Kompas.com - 15/11/2021, 18:00 WIB

KOMPAS.com - Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain, paling sering mengenai hati dan ginjal.

Preeklamsia biasanya dimulai setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya telah normal.

Jika tidak diobati, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu dan bayi.

Baca juga: Penyebab dan Tanda Preeklamsia

Penyebab

Penyebab pasti preeklamsia melibatkan beberapa faktor. Para ahli percaya kondisi ini dimulai di plasenta.

Pada awal kehamilan, pembuluh darah baru berkembang dan berevolusi untuk mengirim darah ke plasenta secara efisien.

Pada wanita dengan preeklamsia, pembuluh darah menjadi tidak berkembang atau gagal berfungsi dengan baik.

Pembuluh dari menjadi lebih sempit dari pembuluh darah normal dan bereaksi berbeda terhadap sinyal hormonal yang membatasi jumlah darah.

Penyebab perkembangan abnormal pada pembuluh darah tersebut antara lain:

  • Aliran darah ke rahim tidak mencukupi
  • Kerusakan pada pembuluh darah
  • Masalah dengan sistem kekebalan tubuh
  • Gen tertentu.

Gejala

Preeklamsia terkadang terjadi tanpa gejala apapun.

Tekanan darah tinggi dapat berkembang secara perlahan atau muncul secara tiba-tiba. Tanda dan gejala lain dari preeklamsia adalah:

Baca juga: Perbedaan Preeklamsia Ringan dan Preeklamsia Berat

  • Kelebihan protein dalam urine (proteinuria) atau tanda-tanda tambahan masalah ginjal
  • Sakit kepala parah
  • Perubahan penglihatan, termasuk kehilangan penglihatan sementara, penglihatan kabur, atau sensitivitas cahaya
  • Sakit perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk di sisi kanan
  • Mual atau muntah
  • Pengeluaran urine menurun
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia)
  • Gangguan fungsi hati
  • Sesak napas, disebabkan oleh cairan di paru-paru.

Diagnosis

Pastikan menghadiri sesi prenatal sehingga penyedia layanan dapat memantau tekanan darah.

Hubungi dokter segera atau pergi ke ruang gawat darurat jika mengalami:

  • Sakit kepala parah
  • Penglihatan kabur atau gangguan penglihatan lainnya
  • Sakit perut akut
  • Sesak napas.

Karena sakit kepala, mual, dan nyeri adalah keluhan kehamilan yang umum, sulit untuk membedakan mana yang lazim dan yang serius, terutama jika dalam kehamilan pertama.

Jika khawatir terkait gejala yang dialami, segera hubungi dokter.

 

Jika dokter mencurigai adanya preeklamsia, pasien akan memerlukan tes tertentu, seperti:

  • Tes darah
  • Analisa urine
  • USG janin
  • Tes nonstress atau profil biofisik.

Baca juga: 6 Cara Mencegah Preeklamsia pada Ibu Hamil

Perawatan

Preeklamsia tidak sembuh sampai bayi dilahirkan.

Sampai tekanan darah turun, pasien berisiko lebih besar terkena stroke, pendarahan hebat, lepasnya plasenta dari rahim, dan kejang.

Untuk ibu yang pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya disarankan untuk lebih sering menghadiri sesi prenatal. Obat-obatan berikut biasanya direkomendasikan:

  • Antihipertensi, digunakan untuk menurunkan tekanan darah.
  • Antikonvulsan, dalam kasus yang parah, obat ini digunakan untuk mencegah kejang pertama. Resep magnesium sulfat.
  • Kortikosteroid, obat ini dapat meningkatkan fungsi trombosit dan hati

Komplikasi

Semakin parah preeklamsia dan semakin dini hal itu terjadi pada kehamilan, semakin besar risikonya bagi ibu dan bayi.

Komplikasi preeklamsia antara lain:

  • Pembatasan pertumbuhan janin
  • Kelahiran prematur
  • Solusio plasenta
  • Gejala sindrom HELLP 
  • Eklampsia
  • Kerusakan organ lainnya, seperti pada ginjal, hati, paru-paru, jantung, atau mata, dan dapat menyebabkan stroke serta cedera otak lainnya
  • Penyakit kardiovaskular.

Baca juga: 10 Ciri-ciri Preeklamsia pada Ibu Hamil

Pencegahan

Preeklamsia tidak dapat sepenuhnya dicegah.

Namun, melansir Medical News Today, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan seorang ibu untuk mengurangi beberapa faktor yang menyebabkan tekanan darah tinggi sehingga bisa mencegah preeklamsia.

Langkah tersebut antara lain:

  • Minum antara enam sampai delapan gelas air putih setiap hari
  • Menghindari makanan yang digoreng atau makanan kemasan
  • Kurangi garam tambahan dari makanan
  • Olahraga secara rutin
  • Menghindari asupan alkohol dan kafein
  • Menjaga kaki tetap tinggi beberapa kali sehari
  • Istirahat cukup
  • Suplemen dan obat-obatan yang direkomendasikan dokter.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.