepat sesuai kondisi penyakit.

Selain dengan obat, terkadang penderita radang sendi juga perlu perawatan fisioterapi dan operasi.

Dokter terkadang juga merekomendasikan alat seperti tongkat atau bidai untuk mengurangi tekanan pada persendian.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

Health
Penis Gatal

Penis Gatal

Penyakit
9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Health
Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS)

Penyakit
Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Health
Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran

Penyakit
Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Health
Fenilketonuria

Fenilketonuria

Penyakit
Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Health
Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum

Penyakit
3 Manfaat Kesehatan Buah Naga

3 Manfaat Kesehatan Buah Naga

Health
Seasonal Affective Disorder (SAD)

Seasonal Affective Disorder (SAD)

Penyakit
7 Gejala Pembekuan Darah di Otak yang Perlu Diwaspadai

7 Gejala Pembekuan Darah di Otak yang Perlu Diwaspadai

Health
Batu Ginjal

Batu Ginjal

Penyakit
Mengenal 3 Jenis Afasia yang Banyak Dialami Penderita Stroke

Mengenal 3 Jenis Afasia yang Banyak Dialami Penderita Stroke

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.