Kompas.com - 15/12/2021, 14:00 WIB

KOMPAS.com - Parasit merupakan organisme mikroskopis yang hidup bergantung dari organisme lain dengan mengambil nutrisi dari tubuh inang tersebut.

Salah satu parasit yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan penyakit adalah cacing Guinea.

Infeksi cacing Guinea menimbulkan penyakit yang disebut dracunculiasis atau juga dikenal penyakit cacing Guinea.

Baca juga: Infeksi Cacing Tambang

Dracunculiasis merupakan penyakit tropis terabaikan atau Neglected Tropical Disease (NTD) yang sangat langka.

Hal ini berarti bahwa penyakit tropis ini tidak dianggap sebagai penyakit menular yang penting.

Kelompok penyakit tropis terabaikan umumnya menyebar masyarakat miskin dan terpencil yang hidup pada lingkungan dengan sumber daya terbatas.

Seseorang dapat terkena dracunculiasis ketika meminum air yang terkontaminasi larva cacing Guinea atau Guinea worm.

Dracunculiasis kerap dialami oleh penduduk miskin di bagian terpencil Afrika, di mana mereka tidak memiliki air bersih yang layak untuk diminum.

Dracunculiasis dapat terjadi kapan saja sepanjang tahun, tetapi lebih sering terjadi selama musim transmisi puncak dan bervariasi dari satu negara ke negara lain.

Masyarakat yang tinggal di daerah kemarau umumnya tertular pada musim hujan ketika muncul genangan air pada air permukaan yang mengering.

Meskipun umumnya penyakit ini menyerang manusia, tetapi dalam beberapa tahun terakhir dracunculiasis dialami oleh hewan, terutama anjing.

Gejala

Mengutip Very Well Health, seseorang yang terinfeksi cacing Guinea sering kali tidak merasakan gejala hingga satu tahun setelah terinfeksi.

Gejala dracunculiasis, di antaranya:

Baca juga: Infeksi Parasit

  • Demam
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sesak napas
  • Rasa terbakar, gatal, nyeri, dan terjadi pembengkakan pada bagian tubuh tempat cacing berada, biasanya pada tungkai kaki
  • Blister atau luka lepuh di lokasi masuknya cacing.

Penyebab

Merangkum DermNet New Zealand dan Very Well Health, dracunculiasis disebabkan oleh cacing Guinea atau parasit Dracunculus medinensis.

Cacing Guinea dapat masuk ke dalam tubuh manusia ketika meminum air atau mengonsumsi bahan makanan mentah yang dicuci dengan air yang terkontaminasi parasit.

Larva cacing Dracunculus hidup di dalam krustasea.

Ketika seseorang meminum air yang terkontaminasi krustasea maka mereka akan mati dan melepaskan larva ke dalam saluran pencernaan manusia.

Setelah itu, larva akan menembus dinding usus dan masuk ke dalam rongga perut dan akan tumbuh menjadi cacing dewasa selama sekitar satu tahun.

Cacing betina dewasa dapat berukuran sekitar 60 sampai 100 sentimeter.

Ketika kawin, cacing betina dewasa akan bergerak keluar dari perut, sedangkan cacing jantan akan mati setelah kawin.

Baca juga: Hookworm Infection

Cacing betina dewasa bergerak melalui jaringan di bawah kulit dan menimbulkan ketidaknyamanan berupa luka lepuh yang disertai rasa gatal dan terbakar.

Jika seseorang berusaha meredakan sensasi terbakar dan gatal dengan merendam kaki yang terinfeksi di dalam air maka cacing betina yang hamil akan mengeluarkan larva ke dalam air.

Setelah mengeluarkan larva ke dalam air cacing betina tersebut dapat kembali berkembang biak.

Apabila cacing betina yang hamil tidak bergerak menuju kulit maka mereka akan mati dan hancur atau mengeras di bawah kulit.

Faktor risiko

Menurut Pusat Pencegahan Penyakit Menular (CDC), beberapa kondisi berikut meningkatkan risiko seseorang terkena dracunculiasis:

  1. Minum air yang tidak matang, seperti dari kolam atau sumber air tergenang lainnya yang berisiko terkontaminasi larva cacing Guinea
  2. Tinggal atau berkunjung ke lokasi wabah dracunculiasis, seperti Afrika (Chad, Ethiopia, Mali, dan Sudan Selatan)
  3. Mengonsumsi bahan makanan, seperti ikan dan katak, yang tidak dimasak sampai benar-benar matang

Diagnosis

Dilansir dari Merck Manuals, dokter akan memeriksa ulkus kulit (borok) atau luka terbuka dan menanyakan mengenai gejala dan riwayat kesehatan, serta perjalanan penderita.

Selain itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk menemukan cacing yang hancur atau mengeras.

Baca juga: Infeksi Jamur

Perawatan

Merangkum MedicineNet dan Very Well Health, tidak ada obat khusus untuk mengobati dracunculiasis ataupun vaksin untuk mencegah penyakit cacing Guinea.

Penanganan penyakit cacing Guinea dilakukan dengan mengangkat seluruh cacing dan mengobati luka lepuh.

Berikut beberapa cara untuk mengeluarkan cacing Guinea dari dalam tubuh:

  1. Luka dan area di sekitarnya akan dibersihkan untuk mencegah infeksi
  2. Bagian tubuh yang terkena dapat direndam di dalam air untuk mendorong cacing untuk mengeluarkan larva
  3. Cacing yang keluar akan dililitkan pada tongkat atau kain kasa yang digulung agar lebih banyak cacing yang keluar dan mencegah cacing kembali ke dalam kulit
  4. Proses pengeluaran cacing dengan tongkat atau kain kasa tersebut dilakukan dengan sangat-hati agar cacing tidak hancur
  5. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa hari, bahkan berminggu-minggu hingga seluruh cacing berhasil dikeluarkan dari dalam kulit.

Setelah proses pengeluaran cacing, dokter mungkin akan memberikan antibiotik topikal untuk dioleskan ke area luka guna mencegah infeksi bakteri sekunder.

Obat-obatan, seperti aspirin atau ibuprofen dapat diberikan untuk meredakan peradangan dan menghilangkan rasa sakit akibat proses pengeluaran cacing.

Komplikasi

Dikutip dari eMedicine Health, terdapat beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan dari dracunculiasis, yaitu:

Baca juga: Infeksi Bakteri

  • Infeksi bakteri pada kulit dan jaringan di bawah kulit atau selulitis
  • Abses
  • Infeksi sendi, seperti septic arthritis
  • Tetanus
  • Sepsis
  • Peradangan.

Pencegahan

Merangkum Pusat Pencegahan Penyakit Menular (CDC) dan Merck Manuals, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini:

  1. Menyaring air minum melalui kain tipis halus
  2. Rebus air hingga mendidih untuk membunuh makhluk mikroskopis, seperti bakteri dan parasit
  3. Minum air berklorin
  4. Minum air dari sumber yang terpercaya dan bebas dari kontaminasi
  5. Masak ikan atau hewan yang hidup di air lainnya hingga matang sempurna
  6. Tempatkan anjing yang memiliki luka terbuka atau mengalami cacingan di dalam sebuah kandang agar anjing tidak masuk ke kolam atau sumber air lainnya

Seseorang yang terinfeksi cacing Guinea dilarang untuk sumber air minum, seperti waduk, kolam, atau sumur terbuka, untuk mencegah kontaminasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.