Kompas.com - 29/11/2021, 16:00 WIB

KOMPAS.com - Batu empedu atau juga disebut cholelithiasis, merupakan endapan dari cairan sisa pencernaan yang mengeras dan terbentuk di dalam kandung empedu.

Kandung empedu adalah organ kecil yang berbentuk seperti buah pir dan berada tepat di bawah hati.

Ukuran cholelithiasis cukup bervariasi, mulai dari yang berukuran kecil seperti pasir hingga berukuran besar menyerupai bola golf.

Baca juga: Benarkah Wanita Lebih Rentan Derita Penyakit Batu Empedu?

Sebagian penderita hanya memiliki satu batu empedu pada kantong empedu mereka, sedangkan lainnya memiliki beberapa batu empedu secara bersamaan.

Keberadaan batu empedu di dalam kandung empedu dapat menyumbat saluran kandung empedu dan menimbulkan rasa sakit pada perut.

Kondisi ini terjadi secara tiba-tiba dan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, yakni sekitar 1 sampai 5 jam.

Banyak orang yang memiliki batu empedu tidak merasakan gejala apa pun dan tidak memerlukan penanganan khusus.

Akan tetapi, batu empedu dapat menimbulkan gejala ketika menyumbat saluran empedu dan memerlukan penanganan medis untuk menghilangkan batu tersebut.

Gejala

Dirangkum dari Mayo Clinic dan Healthline, batu empedu biasanya menimbulkan gejala ketika batu tersebut menyebabkan saluran empedu tersumbat.

Gejala yang dirasakan, di antaranya:

  • Nyeri pada perut bagian kanan atas atau tengah atas perut secara tiba-tiba
  • Rasa sakit secara tiba-tiba dan terasa sangat cepat pada bagian tengah perut, tepat di bawah tulang rusuk
  • Demam
  • Penyakit kuning atau jaundice, yang ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih mata (sklera)
  • Diare
  • Kebingungan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Nyeri punggung di antara tulang belikat
  • Bahu kanan terasa sakit
  • Mual dan muntah.

Baca juga: 4 Ciri-ciri Sakit Batu Empedu, Termasuk Sakit Perut Sebelah Kanan

Nyeri akibat batu empedu dapat berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam.

Penyebab

Mengutip WebMD, penyebab batu empedu masih tidak diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa kondisi yang diduga memicu terbentuknya batu empedu, yaitu:

  1. Tingginya kadar kolesterol di dalam kandung empedu akibat kolesterol tidak terurai dan mengendap lalu membentuk batu empedu di dalam kandung empedu
  2. Tingginya kadar bilirubin di dalam kandung empedu yang dapat terjadi karena penyakit, seperti sirosis dan infeksi bilier
  3. Kandung empedu tidak dapat kosong secara sempurna yang mengakibatkan cairan empedu menjadi lebih pekat, lebih keras, dan membentuk batu.

Faktor risiko

Dirangkum dari WebMD dan Mayo Clinic, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko memiliki batu empedu, antara lain:

  1. Berjenis kelamin wanita, terutama ibu hamil atau menjalani terapi hormon estrogen, termasuk pil KB
  2. Berusia 40 tahun ke atas
  3. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  4. Tidak aktif bergerak atau jarang berolahraga
  5. Sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, tinggi kolesterol, dan rendah serat
  6. Memiliki riwayat keluarga yang menderita batu empedu
  7. Mengidap diabetes
  8. Menderita kelainan darah, seperti anemia sel sabit atau leukemia
  9. Berat badan turun secara drastis
  10. Menderita penyakit liver, seperti sirosis
  11. Menderita gangguan pencernaan, seperti Crohn’s Disease
  12. Mengonsumsi obat penurun kolesterol.

Baca juga: Apakah Batu Empedu Berbahaya?

Diagnosis

Mengutip Cedars-Sinai, terdapat beberapa tes pemeriksaan yang dapat membantu memastikan diagnosis batu empedu, yaitu:

  • Ultrasonografi (USG)

Merupakan pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk melihat gambaran kandung empedu dan mengetahui lokasi batu empedu.

  • Hepatobiliary iminodiacetic acid (HIDA)

Pemindaian ini bertujuan untuk memeriksa kontraksi abnormal dari kantong empedu dan penyumbatan pada saluran empedu.

  • Tes darah lengkap

Tes darah dilakukan untuk mendeteksi gejala atau terjadinya infeksi, penyumbatan, penyakit kuning, radang pankreas (pankreatitis) dan komplikasi lain akibat batu empedu.

  • CT scan

Dapat menghasilkan gambar batu empedu secara detail, serta mendeteksi adanya infeksi atau pecahnya saluran empedu.

  • USG endoskopi (EUS )

Pemeriksaan ini dokter akan memasukkan alat khusus (endoskopi) melalui mulut ke saluran pencernaan.

Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengetahui kondisi kandung empedu dan jaringan di sekitar area perut secara jelas.

Baca juga: 8 Makanan yang Perlu Dihindari Penderita Batu Empedu

Perawatan

Dilansir dari Healthline, penanganan medis untuk mengobati batu empedu diperlukan jika batu empedu menyebabkan rasa sakit.

Apabila keberadaan batu empedu tidak menimbulkan gejala maka kondisi ini tidak perlu mendapat penanganan secara medis karena batu tersebut dapat keluar melalui urine.

Berikut beberapa metode penanganan untuk mengobati batu empedu:

  • Operasi

Prosedur operasi ini disebut juga prosedur kolesistektomi, yaitu operasi yang bertujuan untuk mengangkat kandung empedu.

Terdapat dua jenis kolesistektomi untuk mengobati batu empedu, yakni:

  1. Kolesistektomi laparoskopi
    Merupakan prosedur operasi umum yang dilakukan dengan menggunakan laparoskop, yaitu alat khusus yang dilengkapi kamera bercahaya.
  2. Kolesistektomi terbuka
    Operasi ini biasanya dilakukan ketika kandung empedu meradang, terinfeksi, atau terluka.

    Operasi ini juga dapat dilakukan jika metode laparoskopi tidak dapat mengeluarkan kandung empedu.

  • Obat-obatan

Obat-obatan dapat mengobati batu empedu yang berukuran kecil atau kondisi penderita yang tidak memungkinkan untuk melakukan operasi.

Baca juga: 8 Komplikasi Batu Empedu yang Perlu Diwaspadai

Obat untuk menangani batu empedu adalah obat ursodeoxycholic acid, yaitu obat yang dapat melarutkan batu empedu.

Akan tetapi, obat ini dapat memakan waktu yang cukup lama untuk memecah atau melarutkan batu empedu seluruhnya.

Komplikasi

Menurut Mayo Clinic, batu empedu dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Cholangitis, yaitu peradangan pada saluran empedu
  2. Penyumbatan usus akibat batu empedu
  3. Penyumbatan saluran pankreas yang dapat menyebabkan pankreatitis atau peradangan pada pankreas
  4. Meningkatkan risiko terserang kanker kandung empedu.

Pencegahan

Mengutip dari WebMD, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena batu empedu, yaitu:

  1. Konsumsi makanan sehat yang kaya akan serat dan tinggi lemak yang baik bagi tubuh, seperti ikan salmon dan minyak zaitun
  2. Hindari atau batasi makanan yang terbuat dari karbohidrat olahan, makanan tinggi gula, dan lemak jenuh
  3. Lakukan olahraga rutin
  4. Konsultasikan efek samping dari penggunaan kontrasepsi hormonal.

Baca juga: Penyebab Penyakit Batu Empedu dan Faktor Risikonya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.