Kompas.com - 01/01/2022, 15:00 WIB

KOMPAS.com - Perut nyeri atau kram dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk irritable bowel syndrome (IBS).

Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus besar merupakan sekumpulan gejala pada sistem pencernaan.yang memengaruhi kerja usus besar.

Irritable bowel syndrome (IBS) menimbulkan gejala, seperti sakit atau kram perut, kembung, diare, dan sembelit.

Baca juga: 3 Gejala Irritable Bowel Syndrome (IBS) yang Perlu Diwaspadai

Kondisi ini lebih sering dialami oleh wanita dan merupakan kondisi kronis yang dapat mengalami kekambuhan sehingga memerlukan penanganan jangka panjang.

Meskipun bersifat kronis atau berkepanjangan, irritable bowel syndrome (IBS) tidak menyebabkan perubahan pada jaringan usus besar.

Irritable bowel syndrome (IBS) juga tidak meningkatkan risiko kanker usus besar. Namun pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada usus.

Gejala

Dirangkum dari situs Medical News Today dan National Health Service, beberapa gejala irritable bowel syndrome (IBS) yang umum adalah:

  • Mengalami perubahan pada kebiasaan buang air besar
  • Sakit atau kram perut yang umumnya mereda setelah buang air besar (BAB)
  • Perasaan tidak tuntas setelah buang air besar (BAB)
  • Kentut berlebihan atau terus-menerus
  • Adanya lendir pada anus (rektum)
  • Tidak dapat menahan keinginan buang air besar (BAB)
  • Kembung.

Gejala-gejala tersebut kerap memburuk saat penderita selesai makan. Gejala juga dapat datang dan pergi, semakin parah, hilang dengan sendirinya, atau mereda secara bertahap.

Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bulan, dan dapat kembali kambuh atau justru pulih sepenuhnya.

Selain itu, terdapat beberapa gejala lain yang dapat muncul akibat mengalami irritablebowel syndrome (IBS), seperti:

Baca juga: 5 Cara Mengelola Gejala IBS (Sindrom Iritasi Usus Besar)

  • Masalah buang air kecil, seperti ingin sering buang air kecil, tidak dapat menahan keinginan buang air kecil, atau perasaan tidak tuntas setelah buang air kecil
  • Inkontinensia alvi, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk menahan atau mengendalikan buang air besar (BAB)
  • tidak selalu bisa mengontrol kapan buang air besar (inkontinensia usus )
  • Halitosis, ditandai dengan aroma napas atau bau mulut yang tidak sedap
  • Sakit kepala
  • Nyeri atau sakit punggung
  • Kelelahan dan kekurangan energi
  • Dispareunia, yaitu nyeri pada area kelamin yang terjadi secara terus-menerus atau berulang ketika akan, sedang, atau setelah berhubungan seksual
  • Siklus haid tidak teratur.

Penderita IBS mungkin juga akan mengalami rasa cemas berlebihan, bahkan depresi akibat ketidaknyamanan dan perasaan malu karena menderita IBS.

Jenis

Melansir Cleveland Clinic, terdapat beberapa jenis IBS berdasarkan gejala atau jenis masalah buang air besar yang diderita, seperti:

  1. IBS with constipation (IBS-C)
    Ditandai dengan sembelit (konstipasi) yang mengakibatkan tekstur feses mengeras dan sulit keluar
  2. IBS with diarrhea (IBS-D)
    Ditandai dengan diare, di mana feses pengidap menjadi lebih encer
  3. IBS with mixed bowel habits (IBS-M)
    Ditandai dengan gejala campuran diare dan sembelit (konstipasi).

Penyebab

Merangkum Healthdirect dan Mayo Clinic, penyebab sindrom iritasi usus besar masih belum diketahui secara pasti.

Baca juga: 7 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Saat Didiagnosis Menderita IBS

Namun, terdapat beberapa kondisi yang diduga menjadi pemicu dari gangguan pada sistem pencernaan, yaitu:

  • Kontraksi otot abnormal pada usus

Dinding usus dilapisi oleh otot yang berkontraksi ketika memindahkan makanan melalui saluran pencernaan.

Kontraksi dinding usus yang lebih kuat dan berlangsung lebih lama dari biasanya dapat menyebabkan perut kembung dan diare.

Tidak hanya kontraksi dinding usus yang lebih kuat, kontraksi dinding usus yang terlalu lemah juga dapat memicu gangguan pada sistem pencernaan.

Hal ini dikarenakan kontraksi usus yang terlalu lemah akan memperlambat perjalanan makanan sehingga feses menjadi lebih keras dan kering.

  • Kelainan sistem saraf

Kelainan pada saraf di sistem pencernaan dapat menyebabkan seseorang mengalami ketidaknyamanan pada perut.

Sinyal antara otak dan usus yang tidak terkoordinasi dengan baik menyebabkan tubuh bereaksi berlebihan terhadap perubahan yang terjadi pada proses pencernaan.

Kondisi inilah yang menimbulkan rasa sakit, diare, atau sembelit.

  • Infeksi berat

Sindrom iritasi usus besar dapat berkembang setelah serangan diare hebat (gastroenteritis) akibat infeksi bakteri atau virus.

Sindrom iritasi usus besar juga dapat dikaitkan dengan keberadaan bakteri berlebih di dalam usus.

Baca juga: 3 Kesalahan yang Bisa Memperburuk Gejala Sindrom Iritasi Usus Besar

  • Stres di usia muda

Orang yang mengalami stres berat pada usia muda, terutama di masa kanak-kanak, cenderung lebih rentan mengalami gejala IBS.

  • Perubahan bakteri di usus

Mikroflora merupakan bakteri baik yang ada di dalam usus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroflora pada penderita IBS berbeda dengan orang sehat.

  • Konsumsi makanan atau minuman tertentu

Peran alergi makanan atau intoleransi makanan terhadap IBS belum diketahui secara pasti dan alergi makanan pun jarang menyebabkan IBS.

Meskipun demikian, sebagian orang yang memiliki alergi mengalami gejala sindrom iritasi usus besar yang lebih buruk ketika mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

Beberapa contoh makanan yang dapat memperburuk gejala IBS, seperti gandum, produk susu, jeruk, kacang-kacangan, kol, susu, dan minuman bersoda.

Faktor risiko

Menurut Mayo Clinic, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom iritasi usus besar, di antaranya:

  1. Berusia di bawah 50 tahun
  2. Berjenis kelamin perempuan, termasuk mereka yang menjalani terapi hormon estrogen sebelum dan sesudah menopause
  3. Memiliki anggota keluarga dengan riwayat IBS
  4. Mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan mental lainnya, seperti akibat riwayat pelecehan seksual, fisik, atau emosional.

Baca juga: Emosi Negatif Memperburuk Sindrom Iritasi Usus Besar, Begini Solusinya

Diagnosis

Mengutip Cedars-Sinai, diagnosis sindrom iritasi usus besar atau IBS diawali dengan anamnesis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis.

Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis IBS dan mengesampingkan kondisi lain yang menimbulkan gejala serupa:

  1. Tes darah
    Dilakukan untuk mendeteksi apakah pasien menderita anemia, terkena infeksi, atau mengalami peradangan
  2. Urinalisis atau kultur urine
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi infeksi di bagian mana pun pada saluran kemih pasien, seperti infeksi saluran kemih ISK
  3. Kultur feses
    Dokter akan mengambil sampel feses guna mendeteksi jenis bakteri atau parasit yang menyebabkan infeksi dan gangguan pada sistem pencernaan
  4. Endoskopi
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat bagian dalam saluran cerna dan mendeteksi adanya infeksi atau kelainan pada saluran pencernaan
  5. Rontgen perut
    Melalui pemeriksaan ini dokter dapat melihat struktur dan jaringan organ-organ yang ada di dalam perut
  6. USG perut
    Menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk memeriksa organ-organ utama dalam rongga perut dan mendeteksi gangguan pada perut
  7. Kolonoskopi
    Bertujuan untuk memeriksa kondisi usus besar secara keseluruhan sehingga dapat mengetahui adanya gangguan atau kelainan pada organ di dalam perut
  8. Tes pernapasan
    Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan (abnormal) di usus kecil.

Baca juga: 9 Gejala Sindrom Iritasi Usus yang Perlu Diwaspadai

Perawatan

Dirangkum dari Healthline dan Mayo Clinic, tidak ada obat atau metode penanganan yang dapat sepenuhnya menyembuhkan penyakit ini.

Namun, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meredakan atau mengendalikan gejala, seperti:

  • Modifikasi gaya hidup

Hal ini dilakukan untuk mengelola stres dan meringankan gejala. Beberapa perubahan gaya hidup yang dapat diterapkan oleh penderita IBS, meliputi:

  1. Hindari makanan yang memicu gejala
  2. Konsumsi makanan tinggi serat
  3. Banyak minum air putih
  4. Rutin berolahraga
  5. Pastikan tidur cukup
  6. Hindari makanan atau minuman dengan kandungan gas yang besar, seperti minuman berkarbonasi, berkafein, dan beralkohol karena dapat memicu kembung
  7. Hindari makanan yang mengandung gluten, seperti gandum
  8. Konsumsi buah dalam porsi yang cukup dan sesuai kebutuhan tubuh
  9. Makan dalam porsi yang kecil, tetapi sering
  10. Makan secara teratur sesuai dengan jadwal makan
  11. Hindari atau batasi konsumsi makanan yang mengandung zat gula, seperti fruktosa dan laktosa yang ada pada gandum, sayur, dan produk susu
  12. Kelola stres dengan metode yang tepat, seperti dengan yoga atau meditasi
  13. Hindari atau batasi makanan yang digoreng atau pedas.

Baca juga: 5 Cara Kontrol Gejala Sindrom Iritasi Usus saat Bepergian

  • Obat-obatan

Beberapa jenis obat-obatan yang mungkin akan diresepkan dokter guna mengendalikan atau meredakan gejala IBS, meliputi:

  1. Suplemen serat
    Dapat membantu mengatasi sembelit (konstipasi) dan melancarkan buang air besar (BAB)
  2. Obat pencahar
    Apabila suplemen serat tidak efektif mengatasi sembelit maka dokter akan meresepkan obat pencahar, seperti magnesium hidroksida
  3. Probiotik
    Merupakan bakteri baik yang dapat membantu melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan dari bakteri, virus, dan jamur, serta mengatasi sembelit
  4. Antidiare
    Obat antidiare, seperti loperamide dapat diresepkan untuk meredakan diare
  5. Antikolinergik
    Contohnya adalah dicyclomine, yang bekerja dengan memperlambat gerakan alami usus dan melemaskan otot perut dan usus guna meredakan kram perut
  6. Antidepresan trisiklik
    Contohnya adalah imipramine, yaitu obat yang dapat membantu meredakan depresi dengan menghambat sejumlah neurotransmiter agar nyeri berkurang
  7. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI)
    Merupakan jenis antidepresan yang dapat mengatasi depresi dan meredakan nyeri ataupun sembelit, contohnya adalah fluoxetine
  8. Obat pereda nyeri
    Obat pereda nyeri, seperti pregabalin atau gabapentin, dapat diresepkan untuk meredakan nyeri hebat dan perut kembung.

Baca juga: Gejala Mirip, Ini Beda Kanker Usus dan Sindrom Iritasi Usus Besar

Komplikasi

Merangkum Mayo Clinic dan Healthdirect, sindrom iritasi usus besar ini merupakan penyakit kronis yang dapat memicu beberapa komplikasi berikut:

  • Sembelit (konstipasi) kronis yang dapat menyebabkan wasir
  • Kualitas hidup yang buruk, misalnya produktivitas kerja yang menurun
  • Gangguan emosional, seperti stres, depresi, atau kecemasan
  • Migrain
  • Fibromyalgia, merupakan penyakit yang ditandai dengan munculnya rasa nyeri di sekujur tubuh, disertai rasa lelah dan gangguan tidur
  • Inkontinensia alvi, yaitu kondisi ketika tubuh tidak mampu mengendalikan keinginan untuk buang air besar.

Pencegahan

Dirangkum dari situs Healthdirect dan Everyday Health, tidak ada tindakan pencegahan yang sepenuhnya dapat mencegah irritable bowel syndrome (IBS).

Namun, beberapa perubahan gaya hidup berikut dapat mengurangi risiko terkena irritable bowel syndrome (IBS) dan mengurangi kekambuhan penyakit ini:

  1. Konsumsi makanan yang mengandung tinggi serat
  2. Makan secara perlahan, tidak terburu-buru
  3. Makan dalam waktu yang teratur
  4. Konsumsi makanan bernutrisi dengan gizi seimbang
  5. Hindari makanan yang memicu atau memperburuk gejala IBS
  6. Batasi atau hindari makanan dan minuman dengan kandungan gas yang besar, seperti bawang putih, kol, minuman berkarbonasi, berkafein
  7. Hindari minuman beralkohol
  8. Batasi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung pemanis buatan, seperti aspartam, sorbitol, dan manitol
  9. Batasi konsumsi produk olahan susu, seperti pada susu, es krim, atau yoghurt dengan kandungan laktosa yang tinggi
  10. Menjalani terapi yang disarankan dokter untuk meredakan gejala, seperti hipnoterapi dan latihan relaksasi
  11. Kelola stres dengan cara yang tepat, seperti yoga dan meditasi.

Baca juga: Emosi Negatif Memperburuk Sindrom Iritasi Usus Besar, Begini Solusinya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.