Kompas.com - 01/01/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi vitamin C NatchaSIlustrasi vitamin C

KOMPAS.com - Vitamin C adalah nutrisi penting yang tersedia berlimpah di banyak buah dan sayuran.

Mendapatkan cukup vitamin ini sangat penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Vitamin C juga memainkan peran penting dalam penyembuhan luka, menjaga tulang tetap kuat, dan termasuk meningkatkan fungsi otak.

Baca juga: Jangan Sampai Kelebihan, Ini Kebutuhan Vitamin C Harian Sesuai Usia

Menariknya, ada yang mengklaim bahwa suplemen vitamin C memberikan manfaat di luar yang bisa didapat dari vitamin C yang terdapat dalam makanan.

Salah satu alasan paling umum orang mengonsumsi suplemen vitamin C adalah anggapan bahwa suplemen bisa membantu mengatasi sariawan atau mencegah flu biasa.

Namun, banyak suplemen mengandung vitamin dalam jumlah yang sangat tinggi, yang dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan dalam beberapa kasus.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

6 Bahaya Konsumsi Vitamin C Berlebihan
Vitamin C memang penting diasup setiap hari, tapi jangan sampai terlalu banyak karena malah bisa menimbulkan beragam gangguan kesehatan.
Bagikan artikel ini melalui

Untuk orang Indonesia sendiri, pemerintah sudah memberikan kisi-kisi kebutuhan vitamin C sesuai rentang usia, jenis kelamin, dan faktor risiko.

Berikut ini adalah jumlah kebutuhan vitamin C harian yang disarankan menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No. 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia:

Bayi/anak

  • 0-5 bulan: 40 mg
  • 6-11 bulan: 50 mg
  • 1-3 tahun: 40 mg
  • 4-6 tahun: 45 mg
  • 7-9 tahun: 45 mg

Baca juga: 14 Makanan yang Mengandung Vitamin C Tinggi

Pria

  • 10-12 tahun: 50 mg
  • 13-15 tahun: 75 mg
  • 16-18 tahun: 90 mg
  • 19-29 tahun: 90 mg
  • 30-49 tahun: 90 mg
  • 50-64 tahun: 90 mg
  • 65-80 tahun: 90 mg
  • 80+ tahun: 90 mg

Wanita

  • 10-12 tahun: 50 mg
  • 13-15 tahun: 65 mg
  • 16-18 tahun: 75 mg
  • 19-29 tahun: 75 mg
  • 30-49 tahun: 75 mg
  • 50-64 tahun: 75 mg
  • 65-80 tahun: 75 mg
  • 80+ tahun: 75 mg

Baca juga: 10 Makanan yang Mengandung Vitamin D Tinggi

Ibu hamil

  • Trimester 1: +10 mg
  • Trimester 2: +10 mg
  • Trimester 3: +10 mg

Ibu menyusui

  • 6 Bulan pertama: +45 mg
  • 6 Bulan kedua: +45 mg

Pemenuhan kebutuhan vitamin C pada bayi 0-6 bulan harus bersumber dari pemberisan ASI eksklusif.

Lantas, apa saja efek samping atau bahaya yang dapat muncul apabila mengonsumsi terlalu banyak vitamin C?

Berikut ini beberapa kemungkinannya:

1. Dapat menyebabkan gangguan pencernaan

Vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air.

Baca juga: Kapan Harus Pergi ke Dokter Saat Diare?

Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, vitamin yang larut dalam air tidak disimpan di dalam tubuh.

Sebaliknya, vitamin C yang telah dikonsumsi akan diangkut ke jaringan melalui cairan tubuh, dan tambahan apa pun akan dikeluarkan melalui urine.

Karena tubuh tidak menyimpan vitamin C atau memproduksinya sendiri, penting untuk mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C setiap hari.

Namun, suplementasi vitamin C dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan efek samping.

Melansir Health Line, efek samping yang paling umum dari asupan vitamin C yang tinggi atau berlebih adalah gangguan pencernaan.

Secara umum, efek samping tersebut tidak terjadi akibat mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C, melainkan dari mengonsumsi vitamin dalam bentuk suplemen.

Baca juga: 9 Macam Gangguan Pencernaan dan Cara Mengobatinya

Seseorang kemungkinan besar akan mengalami gejala pencernaan jika mengonsumsi vitamin C dengan dosis lebih dari 2.000 mg sekaligus.

Dengan demikian, batas atas konsumsi vitamin C yang dapat ditoleransi 2.000 mg per hari telah ditetapkan.

Gejala pencernaan yang paling umum dari asupan vitamin C yang berlebihan adalah diare dan mual.

Asupan yang berlebihan juga telah dilaporkan menyebabkan naiknya asam lambung, meskipun hal ini belum sepenuhnya terbukti.

Jika mengalami masalah pencernaan akibat mengonsumsi terlalu banyak vitamin C, seseorang cukup mengurangi dosis suplemen atau hindari suplemen vitamin C sama sekali.

2. Dapat menyebabkan kelebihan zat besi

Vitamin C dikenal memiliki fungsi juga untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

Zat gizi ini dapat mengikat zat besi non-heme yang ditemukan dalam makanan nabati.

Zat besi non-heme tidak diserap oleh tubuh seefisien zat besi heme, jenis zat besi yang ditemukan dalam produk hewani.

Baca juga: 10 Makanan yang Mengandung Magnesium Tinggi

Vitamin C terikat dengan zat besi non-heme, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Ini adalah fungsi penting, terutama bagi individu yang mendapatkan sebagian besar zat besi dari makanan nabati.

Satu studi pada orang dewasa menemukan bahwa penyerapan zat besi meningkat 67 persen ketika mereka mengonsumsi 100 mg vitamin C dengan makanan.

Namun, individu dengan kondisi yang meningkatkan risiko penumpukan zat besi dalam tubuh, seperti hemochromatosis, perlu berhati-hati dengan suplemen vitamin C.

Dalam keadaan ini, mengonsumsi vitamin C secara berlebihan dapat menyebabkan kelebihan zat besi yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, hati, pankreas, tiroid, dan sistem saraf pusat.

3. Dapat menyebabkan batu ginjal

Kelebihan vitamin C dikeluarkan dari tubuh sebagai oksalat, produk limbah tubuh.

Oksalat biasanya keluar dari tubuh melalui urine.

Baca juga: 6 Makanan Penyebab Batu Ginjal yang Harus Diwaspadai

Namun, dalam beberapa keadaan, oksalat dapat mengikat mineral dan membentuk kristal yang dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal.

Mengonsumsi terlalu banyak vitamin C berpotensi meningkatkan jumlah oksalat dalam urine seseorang, sehingga meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.

Dalam sebuah penelitian yang meminta orang dewasa mengonsumsi suplemen 1.000 mg vitamin C dua kali sehari selama 6 hari, jumlah oksalat yang mereka keluarkan meningkat sebesar 20 persen.

Asupan vitamin C yang tinggi bukan hanya dikaitkan dengan jumlah oksalat dalam urine yang lebih besar, tetapi juga terkait dengan perkembangan batu ginjal, terutama jika seseorang mengonsumsinya dalam jumlah lebih dari 2.000 mg.

Laporan gagal ginjal juga telah dilaporkan pada orang yang mengonsumsi lebih dari 2.000 mg dalam sehari. Namun, kondisi ini termasuk sangat jarang terjadi, terutama pada orang sehat.

4. Ketidakseimbangan nutrisi

Melansir Medical News Today, kekhawatiran lain terkait asupan vitamin C yang berlebihan adalah dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memproses nutrisi lain.

Misalnya, vitamin C bukan hanya bisa meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh yang dapat menyebabkan kadar zat besi menjadi terlalu tinggi.

Vitamin C juga dapat menurunkan kadar vitamin B12 dan mineral tembaga dalam tubuh.

Baca juga: 12 Makanan yang Mengandung Vitamin B12 Tinggi

5. Menyebabkan bone spurs atau osteofit

Menurut Arthritis Foundation, sebuah penelitian menemukan bahwa adanya kadar vitamin C yang sangat tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan bone spurs atau osteofit yang menyakitkan.

Bone spurs adalah tulang yang tumbuh menonjol di sekitar persendian atau tempat pertemuan antara dua tulang.

Di sisi lain, orang dengan kadar vitamin C rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena rheumatoid arthritis atau rematik, yakni kondisi sendi inflamasi yang menyakitkan.

Temuan ini menekankan perlunya suplementasi vitamin C yang tepat, yaitu tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit demi kesehatan.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Beda Penyakit Rematik dan Asam Urat

6. Merusak efektivitas niacin-simvastatin

Bukti menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk meningkatkan kolesterol high density lipoprotein (HDL) pada orang yang menggunakan kombinasi obat niacin-simvastatin.

Obat ini menggabungkan vitamin niacin (vitamin B3) dengan statin simvastatin (Zocor), dan orang meminumnya untuk mengobati kolesterol tinggi.

Dokter menganggap kolesterol HDL sebagai kolesterol "baik" karena mengurangi jumlah kolesterol berbahaya dalam darah.

Jika seseorang mengonsumsi suplemen vitamin C dan niacin-simvastatin, mereka harus berbicara dengan dokter tentang cara untuk membuatnya lebih efektif.

Baca juga: 12 Makanan yang Mengandung Vitamin B3 Tinggi


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lesi Kulit

Lesi Kulit

Penyakit
Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Health
Badan Lemas

Badan Lemas

Penyakit
Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Health
Pinggiran Lidah Bergelombang

Pinggiran Lidah Bergelombang

Penyakit
3 Cara Mengobati Kencing Batu

3 Cara Mengobati Kencing Batu

Health
Infeksi Parasit

Infeksi Parasit

Penyakit
Lidah Geografik

Lidah Geografik

Penyakit
Bibir Sobek

Bibir Sobek

Penyakit
Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Health
Kaki Panjang Sebelah

Kaki Panjang Sebelah

Penyakit
Kisah M. Habib Shaleh, 'Lahir Kembali' setelah Koma Cedera Olahraga

Kisah M. Habib Shaleh, "Lahir Kembali" setelah Koma Cedera Olahraga

Health
Gangguan Elektrolit

Gangguan Elektrolit

Penyakit
4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

Health
Leher Kaku

Leher Kaku

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.