Kompas.com - 14/10/2021, 13:00 WIB
ilustrasi sindrom Stockholm ilustrasi sindrom Stockholm

KOMPAS.com - Sindrom Stockholm adalah respons psikologis yang umumnya dikaitkan dengan penculikan dan penyanderaan.

Orang yang mengalami sindrom Stockholm memiliki perasaan positif terhadap sang penculik atau pelaku.

Melansir webmd, sindrom Stockholm bukan diagnosis psikologis, melainkan cara untuk memahami respons emosional beberapa orang terhadap penculik atau pelaku.

Baca juga: Dampak Perselingkuhan bagi Kesehatan Mental

Dalam beberapa kasus langka, orang yang tersakiti atau menjadi sasaran pelecehan memiliki perasaan simpati atau pemikiran positif lainnya terhadap sang pelaku.

Kondisi ini dapat terjadi selama berhari-hari, bahkan bertahun-tahun dalam interaksi erat dengan sang pelaku.

Dilansir dari healthgrades.com, peneliti juga telah mengidentifikasi sindrom Stockholm dalam hubungan. Bahkan, dalam konteks kekerasan rumah tangga yang buruk.

Baik dalam kondisi penyanderaan ataupun hubungan, sindrom Stockholm dapat muncul saat pelaku tidak berbuat jahat atau menghentikan pelecehan dalam beberapa kurun waktu tertentu atau secara permanen.

Dalam konteks hubungan, proses penghentian kekerasan itu disebut fase bulan madu, ketika pelaku meminta maaf dan berjanji untuk menghentikan pelecehan.

Asal-usul

Sindrom Stockholm diduga telah terjadi sejak beberapa abad lalu. Namun, kondisi ini baru dikenal secara umum dan dinamai pada tahun 1973.

Pada saat itu, dua pria bernama Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson menyandera empat orang selama enam hari dalam perampokan bank di Stockholm, Swedia.

Setelah para sandera dibebaskan, keempat sandera itu menolak untuk bersaksi melawan para penculik mereka dan bahkan mengumpulkan uang sebagai bentuk pembelaan.

Para sandera mengungkapkan bahwa Olsson dan Olofsson memerlakukan mereka dengan baik dan tidak menyakiti mereka.

Baca juga: 5 Kata Toxic Positivy yang Berbahaya untuk Kesehatan Mental

Psikolog dan ahli kesehatan mental kemudian menetapkan istilah "sindrom Stockholm" untuk kondisi di mana sandera mengembangkan hubungan emosional atau psikologis dengan sang penahan.

Meski menjadi sebuah kondisi yang dikenal umum, sindrom Stockholm tidak diakui oleh The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi terbaru (DSM-5).

DSM merupakan panduan yang digunakan ahli kesehatan mental atau spesialis lain untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental.

Penyebab

Sindrom Stockholm belum sepenuhnya diketahui oleh banyak peneliti, psikolog, ataupun kriminolog. Masih ada perdebatan jika sindrom ini merupakan sesuatu yang nyata.

Melansir medicalnewstoday, para ahli menduga bahwa sindrom Stockholm dapat berkembang saat:

  • penculik memerlakukan korbannya secara manusiawi
  • tawanan dan penculik memiliki interaksi tatap muka yang signifikan, memberikan peluang untuk terikat satu sama lain
  • para tawanan merasa bahwa aparat penegak hukum tidak melakukan pekerjaan mereka dengan cukup baik
  • tawanan berpikir bahwa polisi dan pihak berwenang lainnya tidak memiliki komitmen yang kuat

Gejala

Beberapa tanda yang dapat timbul pada penderita Stockholm Syndrome:

Baca juga: Bukan Cuma Berat, Rindu Juga Berdampak Buruk Pada Kesehatan Mental

  • korban mengembangkan perasaan positif terhadap pelaku
  • korban mengembangkan perasaan negatif terhadap polisi atau pihak berwenang lainnya yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari sang pelaku
  • korban mungkin menolak untuk bekerja sama melawan sang pelaku
  • korban mulai memahami pola pikir sang pelaku dan merasa mereka memiliki tujuan dan nilai yang sama
  • korban merasa iba dengan sang pelaKu

Setelah bebas, korban mungkin akan tetap memiliki perasaan positif terhadap sang pelaku.

Namun, terdapat kemungkinan mereka juga akan mengalami:

  • kilas balik
  • depresi
  • kecemasan
  • gangguan stres pascatrauma
  • perasaan bersalah
  • kebingungan
  • rasa malu akan perasaan mereka terhadap pelaku

Perawatan

Jika menduga bahwa Anda atau orang di sekitar Anda memiliki sindrom Stockholm, segera cari bantuan.

Dalam jangka pendek, terapi dan perawatan psikologis untuk gangguan stres pascatrauma dapat membantu meringankan masalah langsung terkait pemulihan seperti kecemasan dan depresi.

Baca juga: Apa Dampak Ghosting bagi Kesehatan Mental

Psikoterapi jangka panjang juga dapat menjadi alternatif penanganan.

Ahli kesehatan mental akan mengajari cara yang tepat untuk memahami hal yang terjadi dan bagaimana cara untuk bergerak maju.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Insomnia Berbahaya bagi Kesehatan?

Apakah Insomnia Berbahaya bagi Kesehatan?

Health
Vaskulitis

Vaskulitis

Penyakit
4 Macam Minyak Goreng Paling Sehat

4 Macam Minyak Goreng Paling Sehat

Health
Disleksia

Disleksia

Penyakit
7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Sebabkan Serangan Jantung

7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Sebabkan Serangan Jantung

Health
Distonia

Distonia

Penyakit
9 Makanan untuk Menghilangkan Bekas Jerawat

9 Makanan untuk Menghilangkan Bekas Jerawat

Health
Sindrom Mallory-Weiss

Sindrom Mallory-Weiss

Penyakit
Apa Dampak Buruk Penggunaan Minyak Jelantah terhadap Kesehatan?

Apa Dampak Buruk Penggunaan Minyak Jelantah terhadap Kesehatan?

Health
Cedera Tendon Achilles

Cedera Tendon Achilles

Penyakit
11 Cara Menghilangkan Serak secara Alami, Obat, atau Perawatan Medis

11 Cara Menghilangkan Serak secara Alami, Obat, atau Perawatan Medis

Health
Multiple Myeloma

Multiple Myeloma

Penyakit
5 Makanan untuk Menaikkan Trombosit Anak secara Alami

5 Makanan untuk Menaikkan Trombosit Anak secara Alami

Health
11 Cara Mudah Mengatasi Leher Gatal

11 Cara Mudah Mengatasi Leher Gatal

Health
Kenali Apa itu Vaginismus, Gangguan Susah Penetrasi Vagina

Kenali Apa itu Vaginismus, Gangguan Susah Penetrasi Vagina

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.