Kompas.com - 09/12/2021, 14:00 WIB

KOMPAS.com - Batuk darah atau hemoptisis terjadi ketika batuk disertai dengan darah dalam jumlah besar atau kecil.

Darah yang keluar saat batuk dapat berasal dari hidung, tenggorokan, saluran udara atas, atau paru-paru.

Terdapat berbagai penyebab potensial mulai dari yang ringan hingga parah, termasuk penyakit atau kondisi medis tertentu.

Baca juga: Beda Gejala Tuberkulosis pada Anak-anak dan Orang Dewasa

Oleh karena itu, keseriusan kondisi ini tergantung pada seberapa banyak darah yang dikeluarkan dan seberapa sering batuk darah terjadi.

Penyebab

Ketika seseorang memiliki penyakit pernapasan atau batuk yang kuat, ini dapat mengiritasi saluran udara dan berpotensi menyebabkan mereka batuk darah.

Dilansir dari Healthline, berikut berbagai faktor dan kondisi yang dapat menyebabkan batuk darah, yaitu:

Penyebab umum

  • Infeksi pernapasan ringan
  • Asma
  • Penyakit paru obstruktif kronik
  • Kanker paru-paru
  • Bronkitis
  • Radang paru-paru
  • Tuberkulosis.

Penyebab lainnya

  • Cedera pada arteri di paru-paru
  • Gagal jantung berat
  • Deposit jaringan abnormal
  • Cystic fibrosis
  • Bekuan darah di paru-paru.

Baca juga: 17 Penyebab Batuk Berkepanjangan yang Perlu Diwaspadai

Selain itu, batuk darah juga dapat terjadi sebagai efek samping dari prosedur medis tertentu seperti:

  • Bronkoskopi
  • Spirometri
  • Laringoskopi
  • Operasi amandel
  • Operasi hidung
  • Biopsi saluran napas atas.

Gejala

Pada dasarnya, gejala batuk darah dapat berbeda-beda pada setiap orang tergantung dengan penyebab yang mendasarinya.

Batuk dengan jumlah darah yang sedikit kemungkinan bukanlah suatu keadaan darurat. Namun, Anda tetap harus menghubungi dokter setiap kali mengalami kondisi ini.

Menurut Medical News Today, berikut gejala batuk darah yang perlu Anda waspadai, yaitu:

  • Mengalami kesulitan bernapas
  • Memiliki riwayat pembekuan darah atau sedang menjalani perawatan untuk pembekuan darah
  • Mengalami nyeri dada yang hebat
  • Kebingungan atau kehilangan kesadaran
  • Bayi atau anak kecil mengalami kesulitan bernapas
  • Batuk darah dimulai setelah jatuh atau cedera di dada
  • Terdapat darah dalam urine atau tinja
  • Nyeri dada
  • Pusing
  • Demam
  • Sesak napas.

Baca juga: Kenali 4 Jenis Batuk berdasarkan Penyebabnya

Diagnosis

Menurut Healthline, diagnosis pada batuk darah dapat dilakukan dengan jenis pemeriksaaan sebagai berikut:

  • Pemeriksaan fisik termasuk diskusi mengenai gejala dan kemampuan bernapas
  • Memahami status kesehatan dengan menguji tekanan darah, detak jantung, tingkat pernapasan, dan saturasi oksigen
  • Tes darah, menentukan penyakit atau kondisi apa yang mungkin menyebabkan batuk darah
  • Sinar X, mendeteksi kerusakan atau masalah lain di dada
  • CT angiografi, mendeteksi penyebab pendarahan di paru-paru dan tingkat keparahannya
  • Bronkoskopi, mendeteksi tanda-tanda perdarahan yang terlihat
  • Biopsi paru, memeriksa sepotong jaringan dari paru-paru
  • Pemindaian VQ paru-paru untuk mengevaluasi aliran darah dan udara ke paru-paru.

Perawatan

Tergantung pada penyebabnya, batuk darah dapat diobati dengan beberapa cara.

Mengutip Healthline, pengobatan bertujuan untuk menghentikan pendarahan dan mengobati kondisi atau penyebab yang mendasari batuk darah.

Beberapa pengobatan batuk darah meliputi:

  • Obat pelega tenggorokan untuk mengatasi iritasi akibat batuk berlebihan
  • Resep obat untuk mengatasi infeksi
  • Prosedur embolisasi endovaskular untuk menghentikan pendarahan hebat.

Baca juga: 5 Jenis Obat Batuk, Fungsi, dan Efek Sampingnya

Pencegahan

Menurut Healthline, pada dasarnya Anda dapat mencegah batuk darah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menerapkan gaya hidup yang sehat seperti berhenti atau tidak merokok
  • Hindari polusi dan kabut asap
  • Tidak mengabaikan batuk yang terjadi berkepanjangan atau terus-menerus.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.