Kompas.com - 29/11/2021, 14:00 WIB

KOMPAS.com - Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur merupakan kondisi yang terjadi ketika Anda memasuki tahap transisi dari terjaga ke tidur.

Kondisi ini yang mungkin menyebabkan Anda tidak dapat bergerak, berbicara, merasa tekanan, atau tersedak selama beberapa detik hingga menit.

Di Indonesia, kondisi ini sering kali disebut sebagai ketindihan yang diidetikkan dengan fenomena mistis atau klenik.

Baca juga: Fakta Medis Ketindihan, Bukan karena Makhluk Halus

Meskipun bukan kondisi berbahaya, kelumpuhan tidur dapat mengganggu kualitas hidup Anda akibat gangguan tidur kronis.

Penyebab

Kelumpuhan tidur umumnya disebabkan oleh terputusnya hubungan antara pikiran dengan tubuh yang terjadi saat tidur.

Oleh karena itu, Anak-anak dan orang dewasa dari segala usia dapat mengalami kelumpuhan tidur.

Melansir Healthline, berikut faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan kelumpuhan tidur, meliputi:

  • Kebersihan tidur yang buruk
  • Tidak memiliki jadwal tidur di waktu yang sama setiap harinya
  • Menderita gangguan tidur
  • Memiliki jadwal tidur yang terganggu.

Faktor risiko

Tidur telentang maupun kurang tidur dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengalami kelumpuhan tidur.

Selain itu, melansir WebMD, terdapat kelompok tertentu yang berisiko lebih tinggi mengalami kelumpuhan tidur daripada yang lain seperti:

  • Gangguan kecemasan
  • Depresi
  • Kondisi mental seperti stres atau gangguan bipolar
  • Masalah tidur lainnya seperti narkolepsi atau insomnia
  • Penggunaan obat-obatan tertentu.

Baca juga: Penyebab Ketindihan dan Cara Menghindarinya

Gejala

Kelumpuhan tidur bukanlah keadaan darurat medis. Namun, mengenali gejalanya dapat memberikan ketenangan pikiran untuk Anda.

Pada dasarnya, karakteristik umum dari kelumpuhan tidur adalah ketidakmampuan untuk bergerak atau berbicara selama beberapa waktu.

Melansir Healthline, Anda mungkin juga mengalami gejala kelumpuhan tidur sebagai berikut:

  • Merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendorong Anda ke bawah
  • Merasa seperti seseorang atau sesuatu ada di dalam ruangan bersama Anda
  • Merasa takut dan cemas
  • Pengalaman Hypnagogic and Hypnopompic (HHEs) yang digambarkan sebagai halusinasi selama, sebelum, atau setelah tidur
  • Merasa seolah-olah kamu akan mati.

Saat mengalami gejala di atas, kemungkinan juga akan disertai dengan gejala lainnya seperti:

  • Kesulitan bernapas
  • Berkeringat
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Paranoid.

Kondisi ini dapat berakhir dengan sendirinya atau ketika terbangun karena orang lain menyentuh atau menggerakkan tubuh Anda.

Diagnosis

Segera periksakan diri Anda dengan dokter jika memiliki salah satu dari masalah berikut:

Baca juga: Kelumpuhan Tidur: Penyebab dan Cara Mengatasinya

  • Merasa cemas tentang gejala Anda
  • Gejala membuat Anda sangat lelah di siang hari
  • Gejala membuat Anda terjaga di malam hari.

Berdasarkan WebMD, diagnosis kelumpuhan tidur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Diskusi mengenai gejala yang Anda rasakan selama beberapa waktu
  • Diskusi mengenai riwayat kesehatan
  • Melakukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis tidur
  • Melakukan studi tidur malam atau studi tidur siang untuk memastikan Anda tidak memiliki gangguan tidur lainnya.

Perawatan

Pada dasarnya, tidak selalu kondisi ini memerlukan pengobatan medis.

Namun, dokter akan memberikan jenis perawatan yang tepat untuk mengatasi kondisi yang mendasari terjadinya kelumpuhan tidur.

Menurut WebMD, perawatan kelumpuhan tidur mungkin termasuk:

  • Memperbaiki kebiasaan tidur dengan memastikan Anda tidur enam hingga delapan jam setiap malam
  • Resep obat antidepresan untuk membantu mengatur siklus tidur
  • Resep obat untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang dapat menyebabkan kelumpuhan tidur
  • Resep obat untuk mengatasi gangguan tidur lainnya, seperti narkolepsi atau insomnia.

Baca juga: Sleep Texting

Pencegahan

Dilansir dari Healthline, Anda dapat meminimalkan gejala atau frekuensi kelumpuhan tidur dengan beberapa perubahan gaya hidup sederhana, seperti:

  • Kurangi dan kelola stres
  • Berolahraga secara teratur
  • Istirahat yang cukup
  • Pertahankan jadwal tidur yang teratur
  • Ketahui efek samping dan interaksi berbagai obat yang Anda gunakan
  • Tidur miring dan hindari tidur telentang
  • Melakukan terapi, konseling trauma, yoga, atau latihan pernapasan.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.