Kompas.com - 29/08/2021, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Dalam menjalani gaya hidup, semua harus serba seimbang. Termasuk menjaga kesehatan agar berat badan tubuh tetap terjaga.

Jika tidak, bisa jadi Anda rawan terkena obesitas.

Melansir dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas merupakan penumpukan lemak berlebih akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dikeluarkan  dalam waktu lama.

Baca juga: Hubungan Penyakit Jantung, Obesitas, dan Penurunan Berat Badan

Obesitas ditentukan oleh indeks massa tubuh (IMT) untuk mengklasifikan kelebihan berat badan. IMT pada orang dewasa berdasarkan berat badan terhadap tinggi badan.

IMT merupakan berat badan seseorang dalam kilogram yang dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter (kg/m2).

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), 13,5 persen orang dewasa usia 18 tahun ke atas kelebihan berat badan.

Sementara itu, 28,7persen mengalami obesitas (IMT ≥ 25). Berdasarkan indikator RPJMN 2015-2019, sebanyak 15,4 persen mengalami obesitas (IMT ≥ 27).

Lalu, pada anak usia 5-12 tahun sebanyak 18.8 persen kelebihan berat badan dan 10 persen menderita obesitas.

Penyebab

Jika Anda lebih banyak mendapatkan kalori ketimbang mengeluarkannya melalui aktivitas sehari-hari dan olahraga dalam jangka panjang, Anda berpotensi menderita obesitas.

Jumlah kalori akan menumpuk dan berakibat pada berat badan yang naik.

Selain itu, ada alasan lain selain gaya hidup yang kurang baik. Beberapa alasan umum seseorang mengalami obesitas, antara lain.

  • Genetik. Memengaruhi bagaimana cara tubuh seseorang memproses makanan menjadi energi dan bagaimana lemak disimpan, menyebabkan berkurangnya massa otot dan laju metabolisme yang lebih lambat. Hal ini menyebabkan seseorang lebih mudah menambah berat badan.
  • Kurang tidur. Perubahan hormonal membuat seseorang merasa lebih lapar dan menginginkan makanan berkalori tinggi tertentu.
  • Kehamilan. Berat badan yang bertambah selama kehamilan menyebabkan sulit untuk diturunkan sehingga menyebabkan obesitas.

Baca juga: 5 Cara yang Bisa Dilakuan Orangtua untuk Cegah Anak Obesitas

Faktor Risiko

Selain hal-hal di atas, seseorang dapat berpotensi lebih tinggi akibat beberapa hal berikut di bawah ini.

Pilihan gaya hidup

  • Pola makan tidak sehat. Makanan tinggi kalori, tanpa diseimbangi dengan buah-buahan dan sayur, makanan cepat saji, serta dikombinasikan dengan minuman berkalori tinggi berukuran besar dapat menimbulkan berat badan naik.
  • Kalori cair. Seseorang dapat minum kalori dalam jumlah besar tanpa merasa kenyang, apalagi kalori dari alkohol. Minuman berkalori tinggi lainnya seperti minuman ringan manis juga dapat menjadi penyebab naiknya berat badan secara signifikan.
  • Malas gerak. Jika seseorang jarang bergerak, kalori yang diterima dan dikeluarkan tidak akan seimbang. Melihat layar komputer, tablet, dan ponsel merupakan contoh dari aktivitas yang tidak banyak bergerak.

Penyakit dan pengobatan tertentu

Bagi beberapa orang, obesitas dapat disebabkan oleh kondisi medis, seperti sindrom Prader-Willi, sindrom Cushing, dan sebagainya.

Konsumsi obat dapat menjadi alasan naiknya berat badan jika tidak diseimbangi dengan diet atau beragam aktivitas.

Obat-obat ini termasuk jenis antidepresan, antikejang, diabetes, antipsikotik, steroid, dan beta blocker.

Baca juga: 20 Cara Mencegah Obesitas untuk Anak-anak dan Orang Dewasa

Isu sosial dan ekonomi

Lingkungan sekitar juga dapat berpengaruh terhadap gaya hidup seseorang. Berikut beberapa masalah yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena obesitas:

  • tinggal di lingkungan dengan pilihan makanan terbatas, atau makanan berkalori tinggi seperti makanan cepat saji;
  • belum bisa memasak makanan sehat;
  • tidak bisa membeli makanan sehat;
  • belum menemukan tempat yang nyaman untuk bermain, berjalan, atau berolahraga di area sekitar.

Faktor psikologis dan lainnya

  • Stres atau depresi. Seorang yang sedang depresi atau dalam tekanan kemungkinan menggunakan makanan sebagai pelarian. Antidepresan tertentu juga dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
  • Berhenti merokok. Seseorang yang sedang proses berhenti merokok bisa jadi menggunakan permen atau makanan manis lainnya sebagai pengganti. Hal ini berpotensi menaikkan berat badan. Pastikan untuk menyeimbangkan kegiatan ini dengan olahraga dan menjaga pola makan.
  • Mikrobioma. Bakteri usus dipengaruhi oleh apa yang seseorang makan dan dapat berpengaruh pada penambahan berat atau tingkat kesulitan menurunkan berat badan.

Komplikasi

Seseorang dengan obesitas berpotensi terkena berbagai masalah kesehatan, seperti:

Baca juga: Benarkah Konsumsi Nasi Bisa Bikin Obesitas?

  • Masalah jantung dan stroke. Obesitas membuat seseorang memiliki tekanan darah tinggi dan level kolestrol yang tidak normal. Hal ini menimbulkan risiko penyakit jantung dan stroke.
  • Kanker. Seseorang dengan obesitas dapat membuatnya rentan terkena kanker rahim, serviks, endometrium, ovarium, dada, usus, anus, esofagus, hati, batu ginjal, pankreas, ginjal, dan prostat.
  • Diabetes Tipe 2. Kontrol gula darah dapat terganggu jika seseorang terkena obesitas. Tingkatan risiko resistensi insulin dan diabetes meningkat.
  • Ginekologi dan Seksual. Obesitas dapat menyebabkan kemandulan dan menstruasi yang tidak teratur pada wanita. Selain itu, juga menyebabkan disfungsi ereksi pada pria.

Diagnosis

Selain menghitung indeks massa tubuh, dokter juga akan melakukan tes fisik dan serangkaian tes lain, seperti:

  • Mencari tahu riwayat kesehatan. Dokter akan bertanya informasi terkait riwayat berat badan, napsu makan, pola makan, obat yang pernah dikonsumsi, tingkatan stress, dan sebaagainya. Dokter juga mungkin akan bertanya soal riwayat kesehatan keluarga.
  • Mengecek kondisi tubuh. Dokter akan mengukur tinggi badan, detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh, serta mengecek deru napas dan kondisi perut.
  • Tes darah. Tes darah dapat meliputi tes kolestrol, fungsi hati, tes tiroid, dan lain-lain.

Baca juga: 3 Kesalahpahaman Tentang Obesitas yang Tak Perlu Lagi Dipercaya

Perawatan

Cara terbaik untuk mengobati obesitas adalah untuk mengaplikasikan pola makan rendah kalori dan berolahraga secara teratur.

Dokter juga dapat membentuk tim dengan ahli gizi, terapis, dan staf medis lainnya.

Selain itu, memberi saran untuk memperbaiki pola hidup. Terkadang, dokter juga bisa memberi saran obat-obatan atau operasi penurunan berat badan.

Olahraga secara teratur, buat rencana makan sehat, serta berusaha untuk tetap konsisten.

Obesitas bisa disembuhkan, asal ada tekad yang kuat dari diri sendiri.

 Baca juga: Kurang Tidur Tingkatkan Peluang Obesitas, Kok Bisa?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.