Kompas.com - 21/11/2021, 19:00 WIB
Ilustrasi hernia Shutterstock/Akora IllustrationIlustrasi hernia

KOMPAS.com - Munculnya benjolan pada tubuh dapat menjadi gejala dari hernia atau turun berok.

Hernia adalah kondisi ketika organ di dalam tubuh menekan dan mencuat melalui jaringan otot atau jaringan ikat di sekitarnya yang lemah.

Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya tonjolan atau benjolan. Hernia muncul di area antara dada dan pinggul, tetapi juga dapat muncul di daerah paha atas dan selangkangan.

Baca juga: 3 Gejala Hernia (Turun Berok) yang Perlu Diwaspadai

Benjolan pada hernia dapat menghilang ketika penderita berbaring dan dapat kembali timbul akibat batuk atau mengejan.

Jenis

Melansir dari Cleveland Clinic, terdapat beberapa jenis hernia yang paling umum terjadi, yaitu:

  • Hernia inguinalis

Hernia inguinalis terjadi ketika sebagian usus atau jaringan lemak di rongga perut mencuat ke selangkangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hernia inguinalis merupakan jenis hernia yang paling sering terjadi dan pria lebih berisiko mengalaminya.

  • Hernia femoralis

Terjadi ketika jaringan lemak atau sebagian usus menonjol ke atas paha bagian dalam dan wanita lebih berisiko mengalaminya.

  • Hernia umbilikalis

Terjadi ketika jaringan lemak atau bagian usus mendorong dan mencuat ke dinding perut, tepatnya pada pusar.

  • Hernia hiatus

Terjadi ketika sebagian lambung mendorong dan mencuat ke dalam rongga dada melalui diafragma (sekat yang memisahkan rongga dada dan rongga perut).

Baca juga: Makanan yang Direkomendasikan untuk Penderita Hernia Hiatus

  • Hernia insisional

Terjadi ketika usus atau jaringan menonjol atau mencuat melalui bekas luka operasi pada bagian perut atau panggul.

Gejala

Dikutip dari WebMD, gejala hernia dapat bervariasi tergantung pada jenis hernia yang diderita.

Berikut beberapa gejala hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis, hiatus, dan hernia insisional:

  • Munculnya benjolan pada perut atau selangkangan yang dapat hilang ketika berbaring
  • Rasa berat di perut yang terkadang disertai dengan sembelit atau feses berdarah
  • Nyeri dan rasa tidak nyaman pada area benjolan, terutama saat mengangkat, membungkuk, atau membawa beban berat
  • Sensasi terbakar atau nyeri pada tonjolan
  • Nyeri dada
  • Heartburn
  • Sulit menelan (disfagia)
  • Nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba
  • Muntah
  • Konstipasi (sembelit) atau sulit buang air besar
  • Nyeri dan bengkak di sekitar testis.

Penyebab

Menurut Healthline, hernia disebabkan oleh kombinasi antara kelemahan otot dan kondisi otot yang tertarik.

Tergantung pada penyebabnya, hernia dapat berkembang dengan cepat atau dalam jangka waktu yang lama.

Baca juga: 5 Jenis Hernia (Turun Berok) yang Perlu Diwaspadai

Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan otot tubuh melemah, yakni:

  1. Kondisi bawaan yang terjadi selama perkembangan janin di dalam rahim dan hadir sejak lahir
  2. Bertambahnya usia
  3. Cedera atau komplikasi akibat operasi pada bagian perut
  4. Melakukan olahraga berat atau mengangkat beban berat
  5. Batuk kronis atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  6. Hamil, terutama mengandung janin kembar (lebih dari satu janin)
  7. Sembelit, yang menyebabkan terlalu keras mengejan saat buang air besar
  8. Obesitas atau berat badan berlebih
  9. Asites, yaitu penumpukan cairan di dalam rongga perut yang disebut peritoneum.

Faktor risiko

Dikutip dari Healthline, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang terkena hernia, yaitu:

  1. Bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah
  2. Cystic fibrosis, memicu batuk kronis
  3. Dalam kondisi hamil yang menyebabkan tekanan dalam dinding perut meningkat
  4. Sembelit kronis
  5. Obesitas atau peningkatan berat badan secara tiba-tiba
  6. Memiliki kebiasaan merokok, menyebabkan jaringan ikat melemah
  7. Memiliki riwayat hernia, baik dialami sendiri atau memiliki keluarga yang pernah mengalami hernia.

Baca juga: Apa Penyebab Hernia?

Diagnosis

Merangkum Healthline dan Family Doctor, hernia dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik.

Dokter akan meraba bagian perut atau selangkangan untuk merasakan benjolan atau tonjolan yang dapat terlihat saat penderita berdiri, batuk, atau mengejan.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis, seperti:

  1. USG, menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran bagian dalam organ perut dan panggul
  2. CT scan, untuk memeriksa organ-organ bagian dalam perut
  3. MRI, untuk mengetahui kondisi bagian dalam perut dan mendeteksi kerusakan pada otot perut.

Jika penderita diduga menderita hernia hiatus, dokter akan melakukan pemeriksaan barium edema dan endoskopi.

Pada pemeriksaan barium edema, dokter akan meminta penderita untuk menelan cairan barium.

Cairan barium berfungsi agar pemeriksaan foto rontgen dapat menghasilkan gambar bagian dalam saluran pencernaan secara detail.

Sedangkan pada pemeriksaan endoskopi, dokter akan memasukkan selang fleksibel yang panjang ke dalam mulut hingga mencapai lambung.

Alat khusus ini akan memancarkan gelombang suara yang menghasilkan gambaran saluran pencernaan secara rinci.

Baca juga: Hernia Pada Bayi: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi

Perawatan

Dilansir dari Healthline, terdapat beberapa metode penanganan untuk mengobati hernia, di antaranya:

  • Obat-obatan

Dokter akan meresepkan obat untuk menurunkan asam lambung bagi penderita hernia hiatus untuk meredakan gejala dan ketidaknyamanan.

Jenis obat yang mungkin diberikan adalah antasida, penghambat pompa proton (PPI), dan antagonis reseptor H2.

  • Operasi

Jika tonjolan hernia berukuran besar dan menyebabkan rasa sakit, dokter mungkin akan melakukan tindakan operasi untuk mengatasinya.

Terdapat dua metode operasi yang dapat dilakukan, yakni:

    • Operasi terbuka

Dokter bedah akan membuat sayat di dekat lokasi hernia, kemudian mendorong jaringan yang menonjol kembali ke dalam rongga perut.

Setelah itu, dokter akan menjahit area tersebut untuk menutup area tersebut dan terkadang memperkuat lubang tersebut dengan jaring sintesis (mesh) guna mencegah kekambuhan.

    • Laparoskopi

Pada prosedur ini dokter bedah akan menggunakan kamera kecil dan peralatan bedah mini untuk membuat sayatan kecil.

Baca juga: 12 Gejala Hernia yang Perlu Diwaspadai

Kemudian, dokter akan membuat sayatan di dekat lokasi hernia dan mendorong jaringan yang menonjol kembali ke dalam rongga perut lalu menutupnya dengan jahitan.

Laparoskopi hanya memerlukan beberapa sayatan kecil di dekat lokasi hernia dan tidak terlalu merusak jaringan di sekitarnya.

Meskipun demikian, tidak semua jenis hernia cocok diatasi dengan laparoskopi. Dokter akan menentukan prosedur operasi sesuai dengan jenis hernia.

Komplikasi

Merangkum Cleveland Clinic dan Medical News Today, hernia dapat menyebabkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Obstruksi hernia, kondisi ketika usus terjebak di dalam kantung hernia (inguinal canal) yang menimbulkan mual, muntah, dan nyeri perut
  2. Hernia strangulata, kondisi ketika usus atau jaringan terjepit sehingga aliran darah terhambat yang dapat menyebabkan kematian jaringan.

Selain itu, komplikasi pasca-operasi mungkin juga dapat terjadi, seperti:

  1. Cedera organ dalam, misalnya pada kandung kemih
  2. Infeksi
  3. Nyeri kronis
  4. Hernia berulang.

Pencegahan

Menurut Family Doctor, hernia dapat dicegah dengan beberapa cara berikut:

Baca juga: Mengenal Fibroma, Benjolan Jinak yang Tumbuh di Jaringan Ikat

  • Hindari makan secara berlebihan, sebaiknya makan dalam porsi kecil, tetapi sering
  • Jaga berat badan tetap ideal dan sehat dengan berolahraga secara rutin
  • Berhenti atau batasi konsumsi alkohol dan tembakau, termasuk merokok
  • Konsumsi makanan tinggi serat agar BAB lancar dan mencegah sembelit
  • Hindari mengangkat beban yang terlalu berat di luar kemampuan tubuh
  • Gunakan teknik mengangkat beban yang tepat untuk mencegah strain atau salah urat.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Angiosarkoma
Angiosarkoma
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penyakit WIlson

Penyakit WIlson

Penyakit
10 Manfaat Kesehatan Tiram, Makanan Laut Kaya Nutrisi

10 Manfaat Kesehatan Tiram, Makanan Laut Kaya Nutrisi

Health
Giardiasis

Giardiasis

Penyakit
Manfaat Kesehatan Teh, Minuman Ramuan Obat Selama Ribuan Tahun

Manfaat Kesehatan Teh, Minuman Ramuan Obat Selama Ribuan Tahun

Health
Baby Bottle Tooth Decay

Baby Bottle Tooth Decay

Penyakit
7 Rempah-rempah dan Manfaatnya bagi Kesehatan

7 Rempah-rempah dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Health
Aerophobia

Aerophobia

Penyakit
5 Olahraga Aman untuk Ibu Hamil

5 Olahraga Aman untuk Ibu Hamil

Health
Penyakit Peyronie

Penyakit Peyronie

Penyakit
6 Manfaat Kaviar dan Alasan Harganya Mahal

6 Manfaat Kaviar dan Alasan Harganya Mahal

Health
Penyakit Retina

Penyakit Retina

Penyakit
6 Cara Menjaga Kuantitas dan Kualitas Produksi ASI

6 Cara Menjaga Kuantitas dan Kualitas Produksi ASI

Health
Bronkopneumonia

Bronkopneumonia

Penyakit
3 Minuman yang Baik Dikonsumsi oleh Penderita Asma

3 Minuman yang Baik Dikonsumsi oleh Penderita Asma

Health
Ruam Popok

Ruam Popok

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.