Kompas.com - 26/11/2021, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Sindrom Cotard merupakan salah satu dari serangkaian delusi saat seseorang yakin telah kehilangan organ, darah, atau bagian tubuh, dan bersikeras telah kehilangan jiwa atau mati.

Sindrom Cotard relatif langka. Kondisi ini pertama kali dijelaskan oleh Dr. Jules Cotard pada 1882.

Meskipun gejala yang timbul cukup ekstrem, sindrom Cotard masih bisa ditangani.

Baca juga: Sering Tidak Disadari, Perhatikan Gejala Gangguan Delusi

Sindrom ini dapat terjadi pada hampir semua usia, umumnya orang di awal usia 50-an.

Selain itu, banyak kasus mengalami kondisi ini dengan riwayat masalah kesehatan mental, khususnya:

  • depresi
  • kecemasan
  • skizofrenia
  • penyalahgunaan zat adiktif.

Sindrom ini juga dapat muncul karena kerusakan otak akibat:

  • stroke
  • tumor
  • gumpalan darah
  • luka.

Sindrom Cotard juga dapat menyebabkan gangguan bipolar pada remaja dan dewasa muda.

Gejala

Penderita sindrom Cotard cenderung memilih untuk tidak berinteraksi dengan banyak orang.

Bahkan, penderitanya mungkin berhenti berbicara sama sekali.

Beberapa di antaranya juga mungkin mendengar suara yang memberitahu bahwa mereka sudah mati atau sekarat.

Lalu, terdapat juga kasus penderita menolak makan (salah satunya, tidak melihat esensi makan karena mereka sudah "mati").

Baca juga: Halusinasi

Dalam beberapa kasus juga terdapat penderita sindrom Cotard yang mencoba untuk menyakiti diri sendiri.

Melansir Web MD, sebuah terdapat kasus pada 2008 saat seorang wanita di AS berusia 53 tahun dilaporkan oleh keluarganya melalui layanan telepon darurat.

Wanita itu percaya dirinya sudah mati dan berbau seperti ikan yang membusuk.

Wanita itu juga minta untuk dibawa ke kamar mayat karena ingin bersama orang yang sudah meninggal.

Penyebab

Belum diketahui secara pasti penyebab sindrom Cotard. Beberapa kondisi tertentu diduga menyebabkan kondisi ini:

  • demensia (kehilangan memori dan penilaian)
  • ensefalopati (kondisi saat virus atau racun memengaruhi otak)
  • sklerosis ganda (penyakit serius yang melumpuhkan otak dan sumsum tulang belakang)
  • penyakit Parkinson (kerusakan sel saraf otak yang menyebabkan gemetar, kaku, dan kesulitan berjalan)
  • pukulan
  • pendarahan subdural (pendarahan di luar otak)
  • epilepsi
  • migrain.

Diagnosis

Kondisi ini dapat dengan mudah teridentifikasi. Masalah sebenarnya terdapat dari kondisi yang mendasari terjadinya sindrom Cotard.

Baca juga: Halusinasi: Penyebab, Jenis, hingga Cara Mengatasinya

Lalu, belum ada aturan khusus untuk mendiagnosis kondisi ini.

Dokter mungkin akan melakukan diagnosis untuk mengesampingkan kondisi lain yang terlihat serupa, seperti sindrom Cagras.

Sindrom Cagras adalah kondisi saat seseorang bersikeras teman atau kerabat mereka telah digantikan dengan palsu identik. Kondisi tersebut juga disebut sebagai sindrom penipu.

Perawatan

Penanganan untuk sindrom Cotard melibatkan terapi obat dan terapi bicara yang disebut terapi perilaku kognitif (CBT) atau psikoterapi.

Beberapa pengobatan yang dapat digunakan untuk menangani sindrom Cotard, yaitu:

  • antipsikotik
  • antiansietas
  • terapi elektrokonvulsif (ECT).

Terapi ECT melibatkan pengiriman arus kecil melalui otak. Aksi tersebut dapat mengubah kimia otak untuk meredakan beberapa gejala.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Flu Tulang
Flu Tulang
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

12 Obat Batuk Herbal dari Bahan Makanan Rumahan

12 Obat Batuk Herbal dari Bahan Makanan Rumahan

Health
4 Cara Mengatasi Obesitas secara Alami

4 Cara Mengatasi Obesitas secara Alami

Health
7 Gejala Kanker Darah Stadium Awal yang Perlu Diwaspadai

7 Gejala Kanker Darah Stadium Awal yang Perlu Diwaspadai

Health
4 Cara Mencegah Obesitas, mulai dari Bayi sampai Dewasa

4 Cara Mencegah Obesitas, mulai dari Bayi sampai Dewasa

Health
6 Warna Keputihan dan Artinya Bagi Kesehatan Anda

6 Warna Keputihan dan Artinya Bagi Kesehatan Anda

Health
Tips Menjaga Kesehatan Hati Penting Diketahui

Tips Menjaga Kesehatan Hati Penting Diketahui

Health
Begini Cara Mencegah Cacar Monyet, Agar Tetap Indonesia 0 Kasus

Begini Cara Mencegah Cacar Monyet, Agar Tetap Indonesia 0 Kasus

Health
Macam-macam Penyebab Penyakit Kanker yang Penting Diperhatikan

Macam-macam Penyebab Penyakit Kanker yang Penting Diperhatikan

Health
13 Kanker yang Disebabkan Obesitas

13 Kanker yang Disebabkan Obesitas

Health
Bolehkan Tidur Setelah Makan?

Bolehkan Tidur Setelah Makan?

Health
Kanker Lidah

Kanker Lidah

Penyakit
Mengapa Kita Sering Merasa Lapar?

Mengapa Kita Sering Merasa Lapar?

Health
4 Jenis Makanan Ini Bisa Bantu Anda Tidur Nyenyak

4 Jenis Makanan Ini Bisa Bantu Anda Tidur Nyenyak

Health
5 Beda Cacar Air dan Flu Singapura yang Sekilas Gejalanya Mirip

5 Beda Cacar Air dan Flu Singapura yang Sekilas Gejalanya Mirip

Health
Makanan untuk Penderita Kanker Ovarium

Makanan untuk Penderita Kanker Ovarium

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.