Kompas.com - 09/09/2021, 10:00 WIB

KOMPAS.com - Kejang merupakan aktivitas listrik abnormal yang terjadi dengan cepat di dalam otak.

Kejang dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran dan tubuh yang bergerak tidak terkendali.

Biasanya, kondisi ini datang secara tiba-tiba dan berlangsung selama waktu yang bervariasi.

Baca juga: Kejang pada Anak: Penyebab, Pertolongan Pertama, Kapan Perlu Waspada

Kejang dapat menjadi tanda dari sebuah kondisi medis yang lebih serius. Dibutuhkan penanganan medis sesegera mungkin jika Anda mengalami kejang.

Jika terjadi secara terus-menerus, kondisi tersebut dinamakan dengan epilepsi atau gangguan kejang.

Melansir WebMD, setidaknya satu dari 10 orang yang mengalami kejang memiliki gangguan epilepsi.

Tipe

Kejang dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu kejang umum dan parsial.

Hal ini berdasarkan bagaimana dan di mana aktivitas otak secara abnormal bermula atau sebagai onset di mana asal mulanya tidak diketahui.

Kejang Umum

  • Kejang tonik-klonik. Tipe kejang paling umum di mana tangan dan kaki terasa kaku. Penderita juga akan merasa kesulitan bernapas. Kepala juga akan bergerak secara tidak terkendali.
  • Kejang petit-mal. Biasanya terjadi pada anak, di mana penderita kehilangan kesadaran selama beberapa detik.
  • Kejang demam. Anak yang memiliki demam tinggi akibat infeksi berpotensi untuk mengalami kejang tipe ini. Kejang demam dapat berlangsung selama beberapa menit, tetapi tidak berbahaya.
  • Spasme infantil. Umum juga disebut dengan west syndrome, yaitu kejang pada bayi yang ditandai dengan kondisi tubuh kaku secara tiba-tiba, lalu ditandai dengan kepala yang condong ke depan. Banyak anak yang mengalami ini kemudian menderita epilepsi.

Baca juga: 20 Penyebab Kejang dan Pertolongan Pertama untuk Penderita

Kejang Parsial (Fokal)

  • Sederhana. Tidak terjadi kehilangan kesadaran pada kejang tipe ini, biasanya berlangsung kurang dari dua menit. Penderita bisa jadi merespons ketika kejang terjadi ataupun tidak.
  • Kompleks. Kejang hingga kehilangan kesadaran, tetapi bagian tubuh tetap bergerak seperti mengecapkan bibir, mengunyah, menggerakkan kaki, atau menghentakkan pinggul.

Gejala

Gejala yang timbul saat kejang terjadi dapat beragam mulai dari ringan hingga berat, tergantung pada jenisnya. Beberapa gejala yang mungkin timbul adalah sebagai berikut.

  • Kebingungan sementara
  • Melotot
  • Gerakan menyentak tidak terkendali pada lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran atau keawasan
  • Gejala kognitif atau emosional, seperti ketakutan, kecemasan, atau deja vu
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Menggigit lidah
  • Menggertakkan gigi
  • Rasa aneh di mulut
  • Mengeluarkan suara aneh seperti merengut
  • Suasana hati berubah secara tiba-tiba

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Beda Kejang dan Epilepsi

Penyebab

Kejang dapat disebabkan dari berbagai kondisi kesehatan. Segala hal yang memengaruhi tubuh dan mengganggu otak dapat menjadi penyebab terjadinya kejang, seperti:

  • penarikan alkohol
  • infeksi otak, seperti meningitis
  • cedera otak saat melahirkan
  • cacat otak sejak lahir
  • tersedak
  • penyalahgunaan narkoba
  • ketidakseimbangan elektrolit
  • sengatan listrik
  • epilepsi
  • tekanan darah tinggi
  • demam
  • trauma kepala
  • gagal ginjal atau hati
  • kadar glukosa darah rendah
  • stroke
  • tumor otak
  • kelainan pembuluh darah pada otak
  • Covid-19

Kejang juga dapat menjadi gangguan yang diturunkan dalam keluarga.

Penderita diharuskan memberi tahu riwayat kesehatan medis diri sendiri dan kerabat dekat jika memiliki riwayat kejang.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Makin Tinggi Suhu Demam Risiko Kejang Kian Besar?

Diagnosis

Dokter akan mencari tahu secara detail tentang sejarah kejang penderita dan melakukan tes neurologis.

Tes ini meliputi kondisi emosional dan kemampuan motorik serta fungsi mental. Beberapa tes lain yang mungkin dilakukan dapat meliputi:

  • tes darah atau lumbal pungsi untuk mengetahui akan adanya infeksi
  • EEG, ditempelnya elektroda ke otak untuk memantau aktivitas listrik di dalamnya
  • tes pencitraan seperti MRI, CT, atau pemindaian PET untuk mencari adanya masalah di otak

Jika kejang yang dialami berlangsung sering, dokter mungkin akan melakukan tes dengan memasukkan elektroda ke dalam otak lewat lubang kecil di tengkorak.

Langkah ini juga bisa menjadi bagian pertama dalam operasi epilepsi.

Perawatan

Perawatan untuk kejang tergantung pada penyebabnya. Dengan mengobati penyebabnya, penderita dapat mencegah kejang yang akan datang.

Pilihan pengobatan untuk epilepsi, yaitu:

  • obat-obatan
  • operasi untuk memperbaiki gangguan pada otak
  • stimulasi saraf
  • diet khusus, seperti ketogenik

Baca juga: Juice Wrld Meninggal, Bisakah Kejang Sebabkan Kematian?

Jika dilakukan secara teratur, gejala kejang dapat berkurang atau bahkan berhenti.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.