Kompas.com - 11/01/2022, 19:00 WIB

KOMPAS.com - Sindrom terowongan kubital adalah kondisi saat saraf ulnaris yang melewati terowongan kubital (terowongan otot, ligamen, dan tulang) di bagian dalam siku meradang, bengkak, dan teriritasi.

Sindrom terowongan kubital dapat menyebabkan rasa sakit yang sangat mirip dengan rasa sakit yang dirasakan saat memukul tulang siku.

Tulang siku dilintasi oleh saraf ulnaris, saraf yang melintasi siku. Saraf ulnaris berawal di sisi leher dan berakhir di jari-jari.

Baca juga: Hati-Hati, Sering Pakai Ponsel Berisiko Alami Sindrom Carpal Tunnel

Gejala

Gejala awal sindrom terowongan kubital meliputi:

  • sakit dan mati rasa di siku
  • kesemutan, terutama di jari manis dan kelingking.

Gejala yang lebih parah dari sindrom terowongan kubital, meliputi:

  • kelemahan yang memengaruhi jari manis dan kelingking
  • penurunan kemampuan mencubit ibu jari dan kelingking
  • pegangan tangan secara keseluruhan berkurang
  • pengecilan otot di tangan
  • deformitas tangan seperti cakar.

Penyebab

Sindrom terowongan kubital dapat terjadi saat seseorang sering menekuk siku (saat menarik, meraih, atau mengangkat), banyak bersandar pada siku, atau mengalami cedera pada area tersebut.

Selain itu, artritis, taji tulang, patah tulang, atau dislokasi siku juga dapat menjadi penyebab dari sindrom terowongan kubital.

Dalam banyak kasus, penyebabnya tidak diketahui secara pasti.

Diagnosis

Jika Anda memiliki gejala-gejala ini, dokter mungkin mendiagnosis sindrom terowongan kubital hanya melalui pemeriksaan fisik.

Baca juga: Sindrom Terowongan Tarsal

Namun, dokter juga mungkin akan memesan studi konduksi saraf dan tes yang disebut elektromiografi (EMG).

EMG adalah prosedur yang melibatkan penempelan elektroda pada otot dan kulit untuk mengukur kesehatan otot dan sel saraf yang mengendalikannya.

Prosedur ini dapat memastikan diagnosis, mengidentifikasi area kerusakan saraf, dan menentukan tingkat keparahan kondisi.

Perawatan

Penanganan pertama adalah menghindari tindakan yang menimbulkan gejala, seperti:

  • membungkus bantal atau handuk secara longgar di sekitar siku atau mengenakan belat supaya tidak tertekuk
  • menghindari bersandar pada siku.

Terapis tangan dapat membantu memberikan alternatif untuk menghindari tekanan pada saraf.

Dalam beberapa kasus, pembedahan mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan pada saraf.

Kondisi ini dapat melibatkan pelepasan saraf, menggerakkan saraf ke depan siku, dan/atau menghilangkan sebagian tulang.

Kemudian, terapi terkadang diperlukan setelah operasi. Pemulihan dapat bervariasi tergantung tingkat keparahan kondisi.

Selain itu, gejala terowongan kubital mungkin tidak hilang sepenuhnya pascaoperasi, khususnya jika gejalanya parah.

Baca juga: Waspada Sindrom Carpal Tunnel pada Penderita Diabetes

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.