Kompas.com - 16/10/2021, 13:00 WIB
ilustrasi club foot In The Light Photographyilustrasi club foot

KOMPAS.com - Bayi yang baru dilahirkan selalu dipantau untuk memastikan keadaan bayi sehat dan semua organ berfungsi dengan baik.

Pemeriksaan juga dilakukan untuk mengukur berat dan tinggi bayi, serta melihat bentuk tubuh bayi sehingga dapat mengetahui apakah bayi mengalami kelainan.

Salah satu kelainan yang terjadi pada bayi adalah clubfoot, yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan kaki bayi bengkok mengarah ke dalam, seperti terkilir.

Baca juga: Club Foot: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kondisi ini biasanya diidentifikasi setelah lahir, tetapi dokter juga dapat mendeteksi clubfoot ketika bayi berada di kandungan dengan USG.

Meskipun kondisi ini biasanya hanya memengaruhi satu kaki, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terjadi pada kedua kaki.

Clubfoot tidak menimbulkan rasa sakit karena terjadi sejak lahir, tetapi jika tidak diobati dapat menyebabkan anak sulit berjalan secara normal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gejala

Melansir WebMD, berikut beberapa gejala bayi yang memiliki clubfoot:

  • Kaki menunjuk ke bawah dan jari-jari kaki mungkin melengkung ke dalam
  • Kaki tampak menyamping atau terkadang terbalik sehingga kaki memiliki ukuran yang lebih kecil
  • Kaki mungkin lebih kecil dari kaki normal hingga setengah inci
  • Tumit dan otot betis pada kaki yang terkena mungkin tidak berkembang sepenuhnya sehingga berukuran lebih kecil
  • Kaki yang mengalamiclubfoot memiliki rentang gerak yang terbatas

Penyebab

Dirangkum dari WebMD dan Hopkins Medicine, clubfoot terjadi karena tendon, jaringan yang menghubungkan otot dan tulang, berukuran lebih pendek dari yang seharusnya.

Tendon yang berukuran lebih pendek ini akan menarik kaki sehingga menyebabkan kaki bengkok ke arah dalam.

Baca juga: Kaki Panjang Sebelah

Terdapat tiga jenis clubfoot yang diklasifikasikan sesuai dengan penyebabnya, di antaranya:

  1. Idiopathic clubfoot
    - merupakan jenis clubfoot yang paling umum terjadi saat bayi lahir
    - saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab idiopathic clubfoot
  2. Neurogenic clubfoot
    disebabkan oleh kelainan saraf yang mendasarinya, seperti:
    a. Spina bifida
    b. Cerebral palsy
    c. Spinal cord compression atau kompresi medula spinalis
  3. Syndromic clubfoot
    clubfoot
    terjadi bersama dengan beberapa kondisi klinis yang berhubungan dengan sindrom yang mendasarinya, seperti:
    a. Arthrogryposis
    b. Amniotic band syndrome atau sindrom pita ketuban, dapat menyebabkan kaki bayi terlilit pita atau tali yang terbentuk di dalam kantong ketuban
    c. Fibular hemimelia, yaitu kelainan yang membuat tulang fibula (satu dari dua tulang di kaki) lebih pendek atau bahkan tidak ada sama sekali

Faktor risiko

Mengutip Mayo Clinic, anak laki-laki sekitar dua kali lebih berisiko mengalami clubfoot dibandingkan dengan anak perempuan.

Berikut beberapa kondisi yang meningkatkan risiko bayi mengalami clubfoot, meliputi:

  1. Faktor genetik
    Bayi yang memiliki orangtua atau keluarga yang mengalami clubfoot kemungkinan dapat mengalami kondisi yang sama
  2. Kondisi bawaan
    Clubfoot dapat terjadi bersama dengan kelainan kerangka bawaan lain, seperti spina bifida atau kelainan bawaan yang terjadi pada tulang belakang
  3. Gaya hidup
    Merokok atau mengonsumsi obat-obatan terlarang selama kehamilan, dapat meningkatkan risiko clubfoot pada bayi
  4. Oligohidramnion
    Cairan ketuban berfungsi sebagai wadah bayi bergerak ketika sedang berkembang, termasuk saat membentuk tulang dan otot.
    Cairan ketuban yang terlalu sedikit akan mengganggu proses tumbuh kembang bayi sehingga clubfoot bisa saja terjadi.

Baca juga: Kaki Berbentuk X atau O

Diagnosis

Melansir Cleveland Clinic, clubfoot dapat disadari ketika ibu hamil melakukan pemeriksaan USG sebab pemeriksaan ini akan menunjukkan gambar bayi.

Jika bayi didiagnosis mengalami clubfoot maka dokter bersama orang tua akan merencanakan perawatan yang dibutuhkan setelah bayi lahir.

Sedangkan jika clubfoot baru disadari pada bayi yang telah dilahirkan maka pemeriksaan rontgen akan dilakukan untuk memastikan apakah bayi mengalami clubfoot.

Perawatan

Dikutip dari Cleveland Clinic, terdapat beberapa metode untuk mengobati clubfoot, di antaranya:

  1. Metode Ponseti
    Meregangkan dan mengayunkan kaki yang mengalami clubfoot secara perlahan lalu kaki tersebut akan dipasang gips untuk memperbaiki lekukan
  2. Metode Prancis
    Memijat, meregangkan, dan mengikat kaki yang mengalami clubfoot dengan pita tidak elastis selama setiap hari hingga penderita berusia dua tahun
  3. Bracing
    Menggunakan sepatu khusus untuk menjaga kaki berada dalam posisi yang tepat
  4. Operasi
    - dilakukan jika clubfoot tidak kunjung pulih dengan metode yang lain
    - dokter akan memperpanjang atau memosisikan kembali tendon, ligamen, tulang, dan sendi untuk membantu kaki berada pada posisi yang lebih baik
    - setelah operasi dokter akan memasang gips agar kaki penderita dapat stabil dalam posisi tersebut

Baca juga: Kaki Rata

Komplikasi

Dilansir dari Medical News Today, clubfoot yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Sulit berjalan, berlari, berdiri, dan bermain seperti anak-anak lainnya
  2. Panjang kaki yang berbeda atau tidak seimbang menyebabkan anak kurang percaya diri
  3. Ukuran kaki dan betis yang mengalami clubfoot tampak lebih kecil dari kaki yang normal

Pencegahan

Mengutip healthline, dikarenakan penyebab clubfoot tidak diketahui secara pasti maka tidak ada cara pasti untuk mencegah clubfoot.

Namun, terdapat cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko clubfoot pada bayi, seperti:

  • Lakukan pemeriksaan prakonsepsi ketika merencanakan kehamilan
  • Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin
  • Tidak merokok dan mengonsumsi alkohol saat sedang mengandung
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang ketika mengandung
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

Health
3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

Health
Penis Gatal

Penis Gatal

Penyakit
9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Health
Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS)

Penyakit
Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Health
Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran

Penyakit
Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Apakah Flu Penyakit yang Berbahaya?

Health
Fenilketonuria

Fenilketonuria

Penyakit
Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Apakah Demam Berdarah (DBD) Menular?

Health
Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum

Penyakit
3 Manfaat Kesehatan Buah Naga

3 Manfaat Kesehatan Buah Naga

Health
Seasonal Affective Disorder (SAD)

Seasonal Affective Disorder (SAD)

Penyakit
7 Gejala Pembekuan Darah di Otak yang Perlu Diwaspadai

7 Gejala Pembekuan Darah di Otak yang Perlu Diwaspadai

Health
Batu Ginjal

Batu Ginjal

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.