Kompas.com - 02/01/2022, 17:00 WIB

KOMPAS.com - Setiap wanita memiliki sel telur yang diproduksi sejak masa perkembangan janin.

Meskipun telah diproduksi sejak masih di dalam kandungan, sel-sel telur tersebut masih belum matang sehingga tidak dapat dibuahi.

Sel telur (ovum) disimpan di dalam ovarium dan akan matang pada masa puber, atau sekitar 12 hingga 15 tahun.

Baca juga: Apakah Masturbasi Memengaruhi Siklus Haid?

Salah satu sel telur yang matang akan dilepaskan dari ovarium menuju tuba falopi untuk dibuahi oleh sperma.

Jika selama masa ovulasi ovum tidak dibuahi oleh sperma maka ovum akan hancur dan diserap dinding rahim (endometrium) lalu luruh melalui vagina yang disebut menstruasi.

Mayoritas wanita mengalami siklus haid yang teratur setiap bulannya, yakni setiap 28 hari sekali dengan durasi menstruasi sekitar 5 sampai 7 hari.

Namun, terdapat kondisi di mana wanita mengalami siklus haid yang tidak teratur atau tidak mengalami haid dalam beberapa waktu.

Kondisi ini disebut amenorea, yaitu kondisi ketika wanita tidak mengalami menstruasi pada masa menstruasi.

Amenorea merupakan kondisi normal yang dialami wanita pada masa sebelum pubertas, kehamilan, menyusui, dan setelah menopause.

Wanita yang tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan berturut-turut di masa menstruasi juga dianggap mengalami amenorea.

Amenorea dapat terjadi akibat perubahan fungsi atau masalah pada sistem reproduksi wanita.

Jika seorang wanita mengalami amenorea yang terjadi lebih dari tiga bulan maka sebaiknya mereka melakukan pemeriksaan guna mendeteksi penyebab yang mendasarinya.

Jenis

Mengutip Cleveland Clinic, terdapat dua jenis amenorea yakni:

  • Amenorea primer

Merupakan amenorea yang terjadi ketika wanita belum juga mengalami menstruasi pada usia 15 tahun atau dalam waktu lima tahun dari gejala pertama pubertas.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh perubahan organ, kelenjar, dan hormon yang berhubungan dengan menstruasi.

Baca juga: 5 Penyebab Amenore, Kondisi Ketika Wanita Tidak Haid

  • Amenorea sekunder

Terjadi pada wanita yang telah mengalami periode menstruasi teratur, tetapi berhenti mengalaminya selama 3 hingga 6 bulan berturut-turut.

Penyebab dari kondisi ini adalah kehamilan, stres, dan penyakit tertentu.

Gejala

Dirangkum dari laman WebMD dan DocDoc, gejala utama dari amenorea adalah tidak terjadinya menstruasi dalam waktu tiga bulan dari periode menstruasi terakhir.

Amenorea dapat menimbulkan gejala lain tergantung dari kondisi yang mendasarinya, seperti:

  • Keluarnya cairan seperti susu dari puting payudara
  • Hirsutisme, yaitu tumbuhnya rambut halus yang berlebihan pada bagian wajah
  • Berat badan yang tidak normal, seperti terlalu besar atau terlalu rendah
  • Sakit kepala
  • Kecemasan atau depresi
  • Berkeringat di malam hari
  • Perubahan pola tidur
  • Vagina kering
  • Hot flashes, yaitu sensasi rasa panas yang muncul secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya
  • Nyeri panggul
  • Perubahan atau gangguan penglihatan
  • Timbul jerawat
  • Rambut rontok
  • Payudara yang tidak tumbuh pada masa pubertas.

Baca juga: 10 Penyebab Keluar Darah Setelah Berhubungan Seks Tapi Tidak Haid

Penyebab

Dilansir dari MayoClinic, amenorea dapat disebabkan oleh berbagai kondisi berikut:

  • Perubahan hormon

Perubahan hormon dapat terjadi secara alami, seperti pada masa:

  1. Kehamilan
  2. Menyusui
  3. Menopause.
  • Efek dari penggunaan alat kontrasepsi tertentu

Beberapa wanita yang mengonsumsi pil KB (kontrasepsi oral) mungkin tidak mengalami menstruasi.

Setelah berhenti mengonsumsi pil ini pun, masih memerlukan waktu untuk mengembalikan ovulasi yang teratur dan haid yang normal.

Tidak hanya kontrasepsi oral, KB suntik, KB implan (susuk), dan KB spiral atau intrauterine device (IUD) juga dapat memicu amenorea.

  • Efek samping obat-obatan tertentu

Terdapat obat-obatan tertentu yang dapat menghentikan siklus haid, di antaranya:

  1. Obat antipsikotik
  2. Obat kemoterapi, untuk mengobati kanker
  3. Obat antidepresan
  4. Obat tekanan darah
  5. Obat alergi.

Baca juga: Haid Pertama pada Remaja, Apa Saja yang Normal dan Tidak?

  • Faktor gaya hidup

Terkadang faktor gaya hidup juga dapat memicu terjadinya amenorea, misalnya:

  1. Berat badan yang rendah
    Berat badan yang terlalu rendah, seperti akibat anoreksia atau bulimia, akan mengganggu fungsi hormonal dalam tubuh yang berpotensi menghentikan ovulasi.

  2. Olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan
    Wanita yang aktif dalam aktivitas yang memerlukan latihan fisik keras, seperti penari balet dan atlet, berpotensi mengalami gangguan siklus menstruasi.
    Selain itu, rendahnya lemak tubuh, stres, dan pengeluaran energi yang tinggi juga memicu terjadinya amenorea.

  3. Stres
    Stres emosional ataupun fisik dapat memicu perubahan fungsi hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengontrol hormon pengendali siklus menstruasi.
    Kondisi ini dapat mengakibatkan ovulasi dan menstruasi berhenti untuk sementara dan kembali normal setelah stres berkurang.

  4. Ketidakseimbangan hormon
    Terdapat beragam jenis gangguan medis yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, seperti:
    - Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
    - Gangguan tiroid, seperti hipertiroidisme dan hipotiroidisme
    - Tumor pada kelenjar hipofisis atau pituitary
    - Menopause dini, merupakan menopause yang dialami sebelum usia 40 tahun.

Baca juga: Ciri-ciri Nyeri Haid yang Normal dan Tidak Normal

  • Gangguan anatomi

Gangguan atau masalah pada organ reproduksi juga dapat menyebabkan amenorea, seperti:

  1. Adanya jaringan parut pada rahim akibat sindrom Asherman, komplikasi dari dilatasi dan kuretase, operasi caesar, atau penanganan fibroid rahim
  2. Tidak terbentuknya organ reproduksi, seperti rahim, leher rahim, atau vagina secara lengkap yang terjadi selama perkembangan janin
  3. Adanya obstruksi atau sumbatan pada saluran reproduksi.

Faktor risiko

Menurut Cleveland Clinic, beberapa kondisi yang meningkatkan risiko mengalami amenorea meliputi:

  • Memiliki riwayat keluarga yang mengalami amenorea atau menopause dini
  • Memiliki kelainan genetik atau kromosom yang memengaruhi siklus menstruasi
  • Memiliki berat badan tidak ideal, seperti obesitas atau kekurangan berat badan
  • Mengalami gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia
  • Melakukan olahraga secara berlebihan
  • Menjalani diet yang buruk
  • Mengelola stres dengan cara yang tidak tepat atau membiarkan stres terus berlanjut
  • Penyakit kronis.

Diagnosis

Dikutip dari Mayo Clinic, berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis amenorea:

Baca juga: 10 Penyebab Haid Terlambat Selain Hamil

  1. Tes kehamilan
    Pemeriksaan ini mungkin akan menjadi tes pertama yang disarankan oleh dokter, untuk memastikan apakah amenorea disebabkan oleh kehamilan
  2. Tes fungsi tiroid
    Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon perangsang tiroid (TSH) dalam darah guna mengevaluasi fungsi tiroid
  3. Tes fungsi ovarium
    Mengukur jumlah hormon perangsang folikel (FSH) dalam darah guna mengevaluasi apakah ovarium bekerja dengan baik
  4. Tes prolaktin
    Kadar hormon prolaktin yang rendah dapat menjadi gejala adanya tumor pada kelenjar hipofisis atau pituitary
  5. Tes hormon pria atau testosteron
    Merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kadar hormon testosteron dalam darah dan dilakukan pada pasien yang mengalami pertumbuhan rambut di wajah.

Perawatan

Melansir dari laman Everyday Health, penanganan amenorea cukup bervariasi karena disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya, seperti:

  • Obat-obatan

  1. Pil KB atau jenis obat hormonal lainnya, untuk memicu siklus haid
  2. Terapi klomifen sitrat, untuk mengobati PCOS
  3. Terapi penggantian hormon estrogen (ERT), untuk mengobati amenorea yang disebabkan oleh insufisiensi ovarium primer
  4. Obat tumor, untuk membunuh atau mengecilkan sel tumor yang menyebabkan amenorea.

Baca juga: Apakah Stres Bisa Menyebabkan Telat Haid?

  • Prosedur operasi

Amenorea yang disebabkan oleh terbentuknya jaringan parut atau tumor memerlukan prosedur operasi untuk mengatasinya.

  • Perubahan gaya hidup

Apabila amenorea disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat maka dokter akan menyarankan beberapa perubahan gaya hidup berikut:

  1. Melakukan diet jika memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  2. Mengatur pola makan yang sehat dengan gizi seimbang untuk menjaga berat badan tetap sehat dan ideal
  3. Rutin berolahraga
  4. Mengelola stres dengan metode yang tepat, seperti dengan meditasi, yoga, atau melakukan sesi konseling.

Komplikasi

Dikutip dari Mayo Clinic, tergantung pada kondisi yang mendasarinya, amenorea dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Infertilitas atau ketidaksuburan
    Apabila wanita tidak berovulasi dan tidak mengalami menstruasi maka ia tidak akan bisa hamil.
  2. Masalah kehamilan
    Amenorea yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan keguguran atau masalah kehamilan lainnya.
  3. Stres secara psikologis
    Remaja yang tidak mengalami menstruasi disaat teman-teman sebaya mereka mengalami menstruasi dapat menyebabkan stres.
  4. Osteoporosis dan penyakit kardiovaskular
    Kedua masalah ini dapat terjadi akibat kadar estrogen yang rendah.
  5. Nyeri panggul
    Amenoria yang terjadi akibat gangguan atau masalah pada organ reproduksi maka penderita akan mengalami nyeri pada area panggul.

Baca juga: Ganti Pembalut Idealnya Tiap Berapa Jam Saat Haid?

Pencegahan

Dirangkum dari situs Healthline dan Family Doctor, amenorea merupakan kondisi yang cukup sulit dicegah.

Meskipun demikian, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami kondisi ini, di antaranya:

  • Menerapkan pola makan yang sehat dengan gizi seimbang
  • Jaga berat badan tetap sehat dan ideal
  • Lakukan diet jika memiliki berat badan berlebih
  • Catat siklus menstruasi setiap bulannya guna membantu mendeteksi amenorea sejak dini
  • Rutin berolahraga
  • Belajar untuk mengelola stres dengan cara yang tepat.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.