Kompas.com - 15/01/2022, 15:00 WIB
Ilustrasi plasenta dan janin Shutterstock/ExplodeIlustrasi plasenta dan janin

KOMPAS.com - Plasenta atau ari-ari merupakan organ yang menghubungkan embrio atau janin dengan dinding uterus (rahim) melalui tali pusat.

Plasenta berperan sebagai organ yang memberikan oksigen dan nutrisi pada janin yang ada di dalam kandungan.

Plasenta juga memberikan antibodi kepada janin agar janin terlindungi dari infeksi selama berada di dalam rahim.

Baca juga: Fakta Seputar Plasenta Previa, Biang Pendarahan pada Ibu Hamil

Pada kondisi normal, plasenta akan terlepas dari dinding rahim dan keluar dari tubuh dalam 30 menit setelah proses persalinan.

Namun, terkadang plasenta tidak dapat terlepas dengan sendirinya dan tertahan di dalam dinding rahim meski bayi telah dilahirkan. Kondisi ini disebut dengan retensi plasenta.

Retensi plasenta merupakan salah satu komplikasi persalinan yang dapat berakibat fatal hingga mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Hal ini dikarenakan, retensi plasenta dapat menyebabkan seorang wanita kehilangan darah berlebihan akibat perdarahan postpartum atau perdarahan pasca persalinan.

Jenis

Dikutip dari Healthline, terdapat tiga jenis retensi plasenta berdasarkan penyebabnya, yaitu:

  1. Plasenta adheren (placenta adherens)
    Merupakan penyebab paling umum dari retensi plasenta yang terjadi ketika rahim gagal menghasilkan cukup kontraksi untuk mengeluarkan plasenta.
  2. Plasenta yang terperangkap (trapped placenta)
    Terjadi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim, tetapi tidak dapat keluar dari tubuh.

    Hal ini kerap terjadi akibat leher rahim (serviks) mulai menutup sebelum plasenta dikeluarkan sehingga plasenta terperangkap di dalam rahim.

  3. Plasenta akreta (placenta accreta)
    Terjadi ketika plasenta menempel pada lapisan otot dinding rahim, bukan pada dinding rahim sehingga persalinan menjadi lebih sulit dan memicu perdarahan hebat.

Baca juga: Plasenta Akreta

Gejala

Melansir Very Well Family, gejala utama retensi plasenta adalah plasenta tidak sepenuhnya keluar dari tubuh dalam kurun waktu satu jam setelah proses persalinan.

Plasenta yang tidak kunjung keluar setelah bayi dilahirkan akan menimbulkan beberapa gejala berikut:

  • Demam
  • Keputihan berbau tidak sedap
  • Keterlambatan onset laktasi
  • Perdarahan berlebih dari vagina
  • Keluarnya jaringan yang menggumpal dari vagina
  • Nyeri hebat pada panggul atau perut bagian bawah.

Penyebab

Merangkum American Pregnancy Association dan Pregnancy, Birth and Baby, retensi plasenta dapat terjadi akibat berbagai faktor sesuai dengan jenisnya.

Namun, kondisi ini umumnya terjadi ketika rahim tidak cukup kuat untuk berkontraksi.

Kontraksi yang lemah atau jeda yang terlalu lama dapat menyebabkan plasenta tertahan di dalam rahim.

Beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan retensi plasenta, meliputi:

  • Plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir sehingga jaringan plasenta tumbuh terlalu dalam dan sulit untuk dikeluarkan
  • Kontraksi rahim terhenti atau tidak cukup kuat untuk mengeluarkan plasenta dari dalam rahim
  • Pelekatan sebagian atau seluruh plasenta pada dinding rahim
  • Plasenta tertanam pada bagian dalam dinding rahim
  • Terlepasnya plasenta dari rahim, tetapi leher rahim (serviks) mulai menutup sehingga plasenta tidak dapat dikeluarkan.

Baca juga: Plasenta previa

Faktor risiko

Dirangkum dari situs Flo Health dan WebMD, beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami retensi plasenta:

  1. Hamil di atas usia 30 tahun
  2. Terjadi persalinan prematur atau melahirkan sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu
  3. Memiliki riwayat menjalani prosedur operasi atau bedah rahim
  4. Menggunakan teknologi reproduksi berbantu, seperti bayi tabung
  5. Memiliki riwayat mengalami retensi plasenta pada kehamilan sebelumnya
  6. Memiliki kelainan anatomi pada rahim
  7. Melahirkan bayi besar
  8. Mengalami proses persalinan yang terlalu lama
  9. Memiliki riwayat persalinan kala satu atau kala kedua yang memanjang sehingga sang ibu terlalu lemah untuk mengeluarkan plasenta dari rahimnya
  10. Menderita mioma uteri atau fibroid rahim
  11. Melahirkan bayi kembar
  12. Memiliki riwayat mengalami stillbirth atau bayi lahir meninggal.

Diagnosis

Mengutip Healthline, dokter dapat mendiagnosis retensi plasenta dengan memeriksa secara teliti keutuhan plasenta yang keluar setelah proses persalinan.

Plasenta memiliki bentuk yang khas sehingga bagian kecil yang tidak lengkap dapat menjadi petunjuk yang harus diperhatikan.

Namun pada beberapa kasus, dokter mungkin tidak menyadari adanya bagian kecil yang hilang atau terlepas dari plasenta.

Baca juga: Pendarahan Pasca Melahirkan

Jika kondisi ini terjadi, umumnya pasien akan mengalami gejala segera setelah melahirkan.

Apabila dokter mencurigai pasien mengalami retensi plasenta maka akan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi rahim.

Bila hasil pemeriksaan USG menunjukkan adanya bagian tertentu dari plasenta yang tertinggal di dalam rahim, dokter akan melakukan penanganan guna mencegah komplikasi.

Perawatan

Merangkum dari Flo Health dan Healthline, penanganan retensi plasenta bertujuan untuk mengangkat seluruh bagian plasenta yang tertinggal di dalam rahim.

Beberapa metode penanganan yang dapat diberikan, meliputi:

  • Kuretase
    Prosedur untuk mengeluarkan plasenta atau sisa jaringan plasenta dari dalam rahim
  • Traksi tali pusat terkendali
    Dokter akan menarik tali pusat untuk mengeluarkan plasenta
  • Mengeluarkan plasenta secara manual
    Dokter akan mengeluarkan plasenta dari rahim menggunakan tangan
  • Pemberian antibiotik
    Dokter akan memberikan antibiotik sebelum atau segera setelah proses pengambilan plasenta guna mencegah infeksi
  • Obat-obatan
    Dokter akan memberikan obat-obatan yang dapat merangsang kontraksi rahim sehingga tubuh dapat mengeluarkan plasenta
  • Menyusui
    Proses menyusui dapat melepaskan hormon oksitosin yang merangsang rahim berkontraksi agar plasenta keluar
  • Sering buang air kecil
    Dokter mungkin juga akan menyarankan agar pasien sering buang air kecil karena kandung kemih yang penuh dapat mencegah keluarnya plasenta.

Baca juga: 11 Penyebab Pendarahan saat Melahirkan

Jika metode di atas tidak berhasil mengeluarkan plasenta dari dalam rahim maka dokter mungkin akan melakukan prosedur operasi sebagai upaya terakhir.

Komplikasi

Menurut Patient Info, retensi plasenta dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Infeksi rahim atau endometritis
    Merupakan peradangan pada dinding rahim akibat infeksi
  2. Perdarahan postpartum
    Perdarahan postpartum atau perdarahan pasca-persalinan merupakan keluarnya darah dari jalan lahir segera setelah melahirkan
  3. Kematian.

Pencegahan

Dikutip dari Healthline, beberapa tindakan berikut akan dilakukan selama proses persalinan sebagai upaya mencegah retensi plasenta:

  • Memberikan obat-obatan yang merangsang kontraksi rahim agar dapat mengeluarkan seluruh plasenta, misalnya oksitosin
  • Melakukan prosedur controlled cord traction (CCT), di mana dokter akan menjepit dan menarik tali pusat bayi sembari memijat perut ibu agar plasenta dapat keluar seluruhnya.

Setelah proses persalinan selesai, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk melakukan pemijatan rahim.

Pemijatan rahim berfungsi untuk merangsang kontraksi rahim dan membantu meredakan perdarahan, serta membantu rahim kembali ke ukuran normal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penebalan Dinding Rahim

Penebalan Dinding Rahim

Penyakit
6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

Health
5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

Health
Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.