Kompas.com - Diperbarui 23/04/2022, 17:07 WIB
dr. Made Wirabhawa, M.Biomed, SpOT
Divalidasi oleh:
dr. Made Wirabhawa, M.Biomed, SpOT

Dokter Spesialis Ortopedi. Mayapada Hospital Bogor BMC. www.mayapadahospital.com

KOMPAS.com - Skoliosis merupakan kondisi tulang belakang melengkung ke satu sisi.

Normalnya, jika dilihat dari belakang tulang belakang akan terlihat lurus.

Namun, pada skoliosis menyebabkan tulang belakang melengkung, seperti huruf “C” atau “S.”

Baca juga: Ciri-ciri Skoliosis pada Anak-anak dan Dewasa

Kelengkungan dapat terjadi pada bagian tulang belakang mana pun, tetapi umumnya terjadi pada tulang belakang bagian atas dan punggung bawah.

Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk bayi. Namun, lebih sering ditemukan pada anak-anak usia remaja, yaitu sekitar usia 10 sampai 15 tahun.

Sebagian besar kasus skoliosis ringan, tetapi seiring bertambahnya usia lengkungan tulang punggung dapat memburuk dan berkembang menjadi lebih parah.

Skoliosis yang parah dapat menyebabkan penderita mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau kelemahan pada tungkai.

Maka dari itu, diperlukan penanganan yang tepat untuk mencegah komplikasi skoliosis.

Jenis

Mengutip WebMD, terdapat empat jenis skoliosis, yaitu:

  • Skoliosis idiopatik
  • Skoliosis kongenital
  • Skoliosis neurologis
  • Skoliosis degeneratif

Gejala

Merangkum WebMD dan Healthline, gejala skoliosis dapat bervariasi sesuai dengan tingkat keparahannya. Berikut beberapa gejala umum dari skoliosis:

Baca juga: Bagaimana Cara Mencegah Skoliosis?

  1. Bahu miring karena salah satu bahu tampak lebih tinggi
  2. Muncul tonjolan tulang belikat pada satu sisi tubuh
  3. Pinggang tidak sejajar
  4. Salah satu pinggul tampak lebih tinggi dari pinggul yang lain
  5. Tulang belakang berputar atau tampak melintir sehingga lengkungan semakin parah
  6. Mengalami gangguan pernapasan karena berkurangnya area di dada untuk paru-paru mengembang
  7. Nyeri punggung bawah
  8. Punggung mengalami kekakuan
  9. Kesemutan dan mati rasa pada kaki akibat saraf terjepit
  10. Fatigue atau kelelahan seolah tidak bertenaga karena ketegangan otot.

Penyebab

Dirangkum dari WebMD dan National Health Service, penyebab skoliosis dibedakan sesuai dengan jenisnya, yaitu:

  • Skoliosis idiopatik

Merupakan jenis skoliosis yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya sehingga tidak dapat dicegah. Sekitar 80 persen penderita skoliosis termasuk dalam kategori ini.

  • Skoliosis kongenital atau bawaan

Skoliosis disebabkan karena proses pembentukan tulang belakang yang tidak sempurna atau tidak tumbuh normal sejak bayi berada di dalam kandungan.

  • Skoliosis neuromuskular

Skoliosis yang disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf atau otot, seperti cerebral palsy, spina bifida, dan distrofi otot.

Baca juga: Jenis Olahraga Terbaik untuk Atasi Skoliosis

  • Skoliosis degeneratif

Jenis skoliosis yang disebabkan karena kerusakan atau keausan tulang belakang yang terjadi secara perlahan seiring bertambahnya usia.

Faktor risiko

Mengutip Mayo Clinic, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko mengalami skoliosis, yaitu:

  1. Usia
    Meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi skoliosis sering muncul pada usia anak yang mendekati masa pubertas (remaja)
  2. Jenis kelamin
    Meskipun skoliosis dapat terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan, tetapi anak perempuan lebih berisiko mengalami skoliosis yang parah
  3. Riwayat keluarga
    Meskipun jarang, skoliosis dapat disebabkan karena anggota keluarga yang memiliki penyakit serupa

Diagnosis

Merangkum Medical News Today dan Healthline, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada tulang belakang, tulang rusuk, pinggul, dan bahu.

Penderita akan diminta untuk berdiri atau membungkuk selama pemeriksaan fisik untuk melihat kelengkungan pada punggung.

Dengan bantuan alat yang disebut scoliometer, dokter dapat mengukur derajat skoliosis. Sudut yang lebih besar dari 10 derajat menunjukkan skoliosis.

Baca juga: 3 Komplikasi akibat Skoliosis yang Tak Bisa Disepelekan

Selain itu, dokter juga akan melakukan tes pencitraan, seperti:

  • Rontgen, untuk mengetahui gambaran struktur tulang belakang
  • CT scan, menggunakan sinar X untuk mendapatkan gambar tulang belakang dari berbagai sudut berupa foto tiga dimensi
  • MRI scan, menggunakan gelombang radio dan magnet untuk menghasilkan gambar tulang belakang dan jaringan di sekitarnya secara rinci
  • Bone scan, untuk mengetahui kelainan pada tulang belakang

Perawatan

Mengutip American Association of Neurological Surgeons, penanganan skoliosis akan disesuaikan dengan tingkat keparahan lengkungan tulang belakang.

Dokter juga akan menyesuaikan metode penanganan dengan usia dan jenis skoliosis yang diderita.

Berikut beberapa metode penanganan skoliosis:

  • Observasi

Pada kasus skoliosis ringan atau derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu 25 derajat pada tulang yang masih tumbuh dan 50 derajat pada tulang yang tidak lagi bertumbuh.

Untuk memantau perkembangan derajat kelengkungan, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan setiap empat sampai enam bulan selama masa remaja.

Sedangkan pada orang dewasa, dokter mungkin merekomendasikan untuk melakukan rontgen setiap lima tahun sekali, kecuali jika gejalanya memburuk.

Baca juga: 3 Cara Atasi Nyeri Akibat Skoliosis

  • Orthosis

Dokter akan memasang alat penyangga yang disebut brace jika derajat kelengkungan sekitar 30 sampai 40 derajat.

Penggunaan brace tidak dapat menyembuhkan skoliosis, tetapi dapat mencegah lengkungan tulang belakang semakin memburuk.

  • Operasi

Pada anak-anak, operasi bertujuan untuk menghentikan perkembangan derajat lengkung selama masa dewasa dan untuk mengurangi deformitas tulang belakang.

Kebanyakan ahli akan merekomendasikan operasi jika progresivitas peningkatan derajat pembengkokan lebih besar dari 40 derajat pada anak yang sedang tumbuh.

Sedangkan pada orang dewasa, operasi mungkin direkomendasikan jika derajat pembengkokan lebih dari 50 derajat.

Komplikasi

Dilansir dari Medline Plus, terdapat beberapa komplikasi yang dapat dialami penderita skoliosis, yaitu:

  1. Gangguan jantung dan paru-paru akibat tulang rusuk menekan jantung dan paru-paru
  2. Nyeri punggung kronis
  3. Mengganggu penampilan dan mengurangi kepercayaan diri
  4. Infeksi tulang belakang setelah operasi
  5. Kerusakan saraf tulang belakang akibat kelainan bentuk tulang belakang yang menekan saraf tulang belakang.

Baca juga: Stenosis Spinal (Tulang Belakang)

Pencegahan

Merangkum Cleveland Clinic dan Medline Plus, sebagian besar kasus skoliosis tidak dapat dicegah karena berhubungan dengan kondisi bawaan lahir dan masalah genetik.

Namun, jika skoliosis disebabkan karena penyakit osteoporosis maka terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena osteoporosis, yaitu:

  1. Mengonsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D
  2. Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol
  3. Lakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kekuatan tulang.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.