Kompas.com - 25/04/2022, 11:45 WIB

KOMPAS.com - Penyakit Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif yang mempengaruhi sebagian besar neuron penghasil dopamin atau “dopaminergik” di area spesifik otak yang disebut substantia nigra.

Parkinson dapat mengganggu pergerakan tubuh.

Pada tahap awal penyakit Parkinson, wajah pasien mungkin menunjukkan lebih sedikit atau tanpa ekspresi.

Baca juga: 10 Gejala Awal Parkinson yang Perlu Diwaspadai

 

Gejala lainnya, lengan mungkin tidak berayun saat berjalan. Tutur bicara juga mungkin menjadi lembut atau tidak jelas.

Gejala penyakit Parkinson memburuk seiring dengan perkembangan kondisi pengidap dari waktu ke waktu.

Meskipun penyakit Parkinson tidak dapat disembuhkan, obat-obatan dapat secara signifikan memperbaiki gejala yang muncul.

Terkadang dokter menyarankan operasi untuk mengatur daerah tertentu di otak dan memperbaiki gejala.

Penyebab

Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf tertentu (neuron) di otak secara bertahap rusak atau mati.

Banyak gejala yang disebabkan oleh hilangnya neuron yang menghasilkan kimia pembawa pesan di otak Anda yang disebut dopamin.

Penyebab Parkinson tidak diketahui, tetapi beberapa faktor tampaknya berperan, seperti:

  • Gen
  • Pemicu lingkungan, seperti paparan racun.

Para peneliti juga mencatat bahwa banyak perubahan pada otak orang-orang dengan Parkinson, meskipun tidak jelas mengapa perubahan ini terjadi.

Perubahan tersebut meliputi:

  • Kehadiran tubuh Lewy, gumpalan zat tertentu di dalam sel otak.
  • Alpha-synuclein ditemukan dalam tubuh Lewy. Alpha-synuclein ditemukan di semua badan Lewy dalam bentuk gumpalan yang tidak dapat dipecah oleh sel.

Baca juga: Mengenal gejala Parkinson dan Cara Mengelolanya

Gejala

Tanda dan gejala Parkinson bisa berbeda untuk setiap orang. Tanda-tanda awal mungkin ringan dan tidak disadari.

Gejala sering dimulai di satu sisi tubuh dan cenderung akan memburuk di sisi itu, bahkan setelah gejala mempengaruhi kedua sisi.

Gejala utama penyakit Parkinson antara lain:

  • Tremor atau gemetar, sering saat istirahat atau lelah. Biasanya dimulai dengan satu tangan.
  • Kekakuan otot, dapat membatasi gerakan dan mungkin menyakitkan
  • Perlambatan gerakan, dapat menyebabkan periode pembekuan
  • Postur bungkuk dan masalah keseimbangan.

Stadium

Movement Disorder Society-Unified Parkinson’s Rating Scale (MDS-UPDRS) merupakan alat utama penyedia layanan kesehatan untuk mengklasifikasikan penyakit ini.

MDS-UPDRS memeriksa empat area berbeda tentang bagaimana penyakit Parkinson dapat memengaruhi seseorang:

  1. Bagian 1: Aspek non-motorik dari pengalaman hidup sehari-hari. Bagian ini membahas gejala seperti demensia, depresi, kecemasan, dan masalah terkait kemampuan mental dan kesehatan mental lainnya.
  2. Bagian 2: Aspek motorik dari pengalaman hidup sehari-hari. Bagian ini termasuk kemampuan untuk berbicara, makan, mengunyah dan menelan, berpakaian dan mandi sendiri, jika mengalami tremor dan banyak lagi.
  3. Bagian 3: Pemeriksaan motorik. Kriteria berdasarkan cara berbicara, ekspresi wajah, kekakuan, gaya dan kecepatan berjalan, keseimbangan, kecepatan gerakan, tremor, dan lain-lain.
  4. Bagian 4: Komplikasi motorik. Bagian ini melibatkan pemeriksa untuk menentukan seberapa besar dampak gejala Parkinson yang mempengaruhi hidup pasien. Hal itu termasuk jumlah waktu pasien mengalami gejala tertentu setiap hari, dan apakah gejala itu memengaruhi cara pasien menghabiskan waktu atau tidak.

Baca juga: Mengenal Gejala Inkonsistensia Urine pada Pasien Parkinson

Diagnosis

Diagnosis pada Parkinson cenderung akan melibatkan pemeriksaan fisik dan neurologis yang dilakukan dari waktu ke waktu untuk menilai perubahan refleks, koordinasi, kekuatan otot, dan fungsi mental.

Pasien mungkin perlu menjalani tes pencitraan otak untuk menyingkirkan kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala.

Tes dapat mencakup pemindaian MRI dan CT Scan serta beberapa jenis pemindaian lainnya.

Selain itu, tes darah juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain.

Faktor Risiko

Faktor risiko untuk penyakit Parkinson meliputi:

  • Usia. Orang dewasa muda jarang mengalami Parkinson. Orang biasanya mengembangkan penyakit ini sekitar usia 60 tahun atau lebih.
  • Keturunan. Memiliki kerabat dekat dengan penyakit Parkinson meningkatkan kemungkinan terkena penyakit tersebut. Namun, risikonya masih tergolong kecil.
  • Jenis kelamin. Pria lebih cenderung mengembangkan penyakit Parkinson daripada wanita.
  • Paparan zat beracun. Paparan herbisida dan pestisida yang berkelanjutan dapat sedikit meningkatkan risiko penyakit Parkinson.

 Baca juga: Memahami Kaitan Covid-19 dengan Penyakit Parkinson

Perawatan

Perawatan yang mungkin akan dianjurkan kepada pasien dengan Parkinson antara lain:

  • Obat resep
  • Terapi fisik
  • Terapi okupasi
  • Perawatan tindakan bedah
  • Ganja medis
  • Terapi pelengkap
  • Olahraga
  • Uji klinis.

Komplikasi

Penyakit Parkinson sering disertai dengan masalah tambahan yang mungkin dapat diobati, seperti:

  • Kesulitan berpikir
  • Depresi dan perubahan emosi
  • Masalah menelan
  • Masalah mengunyah dan makan
  • Masalah tidur dan gangguan tidur
  • Masalah kandung kemih
  • Sembelit.

Seseorang juga dapat mengalami:

  • Perubahan tekanan darah
  • Disfungsi bau
  • Kelelahan
  • Rasa sakit
  • Disfungsi seksual.

Pencegahan

Karena penyebab Parkinson tidak diketahui, cara terbukti untuk mencegah penyakit ini juga masih menjadi misteri.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga aerobik secara teratur dapat mengurangi risiko penyakit Parkinson.

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi kafein lebih jarang terkena penyakit Parkinson daripada mereka yang tidak meminumnya.

Teh hijau juga terkait dengan penurunan risiko terkena Parkinson.

Namun saat ini, belum ada cukup bukti untuk menyarankan minum minuman berkafein untuk melindungi dari Parkinson.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.