3 Faktor yang Memengaruhi Tinggi Badan

Kompas.com - 12/10/2020, 18:02 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Faktor utama yang memengaruhi tinggi badan seseorang adalah susunan genetiknya.

Namun, banyak faktor lain yang dapat memengaruhi tinggi badan selama masa perkembangan, termasuk nutrisi, hormon, tingkat aktivitas, dan kondisi medis.

Melansir WebMD, Para ilmuwan percaya bahwa susunan genetik atau DNA, bertanggung jawab atas sekitar 80 persen tinggi badan seseorang.

Baca juga: Jangan Ragu Mencoba, Ini 10 Cara Menambah Tinggi Badan Secara Alami

Artinya, misalnya, orang bertubuh tinggi cenderung memiliki anak yang juga bertubuh tinggi.

Orang biasanya tumbuh hingga mencapai usia 18 tahun.

Sebelumnya, berbagai faktor lingkungan dapat memengaruhi seberapa tinggi seseorang.

Faktor yang memengaruhi tinggi badan

Bayi dan anak tumbuh terus menerus.Ini karena terjadi perubahan pada pelat pertumbuhan pada tulang panjang lengan dan kaki mereka.

Saat pelat pertumbuhan atau bisa juga disebut lempeng epifisis membuat tulang baru, tulang panjang menjadi lebih panjang, dan anak pun menjadi lebih tinggi.

Orang tumbuh paling cepat dalam 9 bulan pertama kehidupan, sebelum dilahirkan.

Setelah lahir, pertumbuhan ini akan melambat.

Setelah seorang anak berusia 8 tahun, mereka akan tumbuh rata-rata 5,5 cm per tahun.

Konon, remaja akan mengalami “percepatan pertumbuhan” di sekitar masa pubertas.

Setelah ini, pelat pertumbuhan berhenti membuat tulang baru dan orang tersebut akan berhenti tumbuh.

Baca juga: 11 Makanan untuk Menambah Tinggi Badan

Tangan dan kaki berhenti tumbuh dulu, lalu iliran lengan dan tungkai.

Area terakhir yang berhenti tumbuh adalah tulang belakang.

Karena proses penuaan yang khas, orang mulai menurunkan tinggi badan secara bertahap seiring bertambahnya usia.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi tinggi badan seseorang:

1. DNA

DNA adalah faktor utama penentu tinggi badan seseorang.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 700 gen berbeda yang menentukan tinggi badan.

Beberapa dari gen ini memengaruhi pelat pertumbuhan (growth plate) dan yang lainnya memengaruhi produksi hormon pertumbuhan.

Baca juga: 13 Makanan yang Mengandung Vitamin A Tinggi

Kisaran tinggi badan normal berbeda untuk orang dari latar belakang etnis yang berbeda.

Sekali lagi, hal ini ditentukan oleh DNA masing-masing.

Beberapa kondisi genetik juga dapat memengaruhi tinggi badan orang dewasa, termasuk Down Syndrome dan sindrom Marfan.

2. Hormon

Tubuh dapat memproduksi hormon yang menginstruksikan pelat pertumbuhan atau dikenal juga sebagai lempeng epifisis untuk membuat tulang baru.

Ini termasuk:

  • Hormon pertumbuhan

Hormon ini dibuat di kelenjar pituitari dan merupakan hormon terpenting untuk pertumbuhan.

Beberapa kondisi kesehatan dapat membatasi jumlah hormon pertumbuhan yang diproduksi tubuh dan ini dapat memengaruhi tinggi badan.

Anak-anak dengan kondisi genetik langka yang disebut defisiensi hormon pertumbuhan bawaan, misalnya, akan tumbuh jauh lebih lambat dibandingkan anak-anak lain.

Baca juga: 9 Makanan yang Mengandung Kalsium Tinggi

  • Hormon tiroid

Kelenjar tiroid membuat hormon yang memengaruhi pertumbuhan.

  • Hormon seks

Testosteron dan estrogen sangat penting untuk pertumbuhan selama masa pubertas.

3. Seks

Pria cenderung lebih tinggi dari wanita.

Pria juga dapat terus tumbuh lebih lama dari wanita.

Rata-rata, pria dewasa lebih tinggi 14 cm daripada wanita dewasa.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, rata-rata pria memiliki tinggi 175,2 cm dan rata-rata wanita memiliki tinggi 161,5 cm.

Baca juga: 14 Makanan yang Mengandung Vitamin C Tinggi

Cara menambah tinggi badan selama masa pertumbuhan

Harus dipahami, orang tidak dapat mengontrol sebagian besar faktor yang memengaruhi tinggi badan.

Ini karena tinggi badan ditentukan oleh DNA yang tidak dapat diubah.

Namun, beberapa faktor lain dapat meningkatkan atau mengurangi pertumbuhan selama masa kanak-kanak dan pubertas.

Anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh dapat mengambil beberapa langkah untuk memaksimalkan tinggi badan yang diwariskan orang mereka. 

Melansir Health Line, berikut ini adalah beberapa cara mengoptimalkan pertumbuhan badan anak yang dapat dilakukan:

1. Makan makanan dengan gizi seimbang

Selama masa pertumbuhan, sangat penting bagi seorang anak untuk mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Diet mereka harus mencakup:

  • Buah segar
  • Sayuran segar
  • Biji-bijian
  • Protein
  • Produk susu

Baca juga: 17 Makanan yang Mengandung Protein Tinggi

Sementara, anak-anak harus membatasi atau menghindari makanan yang mengandung:

  • Gula
  • Lemak trans
  • Lemak jenuh

Sementara itu, jika kondisi medis yang mendasari atau usia yang lebih tua menyebabkan tinggi badan seseorang menurun dengan memengaruhi kepadatan tulang, tingkatkan asupan kalsium sebagai solusinya.

Wanita yang berusia di atas 50 tahun dan pria di atas 70 tahun sering kali disarankan untuk mengonsumsi 1.200 miligram (mg) kalsium per hari.

Vitamin D juga baik diasup untuk meningkatkan kesehatan tulang.

Baca juga: 10 Makanan yang Mengandung Vitamin D Tinggi

Sumber vitamin D yang umum termasuk tuna, susu yang diperkaya, dan kuning telur.

Jika asupan vitamin D dari makan dirasa kurang, Anda bisa mengambil suplemen atas persetujuan dokter.

2. Gunakan suplemen dengan hati-hati

Hanya ada beberapa kasus di mana suplemen mungkin sesuai untuk meningkatkan tinggi badan pada anak-anak dan memerangi penyusutan pada orang dewasa yang lebih tua.

Misalnya, jika anak memiliki kondisi yang memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia (HGH), dokter mungkin merekomendasikan suplemen yang mengandung HGH sintetis.

Sedngkan, orang dewasa mungkin ingin mengonsumsi suplemen vitamin D atau kalsium untuk mengurangi risiko osteoporosis.

3. Dapatkan waktu tidur yang cukup

Terkadang kurang tidur tidak akan memengaruhi tinggi badan dalam jangka panjang.

Tetapi jika selama masa remaja, anak-anak secara teratur mencatatkan waktu kurang tidur dari jumlah yang disarankan, itu dapat menyebabkan komplikasi.

Ini karena tubuh dapat melepaskan hormon pertumbuhan HGH saat tidur.

Baca juga: Ini Durasi Tidur Ideal Berdasarkan Usia

Produksi hormon ini dan lainnya mungkin turun jika anak tidak cukup tidur.

Durasi tidur yang disarankan sesuai usia, yakni:

  • Bayi baru lahir hingga usia 3 bulan mendapatkan 14-17 jam tidur setiap hari
  • Bayi usia 3-11 bulan mendapatkan 12-17 jam
  • Balita usia 1-2 tahun mendapatkan 11-14 jam
  • anak-anak usia 3-5 tahun mendapatkan 10-13 jam
  • Anak-anak usia 6-13 mendapatkan sembilan sampai 11 jam
  • Remaja usia 14-17 mendapatkan delapan sampai 10 jam
  • Orang dewasa usia 18-64 mendapatkan 7 sampai 9 jam
  • Orang dewasa yang lebih tua usia 65 dan lebih tua mendapatkan 7 sampai 8 jam

4. Tetap aktif

Olahraga teratur memiliki banyak manfaat.

Baca juga: Bagaimana Olahraga yang Tepat untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh?

Aktivitas ini juga dapat memperkuat otot dan tulang, membantu mempertahankan berat badan yang sehat, dan meningkatkan produksi hormon pertumbuhan HGH.

Anak-anak di sekolah harus berolahraga setidaknya satu jam sehari.

Selama itu, mereka harus fokus pada:

  • Latihan peningkatan kekuatan, seperti push-up atau sit-up
  • Latihan fleksibilitas, seperti yoga
  • Aktivitas aerobik, seperti bermain tag, lompat tali, atau bersepeda

Berolahraga sebagai orang dewasa juga memiliki manfaatnya.

 

Selain membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan, ini juga dapat membantu mengurangi risiko osteoporosis.

Kondisi ini terjadi ketika tulang menjadi lemah atau rapuh, yang mengakibatkan hilangnya kepadatan tulang.

Hal ini dapat menyebabkan seseorang "menyusut".

Untuk mengurangi risiko mengalami osteoporosis, cobalah berjalan, bermain tenis, atau berlatih yoga beberapa kali seminggu.

Baca juga: Cara Mencegah Osteoporosis Pada Usia Muda

5. Latih postur yang baik

Postur tubuh yang buruk dapat membuat anak terlihat lebih pendek dari yang sebenarnya.

Seiring waktu, membungkuk juga dapat memengaruhi tinggi badan yang sebenarnya.

Punggung harus melengkung secara alami di tiga tempat.

Jika anak sering membungkuk, lekukan ini dapat bergeser untuk menyesuaikan dengan postur baru mereka.

Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri di leher dan punggung.

Memperhatikan bagaimana anak berdiri, duduk, dan tidur adalah kuncinya.

Bicaralah dengan dokter tentang bagaimana anak dapat memasukkan ergonomi ke dalam rutinitas harian mereka.

Baca juga: 10 Makanan yang Mengandung Vitamin D Tinggi

Tergantung kebutuhan anak, mungkin hanya meja berdiri atau bantal busa memori yang diperlukan untuk memperbaiki postur tubuh mereka.

Anak juga dapat melakukan latihan yang dirancang untuk meningkatkan postur tubuh seiring waktu.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X