Kompas.com - 04/12/2021, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Ketika jaringan tubuh tidak mendapat pasokan darah yang cukup maka dapat menimbulkan kondisi yang disebut gangrene.

Gangrene atau gangren merupakan kematian atau pembusukan jaringan tubuh karena kehilangan aliran darah.

Gangrene adalah kondisi serius yang dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun, tetapi umumnya terjadi pada tungkai, jari kaki, atau jari tangan.

Baca juga: 7 Gejala Gangren, Kondisi Medis yang Bisa Sebabkan Amputasi

Gangrene juga dapat muncul pada otot dan organ-organ yang berada di dalam tubuh manusia.

Kondisi ini termasuk kondisi serius karena dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan syok yang mengancam nyawa apabila dibiarkan.

Gangrene merupakan kondisi yang kerap terjadi akibat komplikasi dari penyakit yang memicu kerusakan pembuluh darah dan aliran darah, seperti diabetes atau aterosklerosis.

Jenis

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat beberapa jenis gangrene, yakni:

  • Gangren kering

Merupakan jenis gangren yang ditandai dengan mengering dan mengerutnya kulit.

Selain itu, kulit yang awalnya berwarna kecokelatan bisa menjadi lebih gelap, ungu kebiruan, bahkan hitam.

Gangren kering terjadi secara perlahan dan umumnya lebih sering dialami penderita diabetes atau aterosklerosis.

  • Gangren basah

Merupakan jenis gangren akibat infeksi bakteri dan ditandai dengan pembengkakan, melepuh, dan berair pada jaringan yang terkena.

Gangren basah dapat terjadi akibat luka bakar, radang dingin, atau cedera.

Baca juga: 3 Penyebab Gangren, Kondisi Medis yang Bisa Sebabkan Amputasi

Kondisi ini sering menyerang penderita diabetes yang tidak menyadari adanya luka, baik pada jari kaki ataupun pada kaki.

Gangren basah perlu segera mendapat penanganan medis karena dapat menyebar dengan cepat dan dapat membahayakan nyawa.

  • Gangren gas

Gangren gas merupakan matinya jaringan otot dalam. Pada awalnya, kondisi ini tidak memunculkan gejala apa pun.

Namun, seiring waktu kondisi ini akan memburuk dan membuat kulit menjadi pucat, keabu-abuan, atau merah keunguan.

Kulit mungkin tampak bergelembung dan ketika ditekan akan mengeluarkan gas dari dalam jaringan.

Gangren gas paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium perfringens yang berkumpul pada cedera atau luka bedah yang tidak mendapatkan suplai darah.

Infeksi bakteri akan menghasilkan racun yang mengeluarkan gas dan menyebabkan kematian jaringan. Kondisi ini juga termasuk kondisi yang mengancam nyawa.

  • Gangren internal

Merupakan jenis gangren yang menyerang satu atau lebih organ tubuh, seperti usus, kantong empedu, atau usus buntu.

Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke organ internal mengalami penyumbatan. Jika tidak ditangani, gangren internal dapat mematikan.

Baca juga: Mengapa Penderita Diabetes Rawan Terkena Gangren?

  • Gangren Fournier

Merupakan jenis gangren yang terjadi pada area genital atau kelamin akibat bakteri. Kondisi ini lebih sering dialami oleh pria meski wanita juga dapat terkena.

Gangren Fournier umumnya terjadi karena infeksi pada area genital (kemaluan) atau saluran kemih.

  • Gangren Meleney

Merupakan jenis gangren yang cukup langka dan jarang terjadi. Kondisi yang juga disebut progressive bacterial synergistic gangrene ini biasanya muncul setelah operasi.

Gangren Meleney ditandai dengan munculnya lesi kulit yang terasa sakit pada satu sampai dua minggu setelah menjalani operasi.

Gejala

Merangkum Mayo Clinic dan Cedars-Sinai, gejala gangren dapat bervariasi karena tergantung pada jenis yang diderita dan area yang terkena.

Beberapa gejala gangren yang mungkin muncul, meliputi:

  • Perubahan warna kulit, mulai dari pucat ke biru, ungu, lalu kehitaman
  • Terdapat pembengkakan atau kulit melepuh yang berisi cairan
  • Luka terasa nyeri hebat secara tiba-tiba dan diikuti sensasi mati rasa
  • Luka mengeluarkan cairan yang berbau
  • Kulit tampak mengilap, menipis, atau mengalami kerontokan rambut
  • Kulit yang terkena gangren tampak sangat berbeda dengan kulit yang sehat sehingga terlihat seperti ada batas yang jelas
  • Kulit dingin ketika disentuh.

Baca juga: Bagaimana Diabetes Bisa Menyebabkan Amputasi?

Jika gangren menyerang jaringan yang berada di bagian bawah permukaan kulit, biasanya menimbulkan demam dan kelelahan.

Pada kasus yang parah, di mana infeksi bakteri penyebab gangren telah menyebar ke seluruh tubuh maka dapat menyebabkan syok sepsis yang ditandai dengan gejala, seperti:

  • Tekanan darah rendah
  • Demam ringan, tetapi pada beberapa orang dapat mencapai lebih dari 37 derajat Celsius
  • Detak jantung lebih cepat dari biasanya atau jantung berdebar
  • Sakit kepala atau pusing
  • Diare dan nafsu makan berkurang
  • Sesak napas
  • Kebingungan.

Penyebab

Mengutip DocDoc, gangrene disebabkan oleh berkurang atau terhentinya aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat terjadi karena beberapa kondisi berikut:

  • Arteri tersumbat

Pembuluh darah dapat tersumbat karena adanya penumpukan plak, yaitu zat yang terdiri dari kolesterol, lemak, kalsium, fibrin, dan produk limbah seluler.

Selain karena plak, pembuluh darah juga dapat tersumbat akibat pembekuan darah pada pembuluh darah.

  • Trauma

Luka traumatik, seperti luka kecelakaan atau luka tembak dapat menyebabkan gangren akibat aliran darah yang terhenti.

Baca juga: Cara Merawat Luka Diabetes di Kaki untuk Cegah Amputasi

Selain itu, luka terbuka juga dapat membuat bakteri masuk ke dalam tubuh dan memicu infeksi yang dapat menyebabkan kematian jaringan atau sel.

  • Frostbite

Merupakan kondisi ketika kulit dan jaringan di bawahnya yang rusak atau mati akibat paparan suhu dingin yang sangat ekstrem.

Kondisi ini dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan merusak lapisan jaringan kulit, serta memutus aliran darah yang memicu gangren.

Faktor risiko

Dirangkum dari National Health Service dan Mayo Clinic, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terkena gangrene, yakni:

  1. Penderita diabetes
  2. Menderita penyakit pembuluh darah, seperti aterosklerosis, bekuan darah, penyakit arteri perifer, dan sindrom Raynaud
  3. Cedera berat atau menjalani prosedur operasi
  4. Memiliki kebiasaan merokok
  5. Mengonsumsi alkohol dalam jangka panjang
  6. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  7. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat menderita HIV/AIDS, menjalani kemoterapi atau radioterapi
  8. Menggunakan obat-obatan yang disuntikkan atau melalui intravena, termasuk NAPZA, seperti heroin
  9. Menderita COVID-19
  10. Berusia di atas 60 tahun.

Baca juga: 9 Tes untuk Diagnosis Diabetes yang Bisa Dilakukan

Meskipun demikian, gangrene juga dapat terjadi pada orang yang sehat tanpa memiliki faktor risiko di atas dan tidak diketahui secara pasti penyebabnya.

Diagnosis

Dikutip dari WebMD, terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis, seperti:

  1. Tes darah
    Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri dalam darah atau memeriksa tanda-tanda infeksi dengan melihat jumlah sel darah putih
  2. Tes pencitraan atau pemeriksaan radiologi
    Rontgen, CT scan, atau MRI dapat dilakukan untuk mengetahui arteri yang tersumbat dan melihat sejauh mana gangren menyebar pada organ dalam
  3. Kultur cairan dan jaringan
    Dokter mungkin akan mengambil sampel cairan atau jaringan lalu diperiksa dengan mikroskop untuk mencari keberadaan bakteri penyebab gangren
  4. Operasi
    Prosedur ini dapat memastikan diagnosis gangren internal dan mengetahui seberapa luas penyebaran gangren pada tubuh

Perawatan

Melansir Mayo Clinic, jaringan yang mengalami kerusakan akibat gangren tidak dapat diselamatkan lagi.

Namun, dokter akan melakukan penanganan untuk mencegah perkembangannya sehingga penanganan yang dilakukan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gangren.

Baca juga: Alasan Diabetes Sering Tak Terdiagnosis

Berikut beberapa metode penanganan untuk mengobati gangren:

  • Obat-obatan

Untuk mengobati infeksi bakteri, dokter akan memberikan antibiotik melalui infus atau obat minum.

Selain itu, dokter mungkin akan memberikan obat pereda nyeri guna meredakan nyeri atau rasa tidak nyaman yang mungkin dirasakan penderita.

  • Operasi

Prosedur operasi yang dilakukan akan disesuaikan dengan jenis gangren dan tingkat keparahannya.

Jika gangren sudah semakin parah, penderita mungkin memerlukan lebih dari satu operasi. Berikut beberapa operasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangren:

    • Debridement

Operasi ini dilakukan untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi dan sudah mati, serta menghentikan atau mencegah penyebaran gangren.

Operasi juga dapat dilakukan untuk memperbaiki pembuluh darah yang rusak atau tersumbat sehingga aliran darah ke area yang terkena gangren menjadi lancar.

    • Amputasi

Pada kasus gangren yang sudah parah, bagian tubuh yang terkena gangren, seperti jari kaki, jari tangan, lengan, atau kaki, mungkin perlu diangkat melalui prosedur amputasi.

Baca juga: Mengapa Penderita Diabetes Sering Mengalami Mulut Kering?

    • Pencangkokan kulit (operasi rekonstruktif)

Prosedur operasi ini dilakukan untuk memperbaiki kulit yang rusak atau memperbaiki tampilan bekas luka akibat gangren.

Prosedur ini dilakukan dengan mengambil kulit yang sehat dari area lain lalu dicangkok ke area yang terkena gangren.

Pencangkokkan kulit hanya dapat dilakukan jika aliran darah ke area terkena gangren kembali lancar.

  • Terapi oksigen hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik dilakukan di dalam ruangan oksigen bertekanan tinggi. Terapi ini dilakukan guna meningkatkan jumlah oksigen di dalam darah.

Dengan tekanan oksigen yang kuat, darah akan membawa lebih banyak oksigen sehingga memperlambat perkembangan bakteri.

Hal ini dapat membantu luka yang terkena untuk lebih cepat pulih.

Komplikasi

Dirangkum dari Cleveland Clinic dan Medline Plus, jika tidak segera ditangani, gangren dapat menimbulkan komplikasi karena meluasnya area yang terkena, seperti:

  1. Sepsis
  2. Bekas luka atau jaringan parut yang melebar
  3. Cacat akibat amputasi
  4. Proses penyembuhan luka yang berkepanjangan (lama).

Baca juga: Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Katarak?

Pencegahan

Menurut Mayo Clinic, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah gangren, yakni:

  • Bagi penderita diabetes, usahakan selalu memeriksa kondisi tangan dan kaki untuk mendeteksi keberadaan luka atau gejala infeksi, seperti kemerahan, pembengkakan, dan keluarnya cairan
  • Usahakan untuk selalu mengatur kadar gula darah
  • Jaga berat badan tetap ideal dan sehat, jika memiliki berat badan berlebih sebaiknya lakukan diet untuk menurunkan berat badan
  • Hentikan kebiasaan merokok
  • Cegah infeksi dengan selalu membersihkan luka terbuka dengan air dan sabun secara lembut, serta pastikan luka tetap bersih dan kering hingga sembuh
  • Waspadai ketika suhu udara sangat dingin karena dapat menyebabkan frostbite yang memicu gangren.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.