Kompas.com - 30/11/2021, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Salah satu pandemi yang pernah terjadi pada tahun 2009 adalah flu babi.

Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus influenza H1N1. Penyakit ini disebut dengan flu babi karena pada awalnya virus ini menyerang babi.

Infeksi virus influenza H1N1 pertama kali ditemukan di Meksiko pada April 2009 dan terus ditemukan pada berbagai negara di seluruh dunia.

Baca juga: Mengenal Flu, Gejala hingga Komplikasi yang Bisa Sebabkan Kematian

Oleh karena itu pada Juni 2009, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keadaan pandemi global dan berakhir pada Agustus 2010.

Virus influenza H1N1 dapat menular dengan cepat dan lebih mudah menular pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Flu babi menular ketika orang sehat menghirup droplet atau percikan cairan saluran pernapasan seseorang yang terinfeksi saat bersin atau batuk.

Penyakit ini menimbulkan gejala yang serupa dengan flu biasa, seperti bersin, demam, hidung tersumbat, batuk, dan mata merah.

Gejala

Merangkum Mayo Clinic dan Family Doctor, gejala flu babi umumnya akan muncul sekitar 3 sampai 5 hari setelah terpapar virus.

Gejala flu babi hampir mirip dengan flu biasa sehingga cukup sulit untuk membedakan kedua penyakit ini. Gejala flu babi di antaranya:

  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Nyeri otot
  • Pegal-pegal
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Pilek atau hidung tersumbat
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Mata merah dan berair.

Baca juga: Ditemukan Virus H10N3, Apakah akan Memicu Pandemi?

Selain itu, flu babi juga dapat menimbulkan gejala neurologis, terutama pada anak-anak. Meskipun kondisi ini tergolong langka, tetapi dapat berakibat fatal.

Gejala-gejala tersebut, meliputi:

  • Sesak napas
  • Demam yang disertai ruam pada kulit
  • Kebingungan atau linglung
  • Kejang.

Penyebab

Dirangkum dari Mayo Clinic dan Healthline, flu babi disebabkan oleh virus influenza H1N1 dan akan menginfeksi sel-sel yang melapisi hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Manusia dapat terinfeksi virus tersebut ketika menghirup droplet (percikan) air liur atau ingus yang dapat menyebar melalui:

  • Bersin
  • Batuk
  • Menyentuh permukaan yang terpapar virus lalu menyentuh mata atau hidung.

Meskipun demikian, mengonsumsi daging babi tidak akan menyebabkan seseorang terinfeksi virus penyebab flu babi.

Faktor risiko

Menurut WebMD, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya komplikasi dan memperparah gejala yang dirasakan akibat flu babi, yakni:

Baca juga: Berapa Orang yang Harus Divaksin Agar Pandemi Berakhir?

  1. Berusia di bawah 5 tahun atau di atas 65 tahun
  2. Menjalani pengobatan yang menggunakan aspirin jangka panjang, terutama jika berusia di bawah 18 tahun
  3. Sedang hamil
  4. Menderita penyakit kronis, seperti asma, penyakit jantung, hati, atau gangguan sistem saraf
  5. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti karena menderita HIV/AIDS.

Diagnosis

Dirangkum dari Verywell Health dan Mayo Clinic, selain melakukan anamnesis mengenai gejala yang dirasakan dan pemeriksaan fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Rapid test

Menggunakan alat khusus untuk mendeteksi keberadaan influenza H1N1 dengan cara yang lebih cepat meski memiliki tingkat akurasi yang lebih rendah dari tes lainnya.

Tes ini bisa saja memunculkan hasil tes negatif karena ada jenis virus flu tertentu dalam tubuh sehingga perlu analisis lebih lanjut untuk memastikan jenis virus influenza.

  • Tes Polymerase Chain Reaction (PCR)

Pemeriksaan yang juga digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus Corona ini juga dapat mendeteksi keberadaan virus penyebab flu babi atau jenis flu lainnya.

Namun, dokter akan menganjurkan pemeriksaan tersebut apabila penderita:

  1. Sudah menjalani rawat inap di rumah sakit
  2. Berisiko tinggi mengalami komplikasi akibat flu
  3. Tinggal serumah dengan seseorang yang berisiko tinggi mengalami komplikasi flu.

Baca juga: Kenapa Vaksin Influenza Penting di Masa Pandemi Corona?

Perawatan

Mengutip dari Healthline, penanganan flu babi akan disesuaikan dengan gejala dan tingkat keparahan yang dialami oleh penderita.

Umumnya, flu babi dapat sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan penanganan medis apabila penderita memiliki tubuh yang sehat.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan gejala:

  1. Beristirahat dengan cukup, hal ini dapat membantu kinerja sistem kekebalan tubuh untuk fokus melawan virus selama penderita tidur
  2. Minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi
  3. Mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas untuk meredakan gejala, seperti sakit kepala dan sakit tenggorokan

Namun, jika kondisi penderita memburuk atau berisiko mengalami komplikasi akibat flu maka penanganan medis wajib dilakukan.

Obat antivirus oseltamivir dan zanamivir dapat diresepkan oleh dokter, terutama pada penderita yang berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi akibat flu.

Komplikasi

Dilansir dari Mayo Clinic, flu babi dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Memburuknya kondisi penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan asma
  2. Pneumonia atau peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi
  3. Gangguan saraf, mulai dari penurunan kesadaran hingga kejang
  4. Gagal napas.

Baca juga: Meski Pandemi, Orangtua Wajib Berikan Imunisasi Rutin untuk Anak

Pencegahan

Mengutip Family Doctor, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah flu babi, di antaranya:

  1. Melakukan vaksinasi flu setiap tahunnya bagi siapa pun yang berusia lebih dari enam bulan
  2. Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan ketika batuk atau bersin
  3. Buang tisu bekas bersin atau batuk ke tempat sampah
  4. Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol
  5. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut, terutama ketika tangan dalam keadaan kotor
  6. Hindari melakukan kontak langsung dengan penderita flu babi
  7. Gunakan masker saat bepergian atau berada di tempat ramai
  8. Hindari pinjam meminjam barang pribadi kepada orang lain, seperti alat kecantikan atau make up, peralatan makan, atau peralatan mandi
  9. Tetap berada di rumah ketika sedang sakit.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.