Kompas.com - 29/09/2021, 14:00 WIB

KOMPAS.com - Stroke hemoragik merupakan salah satu jenis stroke yang kurang umum. Stroke jenis ini terjadi saat pembuluh darah pecah dan berdarah di otak.

Hanya dalam beberapa menit, sel-sel otak dapat mati.

Beberapa penyebabnya termasuk aneurisma berdarah, malformasi arteriovenosa (AVM), atau dinding arteri yang pecah.

Baca juga: Kenali Apa itu Stroke Hemoragik dan Gejalanya

Gejala

Stroke hemoragik juga umum disebut sebagai perdarahan intraserebral. Gejalanya bervariasi bagi tiap penderitanya, tapi hampir selalu muncul segera setelah stroke terjadi.

Gejala stroke hemoragik dapat meliputi:

  • kehilangan kesadaran total atau terbatas
  • mual
  • muntah
  • sakit kepala parah secara tiba-tiba
  • kelemahan atau mati rasa di wajah, kaki, atau lengan di satu sisi tubuh
  • kejang
  • pusing
  • kehilangan kontrol koordinasi tubuh
  • sulit bicara atau menelan
  • kebingungan atau disorientasi

Segera bawa orang dengan gejala di atas ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Stroke merupakan kondisi yang dapat mengancam nyawa.

Penyebab

Stroke hemoragik dapat terjadi saat pembuluh darah di otak bocor atau pecah. Terdapat banyak kondisi yang dapat memengaruhi kondisi pembuluh darah.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan stroke hemoragik meliputi:

Baca juga: Bagaimana Darah Tinggi Bisa Menyebabkan Stroke?

  • tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
  • pengobatan berlebihan dengan pengencer darah (antikoagulan)
  • tonjolan di titik lembah dinding pembuluh darah (aneurisma)
  • trauma (seperti kecelakaan mobil)
  • adanya deposit protein pada dinding pembuluh darah (cerebral amyloid angiopathy)
  • vaskulitis

Stroke iskemik juga dapat menyebabkan pendarahan di otak.

Selain itu, salah satu penyebab yang kurang umum adalah karena pecahnya jalinan abnormal pembuluh darah yang berdinding tipis (malformasi arteriovenosa).

Faktor Risiko

Risiko stroke hemoragik dapat meningkat dengan faktor-faktor berikut:

  • usia lanjut
  • hipertensi (hingga 60 persen kasus)
  • memiliki riwayat stroke
  • penyalahgunaan alkohol
  • penggunaan obat-obatan terlarang (kokain, atau obat simpatomimetik lainnya)

Diagnosis

Seseorang yang diduga mengalami stroke akan dibawa untuk menjalani tes laboratorium lengkap.

Beberapa tes yang mungkin dilakukan seperti menghitung darah lengkap (CBC), panel metabolik, dan studi koagulasi (bagi pasien yang menggunakan antikoagulan).

Baca juga: 8 Makanan untuk Penderita Stroke

Pencitraan otak menggunakan MRI atau CT scan juga merupakan langkah penting untuk mengevaluasi dugaan stroke hemoragik.

Perawatan

Perawatan darurat stroke hemoragik berfokus pada pengendalian pendarahan dan mengurangi tekanan di otak.

Pilihan pengobatan dapat meliputi:

  • Tindakan darurat. Pasien yang mengkonsumsi obat pengencer darah sebagai upaya mencegah pembekuan darah kemungkinan akan diberikan obat atau transfusi produk untuk melawan efeknya. Pasien juga mungkin akan diberikan obat untuk menurunkan tekanan di otak (tekanan intrakranial). Selain itu, menurunkan tekanan darah, mencegah kejang pembuluh darah, dan kejang-kejang.
  • Operasi. Jika area pendarahan besar, dokter mungkin akan melakukan operasi untuk mengeluarkan darah dan mengurangi tekanan pada otak. Pembedahan juga dapat dilakukan untuk memperbaiki masalah pembuluh darah yang berkaitan dengan stroke hemoragik. Dokter mungkin akan menganjurkan penanganan ini jika aneurisma atau AVM menjadi penyebab stroke.
  • Klip bedah. Ahli bedah akan menempatkan penjepit kecil di dasar aneurisma untuk memberhentikan aliran darah. Klip ini juga dapat menjaga agar aneurisma tidak pecah dan mencegah adanya perdarahan lagi.
  • Embolisasi endovaskular. Menggunakan kateter yang dimasukkan ke arteri melalui selangkangan untuk menempatkan gulungan kecil. Gulungan tersebut dapat menghalangi aliran darah ke aneurisma yang menyebabkan darah menggumpal.
  • Pengangkatan AVM bedah. Ahli bedah dapat mengangkat AVM yang lebih kecil jika terletak di area yang dapat diakses pada otak. Prosedur ini dapat menurunkan risiko pecahnya aneurisme dan stroke hemoragik. Namun, pengangkatan ini menjadi sulit jika AVM terletak terlalu jauh, berukuran besar, atau terlalu berdampak serius pada fungsi otak.
  • Radiosurgery stereotactic. Penggunaan beberapa sinar radiasi yang sangat terfokus. Perawatan invasif yang dapat memperbaiki malformasi pembuluh darah.

Baca juga: Stroke pada Anak: Gejala, Penyebab, Efek, hingga Cara Mengobati

Pemulihan

Dibutuhkan rehabilitasi dan terapi bagi penderita stroke hemoragik yang tergantung pada tingkat keparahan dan jumlah kerusakan jaringan yang terjadi.

Beberapa terapi yang biasa dilakukan, termasuk:

  • terapi fisik
  • terapi okupasi
  • terapi wicara

Tujuan utama terapi adalah mengembalikan fungsi tubuh sebanyak mungkin.

Pencegahan

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya stroke secara signifikan:

  • makan makanan sehat
  • olahraga teratur
  • tidak minum terlalu banyak alkohol
  • tidak merokok
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.