Kompas.com - 26/12/2021, 19:00 WIB

KOMPAS.com - Sindrom pernapasan akut parah (SARS) adalah bentuk pneumonia yang serius.

Infeksi virus SARS menyebabkan gangguan pernapasan akut (kesulitan bernapas yang parah), dan terkadang kematian.

Setelah terpapar SARS, dibutuhkan antara dua hingga 10 hari untuk penyakit berkembang.

Baca juga: Sama-sama Virus Corona: Perbedaan SARS, MERS, dan Pneumonia Wuhan

Seperti halnya flu biasa, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang melakukan kontak dengan virus mengembangkan penyakit.

Penyebab

SARS disebabkan oleh SARS-associated coronavirus (SARS-CoV), salah satu keluarga coronavirus.

Epidemi SARS dimulai pada tahun 2003 ketika virus menyebar dari mamalia kecil ke orang-orang di Cina.

Wabah ini dengan cepat mencapai proporsi global, tetapi dapat diatasi pada tahun 2003. Tidak ada kasus baru SARS yang dilaporkan sejak tahun 2004.

Ketika seseorang dengan SARS batuk atau bersin, tetesan yang terinfeksi menyebar ke udara dan dapat menginfeksi orang lain yang terpapar.

Sementara penyebaran tetesan melalui kontak dekat menyebabkan sebagian besar kasus SARS awal, SARS mungkin juga menyebar melalui tangan dan benda lain yang telah disentuh tetesan.

Penularan melalui udara adalah kemungkinan nyata dalam beberapa kasus.

Virus hidup bahkan telah ditemukan di tinja orang dengan SARS.

Tetapi tidak diketahui berapa lama seseorang dapat menularkan setelah gejala muncul.

Gejala

Melansir MedlinePlus, gejala utama SARS antara lain:

Baca juga: Coronavirus

  • Batuk
  • Sulit bernapas
  • Demam 38 derajat Celcius atau lebih tinggi
  • Gejala pernapasan lainnya

Gejala lain yang umum meliputi:

  • Dingin dan gemetar
  • Batuk, biasanya mulai dua hingga tujuh hari setelah gejala lain
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Kelelahan

Gejala yang kurang umum meliputi:

  • Batuk yang menghasilkan dahak
  • Diare
  • Pusing
  • Mual dan muntah

Pada beberapa orang, gejala paru-paru memburuk selama minggu kedua sakit, bahkan setelah demam berhenti.

Diagnosis

Pada kebanyakan orang dengan SARS, rontgen dada atau CT dada menunjukkan pneumonia, yang khas dengan SARS.

Tes yang digunakan untuk mendiagnosis SARS antara lain:

Baca juga: Lawan Virus Corona, Begini Langkah Mencuci Tangan yang Benar

  • Tes darah arteri
  • Tes pembekuan darah
  • Tes kimia darah
  • Rontgen dada atau CT scan dada
  • Hitung darah lengkap (CBC)

Tes yang digunakan untuk mengidentifikasi virus penyebab SARS dengan cepat meliputi:

  • Tes antibodi untuk SARS
  • Isolasi langsung virus SARS
  • Tes reaksi berantai polimerase cepat (PCR) untuk virus SARS

Perawatan

Jika ada yang dicurigai menderita SARS, mereka harus diisolasi di rumah sakit.

Perawatan bagi pasien SARS antara lain:

  • Antibiotik untuk mengobati bakteri penyebab pneumonia (sampai pneumonia bakterial disingkirkan atau jika ada pneumonia bakterial selain SARS) dan untuk mengobati infeksi bakteri yang dapat terjadi selain SARS
  • Oksigen, bantuan pernapasan (ventilasi mekanis), atau terapi dada

Dalam beberapa kasus serius, bagian cair darah dari orang yang telah sembuh dari SARS telah diberikan sebagai pengobatan.

Meski begitu, tidak ada bukti kuat bahwa perawatan ini bekerja dengan baik.Juga ada bukti bahwa obat antivirus, ribavirin, tidak efektif.

Hubungi dokter segera jika menderita gejala menyerupai SARS.

Komplikasi

SARS dapat menyebabkan komplikasi seperti:

Baca juga: Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Terpapar Virus Corona

  • Kegagalan pernapasan
  • Gagal hati
  • Gagal jantung
  • Masalah ginjal

Pencegahan

Saat ini, tidak ada penularan SARS yang diketahui di mana pun di dunia.

Jika wabah SARS terjadi, mengurangi kontak dengan orang yang menderita SARS akan menurunkan risiko penyakit tersebut.

Hindari bepergian ke tempat-tempat di mana ada wabah SARS yang tidak terkendali.

Jika memungkinkan, hindari kontak langsung dengan penderita SARS hingga setidaknya 10 hari setelah demam dan gejala lainnya hilang.

Panduan pencegahan lain yang direkomendasikan meliputi:

  • Cuci tangan atau bersihkan dengan pembersih tangan instan berbasis alkohol
  • Tutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk
  • Janganberbagi makanan, minuman, atau peralatan makan.
  • Bersihkan permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan
  • Gunakan masker
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.