Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/04/2022, 20:30 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

LE mungkin berhubungan dengan esofagitis eosinofilik atau GERD.

Baca juga: Kanker Esofagus (Kerongkongan)

Faktor risiko

Mengutip Mayo Clinic, terdapat sejumlah faktor risiko yang tergantung dengan penyebab gangguan yang berbeda, meliputi:

1. Esofagitis refluks

Faktor risikonya adalah yang bisa memperburuk GERD, seperti:

  • Makan dan minum pemicu GERD
  • Makan berlebihan dan terlalu berlemak
  • Kebiasaan tidur setelah makan
  • Kelebihan berat badan
  • Merokok.

Sejumlah makanan dapat memperburuk gejala GERD atau refluks esofagitis, meliputi:

  • Makanan berbahan dasar rasa asam, seperti tomat, belimbung wuluh, dan lain-lain.
  • Buah sitrus, seperti jeruk, lemon, jeruk bali.
  • Makanan dan minuman berkafein, seperti kopi, cokelat.
  • Minuman beralkohol
  • Makanan pedas
  • Bawang putih dan bawang bombai
  • Makanan rasa mint.

Baca juga: Bagaimana Asam Lambung Bisa Merusak Kerongkongan dan Tenggorokan?

2. Esofagitis eosinofilik

Faktor risiko esofagitis eosinofilik atau esofagitis terkait alergi, mungkin termasuk:

Riwayat reaksi alergi tertentu, termasuk rhinitis alergi, asma, dan dermatitis atopik
Riwayat keluarga dengan esofagitis eosinofilik

3. Esofagitis akibat obat

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko esofagitis yang diinduksi obat umumnya terkait dengan masalah yang mencegah masuknya pil secara cepat dan lengkap ke dalam perut.

Faktor-faktor ini meliputi:

  • Menelan pil dengan sedikit atau tanpa air
  • Minum obat sambil berbaring
  • Minum obat tepat sebelum tidur, mungkin sebagian karena produksi air liur yang lebih sedikit dan menelan lebih sedikit saat tidur
  • Usia yang lebih tua, mungkin karena perubahan pada otot-otot kerongkongan atau penurunan produksi air liur
  • Pil besar atau berbentuk aneh;

Baca juga: 9 Cara Mencegah Asam Lambung Naik ke Kerongkongan

4. Infeksi esofagitis

Faktor risiko infeksi esofagitis berhubungan dengan fungsi sistem kekebalan yang buruk, seperti:

  • Orang dengan diabetes
  • Penderita candidiasis
  • Orang dengan HIV/AIDS
  • Penderita kanker
  • Penderita autoimun.

Obat imunosupresan sering kali digunakan untuk penderita autoimun atau orang yang melakukan transplantasi (pencangkokan) organ.

Obat imunosupresan atau imunosupresif adalah kelompok obat yang digunakan untuk menekan kerja sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi esofagitis.

Baca juga: 5 Penyebab Radang Kerongkongan (Esofagitis) yang Perlu Diwaspadai

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Daftar 180 Negara yang Kena Tarif Impor Trump, Kamboja Nyaris 50 Persen, Rusia "Menghilang"
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau