Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/02/2022, 15:00 WIB

KOMPAS.com - Hampir semua orang pernah mengalami demam, termasuk anak-anak. Demam pada anak merupakan kondisi ketika suhu tubuh anak lebih dari 37 derajat celsius.

Demam menandakan bahwa terdapat sesuatu yang tidak beres dalam tubuh anak dan dianggap sebagai respons alami tubuh terhadap berbagai penyakit, termasuk infeksi.

Normalnya, suhu tubuh anak berkisar antara 36 sampai 37 derajat celsius.

Baca juga: 5 Cara Menurunkan Demam pada Anak Tanpa Obat

Seorang anak dianggap mengalami demam ketika memiliki suhu tubuh berikut:

  • Di atas 37,2 derajat celsius jika diukur di ketiak
  • Di atas 37,8 derajat celsius jika diukur di mulut
  • Di atas 38 derajat celsius jika diukur di anus (rektal), telinga, atau dahi.

Kenaikan suhu tubuh anak dapat berkembang secara bertahap dalam beberapa hari ataupun secara tiba-tiba.

Meski umumnya demam tidak berbahaya dan dapat sembuh dalam tiga hari, demam pada anak harus tetap diwaspadai.

Hal ini dikarenakan demam yang terjadi pada anak berusia enam bulan hingga enam tahun dapat memicu kejang.

Jika kening anak terasa hangat saat disentuh atau wajah anak terlihat memerah maka orang tua dapat menggunakan termometer guna mengukur suhu tubuhnya.

Gejala

Merangkum Mayo Clinic dan eMedicine Health, gejala demam adalah kenaikan suhu tubuh hingga lebih dari 38 derajat celsius.

Selain itu, gejala demam juga dapat bervariasi sesuai dengan kondisi yang mendasarinya. Berikut beberapa gejala lainnya:

  1. Tubuh terasa hangat atau lebih panas saat disentuh
  2. Berkeringat
  3. Menggigil dan kedinginan
  4. Sakit kepala
  5. Nyeri otot atau pegal-pegal
  6. Nafsu makan berkurang
  7. Rewel
  8. Volume urine berkurang
  9. Tidak mau menyusu, minum, atau makan
  10. Lemas
  11. Kulit terlihat kemerahan
  12. Anak terlihat lesu atau lebih mengantuk
  13. Anak tidak aktif dan banyak bicara seperti biasanya.

Baca juga: 5 Cara Mengompres yang Benar Agar Demam Anak Cepat Turun

Orang tua harus segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami gejala yang lebih serius, seperti:

  1. Demam tidak kunjung mereda hingga lebih dari tiga hari
  2. Sering mengalami demam
  3. Gejala dehidrasi, seperti jarang buang air kecil, menangis tanpa air mata, atau mulut kering
  4. Leher terasa kaku
  5. Nyeri perut hebat
  6. Kesulitan bernapas
  7. Telinga terasa nyeri
  8. Sakit tenggorokan
  9. Ruam
  10. Diare atau muntah berkepanjangan
  11. Sakit kepala hebat
  12. Sesak napas
  13. Ruam atau bintik keunguan, seperti memar pada kulit
  14. Nyeri saat buang air kecil
  15. Penurunan kesadaran
  16. Kejang.

Penyebab

Dirangkum dari situs Seattle Children's Hospital dan Better Health Channel, berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan demam pada anak:

  • Infeksi virus, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)
  • Infeksi bakteri, seperti radang amandel atau tonsilitis, pneumonia bakterial, infeksi saluran kemih, atau meningitis
  • Infeksi lain, misalnya malaria yang dapat menyebabkan demam tifoid
  • Heatstroke, terjadi akibat terlalu lama berada di luar ruangan saat cuaca sedang panas atau menggunakan pakaian yang terlalu tebal
  • Reaksi alergi atau efek samping dari obat-obatan tertentu
  • Kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), biasanya muncul dalam waktu 12 jam setelah imunisasi dan berlangsung selama dua hingga tiga hari.

Baca juga: Alasan Air Hangat Lebih Tepat untuk Mengompres Anak Demam

Diagnosis

Melansir eMedicine Health, suhu tubuh anak dapat diukur dengan termometer digital yang dapat digunakan di mulut, ketiak, telinga, atau dubur.

Pemeriksaan termometer melalui dubur lebih disarankan untuk hasil yang lebih akurat.

Akan tetapi, orang tua sebaiknya tidak menggunakan termometer yang berisi air raksa atau merkuri karena sangat berbahaya jika pecah.

Selain itu, dokter mungkin akan menanyakan riwayat kesehatan orang tua dan anak (pasien), serta pemeriksaan fisik pada anak.

Untuk memastikan diagnosis, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Rontgen
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kondisi dada, paru-paru, atau jantung.
    Dokter akan menyarankan foto rontgen jika demam pada anak disertai gejala batuk, nyeri dada, atau sesak napas.
  • Tes darah
    Tes darah dilakukan untuk mendeteksi infeksi bakteri atau virus dan mengetahui seberapa baik daya tahan tubuh anak.
    Selain itu, tes darah juga dapat dilakukan untuk mengukur kadar elektrolit guna mendeteksi dehidrasi pada anak.
  • Tes urine
    Tes urine, seperti urinalisis dan kultur urine dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi pada saluran kemih, serta adanya bakteri dalam urine,
  • Pungsi lumbal
    Pada pemeriksaan ini dokter akan mengambil sampel cairan tulang belakang dengan menusukkan jarum ke celah tulang belakang.
    Selanjutnya, dokter akan memeriksa sampel tersebut di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan apabila anak diduga mengalami meningitis.

Baca juga: 8 Gejala Demam pada Anak yang Perlu Ditangani Dokter

Perawatan

Merangkum Mayo Clinic dan Healthdirect, demam pada anak biasanya dapat ditangani secara mandiri di rumah.

Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan secara mandiri untuk membantu mengatasi demam pada anak:

  1. Berikan pakaian dan selimut yang tipis
  2. Atur suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin
  3. Pastikan asupan cairan pada anak tetap terjaga guna mencegah dehidrasi, seperti ASI, susu formula, atau air putih
  4. Hindari memaksa anak untuk makan terlalu banyak, tetapi tetap beri mereka makanan dalam jumlah yang secukupnya
  5. Kompres kening anak dengan handuk atau kain hangat.

Selain itu, pemberian obat penurun demam yang dijual bebas, seperti parasetamol dan ibuprofen juga dapat mengatasi demam pada anak.

Namun, penggunaan obat-obatan ini tetap harus sesuai dengan petunjuk penggunaan dan anjuran dari dokter.

Perlu diingat bahwa orang tua sebaiknya tidak memberikan obat aspirin pada anak karena dapat memicu sindrom Reye.

Pada kasus demam yang lebih parah, dokter mungkin akan melakukan penanganan berikut:

  1. Pemberian antibiotik, untuk mengatasi infeksi bakteri, seperti pneumonia dan radang tenggorokan
  2. Pemberian antivirus, untuk mengatasi infeksi virus
  3. Cairan infus, untuk mengatasi dehidrasi
  4. Rawat inap di rumah sakit, untuk mengatasi infeksi yang lebih serius, seperti meningitis.

Baca juga: 5 Cara Mengatasi Demam pada Anak di Rumah

Komplikasi

Menurut Mayo Clinic, demam pada anak berusia enam bulan sampai lima tahun dapat memicu kejang demam.

Kejang demam dapat menimbulkan gejala berupa kehilangan kesadaran dan tubuh gemetar.

Meskipun tampak mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya tidak menimbulkan dampak serius dan hanya berlangsung selama beberapa menit.

Ketika anak mengalami kejang demam maka orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Posisikan anak berbaring miring atau bertumpu pada perut di lantai
  • Singkirkan benda tajam yang ada di dekat anak
  • Longgarkan pakaian anak
  • Pegang anak untuk mencegah cedera
  • Jangan memasukkan sesuatu apa pun ke dalam mulut anak.

Jangan pernah mencoba untuk menghentikan kejang pada anak karena umumnya kejang akan berhenti dengan sendirinya.

Setelah kejang berhenti, segera bawa anak ke dokter untuk mengetahui penyebab demam pada anak.

Segera cari pertolongan medis apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit.

Pencegahan

Merangkum dari Mayo Clinic dan eMedicine Health, demam pada anak dapat dicegah dengan menghindari penyakit yang mendasarinya.

Baca juga: Bawang Merah Terbukti Ampuh Atasi Demam pada Anak, Ini Cara Kerjanya

Tindakan pencegahan harus dilakukan oleh semua anggota keluarga, termasuk anak. Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air, serta ajarkan kebiasaan mencuci tangan ini pada anak, terutama setelah dari toilet atau sebelum makan
  • Selalu menutup mulut dan hidung saat bersin dan batuk
  • Pastikan tangan dalam keadaan bersih saat mengolah atau menyiapkan makanan
  • Melakukan imunisasi anak sesuai jadwal
  • Konsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, termasuk buah dan sayur
  • Pastikan anak cukup tidur dan beristirahat
  • Membawa hand sanitizer untuk membersihkan tangan saat tidak ada air dan sabun
  • Hindari menyentuh area yang rentan dimasuki virus dan bakteri, seperti hidung, mulut, atau mata
  • Hindari berbagi penggunaan alat makan dan minum dengan orang lain.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Indeks Penyakit


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+